Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Di Bawah Bayang-Bayang Perang: Perjuangan Timnas Wanita Iran di Piala Asia Berakhir

Akmal Fauzi
08/3/2026 22:14
Di Bawah Bayang-Bayang Perang: Perjuangan Timnas Wanita Iran di Piala Asia Berakhir
Timnas Sepak Bola Wanita Iran(AFP)

TIM nasional sepak bola wanita Iran menutup perjalanan mereka di Piala Asia dengan momen emosional di Stadion Gold Coast, Australia. Berbeda dengan laga pembuka, kali ini para pemain ikut bernyanyi dan memberi hormat saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Perubahan sikap ini terjadi hanya enam hari setelah aksi bungkam mereka viral dan memicu kemarahan pemerintah Iran, hingga mereka dicap sebagai "pengkhianat masa perang" oleh media pemerintah.

Nasib para pemain kini menjadi perhatian serius para aktivis kemanusiaan, terutama setelah Iran tersingkir dari babak grup turnamen menyusul kekalahan 2-0 dari Filipina. Perjalanan mereka di Australia memang diwarnai ketegangan politik. Tepat saat turnamen dimulai, serangan udara besar-besaran diluncurkan oleh AS dan Israel ke Iran yang menewaskan ribuan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Tekanan mental terlihat jelas pada raut wajah para pemain. Setelah aksi diam mereka di laga pertama melawan Korea Selatan, presenter TV pemerintah Iran, Mohammad Reza Shahbazi, melontarkan kritik tajam dan menyebut tindakan mereka sebagai "puncak kehinaan". Ketika para pemain akhirnya memilih untuk bernyanyi pada laga berikutnya, muncul kekhawatiran bahwa mereka melakukannya karena adanya intimidasi dari pengawas pemerintah.

Desakan Perlindungan Suaka

Kondisi ini memicu gelombang dukungan di Australia. Sebuah petisi di Change.org telah mengumpulkan lebih dari 51.000 tanda tangan, mendesak Pemerintah Australia untuk menjamin keamanan para pemain. Petisi tersebut menekankan bahwa dalam situasi perang, siapa pun yang dianggap tidak setia oleh rezim Iran menghadapi risiko penjara atau penganiayaan.

Aktivis Iran-Australia, Tina Kordrostami, menegaskan pentingnya ruang aman bagi para atlet ini. Kepada surat kabar The Australian, ia menyatakan bahwa para pemain "membutuhkan kesempatan, ruang aman, dan peluang untuk benar-benar menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan serta persyaratan mereka." Ia juga menambahkan, "Kami tidak bisa memberikan ruang tersebut kepada mereka tanpa bantuan dari pemerintah."

Dukungan juga datang dari level diplomatik. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengaku tersentuh dengan kehadiran tim Iran. Terkait prospek kepulangan mereka ke negara yang tengah bergejolak, Wong berujar: "Saya ingin menyampaikan mengenai tim wanita Iran bahwa sungguh sangat menyentuh bagi warga Australia melihat mereka berada di Australia."

Wong juga menyoroti momen haru saat para pemain Australia bertukar jersey dengan tim Iran sebagai "momen yang sangat menggugah perasaan" yang menurutnya "berbicara tentang solidaritas dan bagaimana olahraga dapat menyatukan kita." Secara tegas, ia menambahkan: "Kita tahu rezim ini telah menindas banyak wanita Iran dengan kejam. Jelas sekali, ini adalah rezim yang kita tahu telah menindak rakyatnya sendiri dengan sangat brutal."

Kini, setelah tersingkir di dasar klasemen Grup A, masa depan skuad wanita Iran masih diselimuti ketidakpastian. Organisasi pemain dunia FIFPRO pun telah mendesak FIFA dan AFC untuk memastikan keselamatan mereka dari ancaman persekusi saat kembali ke tanah air. (P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya