Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI klub dengan kekayaan masuk 10 besar di Eropa, jatuh ke kasta kedua atau Championship seharusnya menjadi kemustahilan. Namun, dengan sembilan laga tersisa dan hanya unggul satu poin dari zona merah, Tottenham Hotspur kini menghadapi horor finansial yang nyata.
Berdasarkan laporan investasi klub UEFA, Spurs meraup pendapatan sebesar £690 juta (sekitar Rp13,8 triliun) tahun lalu. Namun, analisis BBC Sport memprediksi pendapatan tersebut akan merosot tajam hingga £261 juta (sekitar Rp5,2 triliun) jika skenario terburuk degradasi benar-benar terjadi.
Salah satu sumber kerugian terbesar berasal dari tiket pertandingan. Dengan stadion megah senilai £1 miliar, Spurs rata-rata mematok harga £76 per penggemar. Angka ini sulit dipertahankan jika lawan yang dihadapi adalah tim dari kasta bawah. Okupansi kursi hospitality dan paket korporat yang selama ini menjadi mesin uang dipastikan akan anjlok.
Sektor hak siar juga akan terjun bebas. Spurs akan kehilangan akses ke kontrak siaran global Liga Premier Inggris yang sangat menggiurkan. Selain itu, pemasukan puluhan juta poundsterling dari Liga Champions akan hilang total, kecuali jika mereka mampu menjuarai turnamen tersebut musim ini.
"Bagi klub dengan ambisi dan skala finansial seperti Spurs, degradasi bukan sekadar kemunduran olahraga jangka pendek. Ekonomi sepak bola Inggris akan membuat proses pemulihan menjadi proyek multitahun," ujar pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire.
Meskipun ada laporan gaji pemain akan dipotong otomatis sebesar 50% saat degradasi, hal itu belum cukup menutup lubang kerugian. Masalah utamanya adalah biaya operasional yang tetap tinggi.
Biaya utilitas, transportasi, hingga gaji 877 karyawan tetap tidak akan berkurang hanya karena level kompetisi menurun. Biaya listrik untuk menyalakan stadion di malam hari saat melawan tim divisi bawah tetap sama mahalnya dengan saat menjamu klub papan atas.
Mantan bintang Spurs, Gareth Bale, menilai krisis ini adalah buah dari keengganan klub mengambil risiko finansial di masa lalu. Meski dipuji karena tata kelola keuangan yang berkelanjutan, Spurs dianggap tidak berani bersaing dalam perekrutan pemain bintang.
"Lihatlah tagihan gajinya, lebih rendah (dibanding klub besar lain). Mereka selalu membeli pemain muda dengan harapan akan berkembang, tetapi mereka adalah klub mapan sekarang. Mereka perlu membeli pemain besar, mungkin membayar sedikit lebih mahal," ujar Bale dalam siniar The Overlap.
Bale menambahkan di pasar saat ini, Spurs perlu berani mengeluarkan £80 juta hingga £100 juta untuk mendapatkan pemain berkualitas. "Sepertinya mereka hanya perlu sedikit lebih berjudi, klub lain lebih bersedia mengambil risiko finansial," pungkasnya. (BBC/Z-2)
Chelsea semakin jauh dari juara Liga Inggris. Pertandingan Leeds vs Chelsea dengan skor 3-1 membuat tuan rumah Leeds United keluar dari zona degradasi.
Reformasi selain menumbangkan Orde Baru yang kemudian diikuti dengan berbagai perubahan tatanan, juga telah menyebabkan ada hal yang hilang dalam pendidikan Pancasila.
Kesepakatan yang diumumkan Selasa (5/8) tu akan berlaku selama lima tahun dan bertujuan menjaga stabilitas finansial klub-klub Serie A.
Leicester City dan Ruud van Nistelrooy Sepakat Berpisah Usai Degradasi ke Championship
Lyon telah mengajukan banding. Jika banding itu ditolak, posisi Lyon di Ligue 1 akan digantikan oleh Reims, yang dikalahkan dalam play-off degradasi oleh Metz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved