Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pengamat Soroti Peran Zainudin Amali seusai Timnas U-22 Gagal di SEA Games 2025

Akmal Fauzi
14/12/2025 21:33
Pengamat Soroti Peran Zainudin Amali seusai Timnas U-22 Gagal di SEA Games 2025
Timnas U-22 Indonesia(Antara)

PENGAMAT sepak bola Binder Singh menyoroti peran Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, menyusul tersingkirnya Timnas Indonesia U-22 pada fase grup SEA Games Thailand 2025.

Binder menilai Zainudin Amali sebagai pihak yang paling layak dimintai penjelasan karena berstatus sebagai penanggung jawab langsung Timnas U-22.

“Ada pernyataan dari Wakil Ketua umum PSSI, Zainudin Amali, yang mengatakan bahwa targetnya adalah emas. Jika Wakil Ketua umum telah mengatakan itu berarti tentu dia bertanggung jawab untuk bisa mencapai target tersebut,” kata Binder dikutip dari Antara, Minggu (14/12).

Binder juga menyoroti unggahan Instagram anggota Exco PSSI, Arya Sinuligga, yang menyatakan, “minta maaf, urusan Timnas sepak bola putra untuk SEA Games, saya tidak mengerti (silakan tanya yang mengerti)”. Menurut Binder, pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa urusan Timnas U-22 di SEA Games sepenuhnya berada di bawah kendali Zainudin Amali.

Selain itu, Binder menegaskan bahwa penunjukan Indra Sjafri sebagai pelatih Timnas U-22 juga merupakan keputusan Amali. Ia menyebut target medali emas yang pada akhirnya berujung kegagalan total berasal dari Amali, berbeda dengan target pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang hanya membebankan target medali perak.

Fakta bahwa Timnas U-22 gagal meraih satu pun medali, bahkan tersingkir di fase grup, dinilai Binder sebagai kegagalan nonteknis yang harus dijelaskan secara terbuka oleh Zainudin Amali.

“Indra Sjafri sudah menyatakan bertanggung jawab secara teknis. Sekarang pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab secara nonteknis?” ujar Binder.

Ia menilai seharusnya ada diskusi intensif antara Wakil Ketua Umum PSSI dan pelatih terkait strategi krusial, termasuk pada laga penentuan melawan Myanmar yang menuntut kemenangan dengan margin gol tertentu.

Ketidaksiapan strategi, pemilihan pelatih yang sejak awal menuai perdebatan publik, hingga pemanfaatan pemain seperti Ivar Jenner yang dinilai tidak sesuai dengan kapasitasnya, disebut sebagai bukti lemahnya perencanaan.

Binder pun menyebut kegagalan ini sebagai sesuatu yang memalukan, terlebih Indonesia harus menelan kekalahan dari Filipina. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan Timnas, melainkan sebagai tuntutan atas akuntabilitas.

“Kalau Erick Thohir bisa minta maaf atas kegagalan timnas senior, maka publik berhak menunggu siapa dari PSSI yang bertanggung jawab atas kegagalan SEA Games ini,” katanya. 

Sementara itu, Amali mengatakan kegagalan Timnas U-22 di SEA Games 2025  akan dibahas melalui evaluasi menyeluruh oleh Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Salah satu perhatian utama adalah persiapan tim yang dinilai tidak seoptimal tim SEA Games 2023.

Ia menegaskan, durasi pemusatan latihan dan waktu berkumpul antara pemain serta ofisial sangat berpengaruh bagi timnas kelompok umur, terutama untuk membangun chemistry.

"Mungkin ya ini soal durasi kumpul persiapan. Ini akan kami evaluasi bersama Exco dan klub-klub asal pemain juga," kata Amali kepada Media Indonesia, Jumat (12/12) malam.

Ia juga meminta agar kegagalan ini tidak menjadi ajang saling menyalahkan, terutama kepada para pemain. 

"Kami semua kaget, tapi tolong jangan saling menyalahkan, jangan cari kambing hitam, itu pasti tidak baik terutama ke pemain," ujarnya


(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya