Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
MENURUT Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia, adopsi kecerdasan artifisial (AI) berpotensi menyumbang hingga US$366 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, namun hanya jika teknologi ini benar-benar terintegrasi ke dalam suatu sistem nyata dan didukung oleh talenta digital terbaik.
Artificial Intelligence Institute for Progress (AIIP) resmi meluncurkan batch kedua, melanjutkan misi mereka untuk menjembatani teknologi AI dengan kebutuhan nyata dan menghadirkan solusi yang berdampak bagi lintas sektor.
Lahir pada 2024, melalui kolaborasi Alpha JWC Ventures dan Pijar Foundation, AIIP hadir untuk memastikan terobosan AI bisa diadopsi secara nyata, sekaligus mencetak talenta yang mampu mendukung pengimplementasiannya di sektor publik maupun swasta.
Batch pertama AIIP diikuti oleh 15 startup AI potensial yang dibagi dalam dua track— Playground untuk perusahaan AI tahap awal dan Sandbox untuk perusahaan yang lebih siap menjangkau pasar — serta menjalin kemitraan dengan enam institusi publik dan swasta besar, termasuk Siloam Hospitals, LAN RI, G-Tech Digital Asia, Nusantara, Hi-Bank, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Model integrasi awal ini, yang memasangkan startup dengan mitra institusional sejak awal, terbukti sangat efektif.
Hasilnya terlihat jelas: berbagai program percontohan (pilot project) diluncurkan lintas sektor, sejumlah startup bahkan memperoleh pendanaan lanjutan, contohnya perusahaan Whale berhasil menutup pendanaan sebesar US$60 juta.
Startup lain yang juga mendapatkan pendanaan termasuk Sembuh.AI, Covena, dan SPUN, menegaskan peran program ini sebagai landasan bagi startup AI yang siap memberi dampak nyata.
Covena, yang berkolaborasi dengan MAP melalui G-Tech Digital Asia di Batch 1, merasakan dampak langsung dari AIIP.
“Kami datang dengan produk yang kuat, tetapi AIIP mendorong kami untuk berpikir lebih dari sekadar teknis,” ujar Co-Founder & CEO Covena Marvel Gomulya. “Bekerja sama dengan grup ritel besar membantu kami memahami realitas operasional di balik implementasi AI, mulai dari penyelarasan pemangku kepentingan hingga memastikan customer experience yang baik.”
Dalam pilot project ini, Covena meluncurkan asisten belanja berbasis AI yang mampu mengenali preferensi gaya pengguna dan memberi rekomendasi personal, lengkap dengan fitur virtual try-on dan FAQ dinamis. Proyek ini menunjukkan masa depan ritel, di mana AI memperkuat, bukan menggantikan, interaksi manusia.
Tahun ini, program difokuskan pada kelompok yang lebih kecil: 9 startup yang dipilih berdasarkan kesiapan untuk melakukan scale-up dan dipasangkan dengan mitra korporasi yang relevan. Fokusnya adalah pada integrasi jangka panjang, memastikan solusi AI benar-benar berakar pada kebutuhan nyata dan berlanjut melampaui tahap uji coba.
“Tujuan kami sederhana: AI memiliki nilai jika bisa diterapkan di dunia nyata,” kata Program Director AIIP Ray Frederick Djajadinata. “Dari batch pertama, kami belajar menjembatani inovasi awal dengan adopsi institusional. Batch 2 memberi kesempatan untuk menggali lebih dalam dengan penyelarasan yang lebih kuat dan eksekusi lebih fokus.”
Kurikulum Batch 2 kini memisahkan jalur teknis dan go-to-market, serta menghadirkan sesi terstruktur antara startup dan mitra korporasi, mulai dari validasi masalah hingga perencanaan pilot. Fokusnya sederhana: memastikan solusi AI yang ditawarkan relevan, praktis, dan benar-benar bisa digunakan perusahaan.
Tahun ini, AIIP kembali mendapat dukungan dari sponsor utama, TikTok Shop by Tokopedia dan AWS.
“Kami bangga bisa kembali mendukung AIIP,” kata CTO Tokopedia Herman Widjaja.
“Program ini penting untuk memberdayakan inovator lokal agar ide mereka bisa berkembang menjadi solusi nyata dan skalabel,” ujar Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia.
Tiap batch memberi pelajaran baru dan membangun kepercayaan untuk melahirkan solusi berkelanjutan. Batch 2 berlangsung hingga November 2025, dengan hasil yang akan dibagikan ke publik pada akhir tahun. (Z-1)
Banyak bisnis masih kesulitan mengadopsi AI karena prosesnya rumit, hasilnya tidak selalu akurat, dan sering kali tidak sesuai dengan karakter brand.
PENELITIAN IDC menunjukkan bahwa meskipun organisasi menjalankan rata-rata 23 uji coba konsep AI generatif antara 2023 dan 2024, hanya tiga di antaranya yang mencapai tahap produksi.
AI diposisikan sebagai alat bantu pedagogis untuk merancang bahan ajar yang personal, kontekstual dan adaptif, bukan sekadar "jalan pintas"
Pelajari tren AI terbaru, penerapannya di berbagai bidang, serta dampak positif dan tantangan kecerdasan buatan di era digital.
Model AI baru bernama HRM meniru cara kerja otak manusia dan berhasil mengalahkan ChatGPT, Claude, hingga Deepseek dalam tes penalaran ARC-AGI.
Banyak bisnis masih kesulitan mengadopsi AI karena prosesnya rumit, hasilnya tidak selalu akurat, dan sering kali tidak sesuai dengan karakter brand.
PENELITIAN IDC menunjukkan bahwa meskipun organisasi menjalankan rata-rata 23 uji coba konsep AI generatif antara 2023 dan 2024, hanya tiga di antaranya yang mencapai tahap produksi.
Anthropic mengungkap AI Claude disalahgunakan peretas, termasuk Korea Utara, untuk serangan siber, pencurian data, hingga penipuan kerja jarak jauh.
Deadbot AI hadirkan avatar digital dari orang yang sudah meninggal. Teknologi ini membuka peluang bisnis besar, tapi juga menimbulkan kontroversi etika.
ChatGPT bukan pengganti terapis. Simak 4 alasan mengapa AI berisiko jika dijadikan tempat curhat masalah kesehatan mental.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved