Kuratorial Membaca Dunia 

MEMBACA Dunia atau Read the World, sebuah pameran bersama 15 pelukis Indonesia. Ini menjadi sebuah gerakan bersama seniman yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya dalam mengabadikan fenomena global. 

Globalisasi telah menuntut para pelukis ini untuk mampu beradaptasi dengan pelbagai informasi yang bertebaran di dunia maya dan dunia nyata. Tema utama sebagai jembatan membaca dunia kemarin, menulis dunia hari ini, dan melukis dunia di masa depan secara bijaksana. 

Pameran seni lukis ini menggaungkan optimisme para pelukis. Terutama, dalam menyambut dunia pascapandemi covid-19 yang telah mendera dunia sejak dua tahun terakhir. Bahkan, penelitian-penelitian ilmu kedokteran menunjukkan bahwa korona telah “bersarang dan beranak pinak”. 

Persoalan dunia yang serupa lewat pandemi telah memberikan setiap seniman memiliki kecemasan, ketakutan, dan keraguan yang sama. Namun, harapan dan doa selalu ada bagi setiap insan di muka bumi ini dalam melewati masa-masa sulit secara bersama. 

Persatuan dan persahabatan antar suku, golongan, dan bangsa menjadi penting dalam membaca perubahan di sekitar kehidupan kita; yang adakalanya hampir sama kadar dan takarnya. Artinya, cahaya yang sama pula pasti ada di langit pekat. 

Untuk itulah, sejumlah 15 seniman menyatukan daya pikir kreatif dalam menyebarkan energi positif. Mereka menjaga keindonesiaan di era keterbukaan informasi budaya. Menyatukan tekad membangun dunia lewat karya-karya yang imajinatif, impresif, dan futuristik. 

Kelima belas pelukis, yaitu Ade Artie, Ary Okta, Bibiana Lee, Ida Achmad, Indah Arsyad, Irtiana, Kanna, Katarina Ardhani, Nasya Rusdi, Nicki Soewandi, Nadia Iskandar, Semut Prasidha, Sri Warso Wahono, Syahnagra Ismaill, dan Winiarti. 

Mereka menampilkan sejumlah 23 karya-karya terbaik antara 2014-2021 lewat pameran bersama di Balai Budaya Jakarta, Jl. Gereja Theresia No 47, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, (23/11) hingga Senin, (29/11). 

Setiap pelukis menghadirkan gaya dan corak lukisan berbeda. Mereka mampu menuangkan pengaruh gaya-gaya Occidental (Barat) dengan kebebasan kesenimanan, namun tetap berakar pada kebersamaan yang kompak lewat akar tradisi Oriental (Timur). 

Gaya-gaya lukisan dalam pameran ini menghadirkan corak abstraksionisme, ekspresionisme, dan hybrid art. Sangat terasa pada beberapa karya yang kuat pengaruh Barat. Namun, sebaliknya unsur Timur juga begitu erat terbungkus manawan di beberapa karya lainnya yang disuguhkan kepada publik sebagai penikmat seni lukis. 

Kekuatan dan karakter individu-individu yang berbeda-beda kian memberikan sentuhan bersahaja dan berkesinambungan. Bersatu padu menghadirkan seutas ikatan benang merah lewat gelaran seni lukis Membaca Dunia

Sekadar menyebut sebuah nama Roger Fry (1866-1934). Ia adalah kurator, kritikus seni, dan seniman Inggris, paling dikenal sebagai jawara gerakan poscaimpresionisme. Pada tahun 1910, ia bertindak sebagai kurator dalam pameran bertajuk Manet and the Post-Impressionists di Grafton Galleries, London. 

Pameran tersebut tidak begitu dilirik para penghuni kota. Banyak yang mengoceh. Namun, lewat pameran itulah nama Fry kian dianggap sebagai salah satu kurator yang diperhitungkan di zamannya. Pemikiran ia pun masih diperbincangkan dalam sejarah seni rupa kontemporer. 

Energi positif 

Pameran Membaca Dunia sebagai bagian merayakan kegembiraan bersama Dewantara Center yang telah berusia ketujuh tahun. Kehadiran wadah kebudayaan nirlaba ini belumlah apa-apa bagi masyarakat Indonesia. 

Namun, bersama para seniman mencoba untuk melihat perkembangan kebudayaan dan kesenian sebagai salah satu kekuatan dalam mendukung energi positif dalam hubungan persahabatan antar bangsa. 

Ajang ini menjadi sebuah gerakan awal seniman secara bersama menuju era pascakontemporer (post-contemporary) di Indonesia. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah memasung cita-cita bersama lewat Monumen Kapsul Waktu yang kini berdiri memukau di Merauke, Papua. Kelak cita-cita generasi muda yang ditulis akan dibuka dan dibacakan pada 2085. 

Setiap goresan dan sentuhan tangan-tangan seniman berbakat di pameran ini kian membuka persepsi baru. Memungkinkan sekali ditelaah lewat pendekatan kulturologi. Pertama, pergerakan budaya seni rupa dunia bukan lagi eksklusif, melainkan inklusif. Artinya, menapak menjadi bagian budaya global, namun tetap bertumpu pada tiga asas batu tungku; lokalitas, moralitas, dan nasionalitas. 

Kedua, seni lukis akan terus mengikuti perkembangan dunia berdasarkan teori dan pakem yang disetujui lewat hasil penelitian. Sebagaimana pernyataan klasik; seni untuk rakyat atau rakyat untuk seni — telur duluan apa ayam duluan. Tidak penting dijawab, namun wajib direnungkan. 

Pameran Membaca Dunia; menampung segala pemikiran, mulai dari seniman, akademisi, pemerhati seni, sampai penikmat seni lukis. Semua disuguhkan dalam suasana kesederhanaan dan keterbatasan. 

Meski demikian, bukan berarti bahwa ide-ide para pelukis sederhana dan terbatas. Sebaliknya, mereka mampu membaca dunia dan menyambut era baru menuju ke masa depan secara riang gembira. Menjadikan budaya sebagai kekuatan bangsa. 


 

 

 

Iwan Jaconiah, kurator Membaca Dunia: Pameran Bersama Pelukis Indonesia 2021. Pernah menjadi kurator tamu pada XXI Gallery di Moskwa. Ia baru saja diundang menjadi pembicara pada XI All-Russian Scientific Conference "Dialogue about Art and Culture" yang diselenggarakan oleh Perms State Institute of Culture bekerjasama dengan Ministry of Culture of the Russian Federation, 14-16 Oktober 2021. Sehari-hari tergabung bersama Media Group (Media Indonesia dan Metro TV). Kini, sedang menyelesaikan pendidikan PhD Kulturologi, Fakultas Seni Rupa, Russian State Social University.