Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI menyambut bulan Oktober dengan kejutan, melepaskan dua lontaran flare kuat dalam waktu lebih dari 24 jam. Terbaru kedua ialah flare matahari X, yang merupakan jenis terkuat. Kekuatan lontarannya X7.1 pada skala klasifikasi flare. Flare ini mencapai puncaknya pada Selasa (1 Oktober) pukul 18:20 EDT (2220 GMT).
Menurut Spaceweather.com, flare ini adalah salah satu yang paling signifikan dalam Siklus Matahari 25 saat ini, menempati peringkat kedua terbesar setelah flare X8.7 yang terjadi pada 14 Mei.
Kemungkinan terjadi kehilangan sebagian atau seluruh sinyal radio frekuensi tinggi (HF) akibat lontaran ini di bagian-bagian Bumi yang terkena sinar Matahari, termasuk di sebagian wilayah Belahan Barat, Samudra Pasifik, Australia, dan Asia-Pasifik.
Baca juga : Bumi Tidak Mengorbit Matahari Secara Langsung, Ini Penjelasannya Menurut NASA
Sebuah lontaran massa koronal (CME), letusan besar plasma matahari, terkait dengan flare X7.1. CME tersebut mengarah ke Bumi dan diperkirakan akan menghantam planet kita pada Jumat (4/10), kemungkinan memicu badai geomagnetik yang dapat memperkuat tampilan aurora.
Ketika badai ini terjadi, medan magnet Bumi akan terguncang, yang dapat mempengaruhi tidak hanya aurora, tetapi juga sistem navigasi, jaringan listrik, bahkan komunikasi satelit. Semakin kuat badai tersebut, semakin tinggi nilainya pada skala badai geomagnetik, dan semakin dramatis efeknya.
Flare pada Selasa meletus dari bintik matahari AR3842. Pada hari Senin (30 September), bintik matahari yang sama melepaskan flare M7.6. Flare kelas M adalah yang terkuat kedua setelah X, yang 10 kali lebih kuat. Flare ini terjadi pada pukul 19:59 EDT (2359 GMT) dan menyebabkan sebagian Samudra Pasifik mengalami pemadaman radio gelombang pendek.
Peramal cuaca dari Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA AS tidak menyebutkan adanya CME yang mengarah ke Bumi dari flare tersebut dalam diskusi prediksi mereka. (Space/Z-3)
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Wilayah aktif AR 14098 memicu enam flare Matahari kelas X dalam kurang dari 96 jam pada awal Februari 2026. NASA memantau dampaknya terhadap cuaca antariksa dan satelit.
Studi terbaru mengungkap posisi otak astronot bergeser ke atas dan ke belakang setelah misi luar angkasa.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari mixvale.com, instrumen SPHEREx merekam data dalam 102 panjang gelombang inframerah.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
NASA merilis citra terbaru Hubble yang mengungkap Nebula Telur, fase langka sebelum nebula planet terbentuk. Fenomena kosmik ini terjadi 1.000 tahun cahaya dari Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved