Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMPAH laut telah menjadi masalah lingkungan yang mendesak. Peralatan memancing yang ditinggalkan, kontainer rusak, hingga plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat membahayakan ekosistem dan berpotensi masuk ke rantai makanan. Sebuah studi memperkirakan sekitar 32 juta ton plastik menumpuk di lautan pada 1950-2020. Jumlah itu diprediksi meningkat menjadi 76 juta ton pada 2040 jika tidak ada tindakan efektif.
Menjawab tantangan ini, tim peneliti dan mahasiswa dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, mengembangkan robot selam otonom bernama Smart Grapple. Robot ini dirancang untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengangkat sampah dari dasar laut secara mandiri.
Smart Grapple menggunakan sistem AI untuk mengenali sampah melalui kamera bawah air atau sonar ketika kondisi air keruh. Setelah objek terdeteksi, robot akan mencengkeramnya dengan tangan mekanis berkekuatan tinggi yang memiliki empat jari. Alat tersebut mampu mengangkat barang berukuran hingga satu meter dan berbobot sekitar 250 kilogram.
Robot setinggi 115 cm dengan diameter 70 cm ini terhubung ke kapal kecil otonom melalui kabel yang menyalurkan daya sekaligus membantu mengangkat benda berat. “Kami dapat menggunakan kabel seperti kabel derek, sehingga winch dapat menarik sistem ke atas, lebih efisien daripada robot kecil mencoba mengangkat benda berat dengan berenang,” ujar Stefan Sosnowski, kepala tim riset TUM.
Setelah sampah berhasil diangkat, robot akan membawanya ke permukaan. Sampah akan diletakan di kapal otonom yang bertugas mengangkutnya ke daratan untuk didaur ulang.
Teknologi ini merupakan bagian dari proyek Uni Eropa SeaClear 2.0, yang melibatkan 13 institusi di Eropa. Proyek ini bertujuan memetakan dan mengumpulkan sampah laut menggunakan sistem robot tanpa awak. Bart De Schutter, koordinator proyek, menilai teknologi otonom akan memperluas jangkauan pembersihan bawah laut. “Saat ini sebagian besar pembersihan dilakukan penyelam. Mereka tidak bisa bekerja 24/7, dan jumlah penyelam profesional juga terbatas,” ujarnya.
Meski begitu, Sosnowski menegaskan teknologi ini bukan solusi tunggal. “Kita tidak bisa terus mencemari laut dan berharap robot menyelesaikannya. Namun di area tertentu seperti pelabuhan atau kawasan konservasi, sistem robotik akan sangat membantu,” katanya.
Hingga kini, Smart Grapple sudah berhasil diuji coba di Pelabuhan Marseille (Prancis) dan Pelabuhan Hamburg (Jerman), dengan keberhasilan mengangkat beragam sampah mulai dari jok mobil hingga saputangan utuh. Proyek ini diperkirakan siap untuk penggunaan skala luas pada 2030-2033. (CNN/Z-2)
Kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dipandang penting untuk mengatasi sampah laut.
Adapun penelitian bersama akan membahas kolaborasi internasional di bidang teknologi dan inovasi manajemen sampah plastik yang rencananya diterbitkan melalui ASEAN Briefs.
KAWASAN Pantai Pede di Desa Gorontalo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kian tidak tertata dan menjadi pantai terjorok di Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo.
SAMPAH laut yang jumlahnya terus meningkat dapat menghambat proses produksi oksigen atau fotosintesis di laut dengan kata lain, bumi terancam krisis oksigen.
Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan 8,32 ton sampah masuk Teluk Jakarta setiap hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved