Kamis 19 Januari 2023, 08:45 WIB

Sosiolog Dorong Pembentukan Komite Suporter Saat KLB PSSI

mediaindonesia.com | Sepak Bola
Sosiolog Dorong Pembentukan Komite Suporter Saat KLB PSSI

MI/HO
Sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang Wahyudi Winarjo berbicara dalam seminar nasional yang diadakan FAPSI.

 

SOSIOLOG dari Universitas Muhammadiyah Malang Wahyudi Winarjo mendorong perubahan statuta dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Ia mendorong agar ada penambahan satu lagi komite dalam tubuh PSSI yang khusus menangani suporter. 

Hal itu dikatakan Wahyudi saat memberikan paparan di seminar nasional bertajuk “Revolusi Infrastruktur dan Mitigasi Konflik: Pembenahan Total Stadion, Kerusuhan Suporter dan Mafia Bola” yang dilaksanakan di Hotel Ascent Premiere Malang, Rabu (18/1).

Menurutnya, Komite Suporter adalah jawaban dari berbagai persoalan yang kerap menghiasi wajah sepak bola tanah air. Sebab, selama ini, keberadaan suporter tidak mendapatkan perhatian serius dari federasi sepak bola nasional. 

Baca juga: Coach Justin: Ketua Umum PSSI Harus Punya Kemampuan Manajerial

“Saya kira perlu ada komite suporter dalam statuta PSSI dan itu mereka sangat fungsional terhadap realita sepak bola di Indonesia, yang masih ada kecenderungan-kecenderungan para pihak tertentu atau free rider membonceng dalam even atau momen sepak bola,” kata Wahyudi 

Wahyudi menilai rivalitas antarsuporter sepak bola di Indonesia tidak bisa dihindarkan, karena hal tersebut sudah mengakar ke lapisan masyarakat pecinta sepak bola. 

Namun, PSSI, selaku organisasi induk sepak bola Indonesia, perlu memberikan perhatian serius, agar rivalitas yang negatif mampu dikelola dengan baik dan berubah menjadi positif, yakni mendukung klub favorit tanpa ada aksi anarkis.

“Jadi, sekali lagi, rivalitas tidak bisa dihindari, tetapi saya kira kalau ada PIC yang bertanggung jawab untuk membangun rivalitas menjadi sehat dan profesional, saya kira itu akan lebih baik,” ucapnya.

Menurut Wahyudi, ke depan, PSSI perlu merangkul para akademisi agar edukasi atau arahan yang disampaikan kepada kelompok-kelompok suporter mampu dipahami dan diterapkan di tengah-tengah mereka. 

“Dan mereka adalah orang yang mengerti tentang sosiologi massa, tentang psikologi massa, termasuk juga tentang bagaimana dia bisa mendorong, sekaligus mengendalikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh suporter dari masing-masing klub sepak bola yang ada di Indonesia,” ujarnya.

“Di antara rivalitas yang kita lihat dari perspektif sosiologi sebenarnya adalah ketidakmampuan pengendalian diri dari para fans club atau suporter, atas pemikiran-pemikiran, atas ajakan provokasi yang sebetulnya itu menjerumuskan antar suporter,” tambahnya.

Lanjut Wahyudi, ajakan-ajakan provokasi yang sering dilakukan oknum-oknum suporter ini menjadikan rivalitas yang tadinya positif berubah menjadi negatif, hingga terjadi aksi-aksi anarkis. Padahal, rivalitas dalam sepak bola adalah hal yang wajar seperti yang ditunjukkan oleh suporter bola di Eropa. 

“Sehingga menjadi rivalitasnya itu tidak sehat, realitas tetap akan ada selamanya, tetapi saya kira rivalitasi itu bisa dibungkus dengan cara-cara yang sehat yang profesional yang tidak mencederai, tidak memusuhi satu dengan yang lain. Di dalam sepak bola itu yang akan meningkatkan adalah semangat, spirit dan motivasi penonton atau kita semua datang menonton untuk menikmati sepak bola,” jelasnya.

Atas dasar itu, Wahyudi menuturkan, kehadiran FAPSI untuk mendorong dilakukan perubahan atau perbaikan terhadap PSSI sebagai federasi sepak bola Indonesia. 

Pasalnya, FAPSI yang dihuni oleh para akademisi dengan keilmuan masing-masing, mampu melihat masalah dengan rasional tanpa ada kepentingan-kepentingan lain, selain untuk perbaikan yang lebih baik.

“Saya kira akademisi bisa menjadi salah satu instrumen atau menjadi alat dari persepakbolaan nasional, untuk melakukan kontrol sosial dan saya kira bisa melalui desiminasi pemikiran atau gagasan persepakbolaan nasional yang sehat, yang sportif dan semuanya saya kira basisnya adalah nasionalisme,” ungkapnya. 

“Tidak boleh saya kira sepak bola itu kemudian mencederai nasionalisme yang harus kita kawal yang harus kita kembangkan menjadi jati diri bangsa Indonesia kita adalah bangsa yang ber pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan kita harus bangun masyarakat Indonesia ini dengan damai dengan hormoni dengan penuh kasih sayang,” tandasnya. (RO/OL-1)

Baca Juga

AFP/Glyn KIRK

MU Kehilangan Christian Eriksen Enam Bulan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 31 Januari 2023, 23:20 WIB
Penilaian awal menunjukkan bahwa Eriksen kemungkinan akan absen hingga akhir April atau awal Mei. Demikian pernyataan...
MI

Indra Sjafri Jadi Pelatih Timnas Indonesia untuk SEA Games 2023

👤Akmal Fauzi 🕔Selasa 31 Januari 2023, 22:09 WIB
Penunjukkan Indra Sjafri ini dilakukan karena Shin Tae-yong akan fokus ke tim U-20 Indonesia yang akan berlaga di Piala Dunia...
Oli SCARFF / AFP

Muenchen datangkan Joao Cancelo dengan Status Pinjaman

👤Mediaindonesia 🕔Selasa 31 Januari 2023, 21:14 WIB
Cancelo hanya bermain 16 kali untuk City musim ini, tetapi dia tidak lagi diturunkan Pep Guardiola sejak kekalahan mereka dari Manchester...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya