Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Antariksa Eropa (ESA) menargetkan tujuan jangka panjang untuk mengirim wahana antariksa ke Enceladus, salah satu bulan Saturnus yang diselimuti es. Misi ini ditargetkan untuk menjawab pertanyaan penting soal potensi kehidupan sekaligus mendorong pengembangan teknologi baru.
Enceladus menjadi sorotan sejak wahana Cassini milik NASA menemukan semburan es air dari wilayah kutub selatannya. Temuan ini menandakan adanya aktivitas geologi dan samudra air cair di bawah permukaan es. Kondisi tersebut membuka peluang adanya lingkungan yang bisa mendukung kehidupan.
Misi ke Enceladus masuk dalam program jangka panjang ESA bernama Voyage 2050. Rencana ini diumumkan pada awal September dalam pertemuan Europlanet Science Congress (EPSC) dan Division for Planetary Sciences (DPS) di Helsinki.
Meski masih dalam tahap awal, misi ini akan melibatkan orbiter untuk meneliti semburan di kutub selatan dan lander untuk pendaratan langsung. Kajian awal menyebutkan wahana akan diluncurkan lewat dua roket Ariane 6 varian terbesar, kemudian bergabung di orbit Bumi sebelum berangkat menuju Saturnus.
Misi ini membutuhkan persetujuan dalam pertemuan menteri ESA di Bremen, Jerman, pada November mendatang. Jika disetujui, tahap perencanaan dimulai hingga misi diadopsi pada 2034, diluncurkan sekitar 2042, dan tiba di sistem Saturnus pada 2053. Wahana akan mulai melakukan tur Enceladus dan bulan-bulan lain, mengumpulkan sampel semburan, serta mempersiapkan pendaratan sekitar 2058.
Menurut Jörn Helbert dari European Space Research and Technology Centre (ESTEC), sejak Maret lalu tim ESA telah bekerja dengan kelompok ahli untuk memperjelas tujuan ilmiah dan mengidentifikasi teknologi kunci. Beberapa fokusnya mencakup kemampuan perakitan di orbit, teknologi pendaratan, operasi di lingkungan ekstrem, dan instrumen ilmiah baru. ESA menilai teknologi ini juga akan bermanfaat luas di luar program sains antariksa.
Helbert menegaskan, Enceladus memiliki tiga faktor penting yang diperlukan bagi kehidupan: keberadaan air cair, sumber energi, serta unsur kimia tertentu. Namun, untuk memastikan ada tidaknya kehidupan di bawah lapisan es Enceladus, diperlukan puluhan tahun penelitian, inovasi, dan persiapan sumber daya.
Jika berhasil, misi Enceladus bukan hanya membuka peluang penemuan luar biasa tentang kehidupan di luar Bumi, tetapi juga menjadi tonggak penting bagi kemampuan teknologi antariksa Eropa di masa depan. (Space.com/Z-10)
Batu itu belakangan dikonfirmasi sebagai kaolinit, jenis mineral kaya aluminium yang pada umumnya terbentuk melalui proses pelapukan panjang di tempat yang hangat dan sangat lembap
Fenomena ini sering membuat kita bertanya-tanya, apakah waktu memang benar-benar berubah, atau hanya cara kita merasakannya yang berbeda.
Saat Matahari mati dan berubah menjadi katai putih, zona layak huni baru bisa terbentuk di sekitarnya.
Penelitian terbaru dengan data NASA Dawn mengungkap planet kerdil Ceres kemungkinan pernah layak huni miliaran tahun lalu.
Kawah Anders’ Earthrise di Bulan digunakan wahana JUICE ESA untuk uji radar RIME sebelum menjelajah bulan-bulan es Jupiter demi mencari tanda kehidupan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved