Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Robot Selam Cerdas "Smart Grapple" Kembangkan Cara Baru Bersihkan Sampah Laut Secara Otomatis

Thalatie K Yani
25/11/2025 09:11
Robot Selam Cerdas
Tim peneliti Jerman mengembangkan Smart Grapple, robot selam otonom yang mampu mendeteksi dan mengangkat sampah laut menggunakan AI. (TUM)

SAMPAH laut telah menjadi masalah lingkungan yang mendesak. Peralatan memancing yang ditinggalkan, kontainer rusak, hingga plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat membahayakan ekosistem dan berpotensi masuk ke rantai makanan. Sebuah studi memperkirakan sekitar 32 juta ton plastik menumpuk di lautan pada 1950-2020. Jumlah itu diprediksi meningkat menjadi 76 juta ton pada 2040 jika tidak ada tindakan efektif.

Menjawab tantangan ini, tim peneliti dan mahasiswa dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, mengembangkan robot selam otonom bernama Smart Grapple. Robot ini dirancang untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengangkat sampah dari dasar laut secara mandiri.

Smart Grapple menggunakan sistem AI untuk mengenali sampah melalui kamera bawah air atau sonar ketika kondisi air keruh. Setelah objek terdeteksi, robot akan mencengkeramnya dengan tangan mekanis berkekuatan tinggi yang memiliki empat jari. Alat tersebut mampu mengangkat barang berukuran hingga satu meter dan berbobot sekitar 250 kilogram.

Robot setinggi 115 cm dengan diameter 70 cm ini terhubung ke kapal kecil otonom melalui kabel yang menyalurkan daya sekaligus membantu mengangkat benda berat. “Kami dapat menggunakan kabel seperti kabel derek, sehingga winch dapat menarik sistem ke atas, lebih efisien daripada robot kecil mencoba mengangkat benda berat dengan berenang,” ujar Stefan Sosnowski, kepala tim riset TUM.

Setelah sampah berhasil diangkat, robot akan membawanya ke permukaan. Sampah akan diletakan di kapal otonom yang bertugas mengangkutnya ke daratan untuk didaur ulang.

Teknologi ini merupakan bagian dari proyek Uni Eropa SeaClear 2.0, yang melibatkan 13 institusi di Eropa. Proyek ini bertujuan memetakan dan mengumpulkan sampah laut menggunakan sistem robot tanpa awak. Bart De Schutter, koordinator proyek, menilai teknologi otonom akan memperluas jangkauan pembersihan bawah laut. “Saat ini sebagian besar pembersihan dilakukan penyelam. Mereka tidak bisa bekerja 24/7, dan jumlah penyelam profesional juga terbatas,” ujarnya.

Meski begitu, Sosnowski menegaskan teknologi ini bukan solusi tunggal. “Kita tidak bisa terus mencemari laut dan berharap robot menyelesaikannya. Namun di area tertentu seperti pelabuhan atau kawasan konservasi, sistem robotik akan sangat membantu,” katanya.

Hingga kini, Smart Grapple sudah berhasil diuji coba di Pelabuhan Marseille (Prancis) dan Pelabuhan Hamburg (Jerman), dengan keberhasilan mengangkat beragam sampah mulai dari jok mobil hingga saputangan utuh. Proyek ini diperkirakan siap untuk penggunaan skala luas pada 2030-2033. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya