Rabu 13 April 2022, 05:00 WIB

Ramadan di Makassar Dilalui dengan Kelangkaan Jalangkote

Mediaindonesia.com | Ramadan
Ramadan di Makassar Dilalui dengan Kelangkaan Jalangkote

Antara/Arnas Padda
Jalangkote

 

Bulan Ramadan adalah bulan yang selalu dinanti oleh Umat Islam, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Tidak seperti Ramadan sebelumnya, tahun ini, khususnya bagi para pedagang gorengan dan ibu rumah tangga, Ramadan menjadi momen melatih kesabaran. Khususnya sabar akan langka dan mahalnya minyak goreng.

Terkait minyak dan gorengan, masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, memiliki menu khas di Bulan Ramadan, yakni jalangkote yang menjadi menu favorit saat berbuka puasa.

Seiring naiknya harga minyak goreng, jalangkote mulai berkurang karena pedagang kecil beralih ke berjualan penganan lain, seperti pisang ijo dan lainnya.

Salah satu unsur penting dari jalangkote adalah minyak goreng. Kudapan khas Sulawesi Selatan ini juga sudah menjadi salah satu ikon dari 10 daftar menu kuliner resmi Kota Makassar.

Berbagai catatan sejarah menyebutkan bahwa jalangkote berasal dari dua kata, yakni "jalang" yang berarti jalan dan "kote" berarti berkotek-kotek atau berteriak.

Jalangkote dulu dijajakan oleh anak kecil dari rumah ke rumah, dengan teriakan khas. Maka disebutlah makanan ini sebagai jalangkote. Sekilas jajanan ini mirip dengan pastel, yang membedakan hanya pada tekstur kulitnya. Kulit jalangkote lebih tipis dan lebih renyah dibandingkan pastel.

Jalangkote memiliki isian potongan telur, ubi jalar yang dipotong kecil menyerupai dadu serta beberapa sayuran, seperti taoge. Seiring berkembangnya zaman, isian jalangkote mulai divariasiakan, sesuai dengan cita rasa masing-masing.

Unsur penting dari jalangkote ada pada sausnya, yang umumnya menggunakan campuran saos cabai, sedikit cuka, gula pasir dan bahkan ada yang menggunakan cabai rawit. Berbeda dengan pastel yang hanya menggunakan cabai rawit.

Bagi sebagian warga Makassar, jalangkote merupakan salah satu menu wajib saat akan berbuka puasa di Bulan Ramadhan. Di setiap bazar Ramadhan yang digelar di beberapa tempat, jalangkote dipastikan ada dalam meja jajaan.

Ujian bagi pedagang gorengan mulai dirasa tatkala salah satu komoditas kebutuhan bahan pokok itu menjadi barang yang dirasa berat oleh para pedagang.

Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Dr Zakir Sabhara ST, MT IPM, ASEAN Eng, satu dari sekian banyak warga Makassar yang menyatakan suka dengan jalangkote. Menurut dia, jalangkote selalu ada di berbagai strata sosial masyarakat.

Di tengah langka dan mahalnya minyak goreng saat ini, dia mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum mengurangi menu gorengan.

Bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ia berharap agar kesehatan pelanggan selalu menjadi perhatian utama. Konsumen pun diajak untuk berhati-hati memilih jajanan yang cara penyajiannya dengan cara digoreng.

Zakir Sabhara yang mengambil studi kimia itu menjelaskan minyak goreng akan mengalami kenaikan ikatan rantai asam lemak tak jenuh, penurunan ikatan jenuh, polimerisasi dan juga oksidasi.

Perubahan tersebut memberi dampak yang kurang bagus bagi kesehatan, bahkan dapat menimbulkan efek karsinogenik (berpotensi menyebabkan kanker) akibat perubahan struktur dan perubahan sifat kimiawi minyak.

Oleh karena itu, dirinya tidak menyarankan menggunakan minyak jelantah yang telah dipakai berulang-ulang, terutama di saat minyak goreng mahal.

"Makan gorengan memang dapat meningkatkan nafsu makan dan tentunya berkontribusi positif dalam pemenuhan kebutuhan tubuh akan makanan. Itu jika kita mengikuti aturan pemakaiannya, misalnya hanya dua hingga tiga kali penggorengan saja," katanya.

Agar gorengan yang kita makan, misalnya jalangkote, tetap sehat dan nikmat, disarankan untuk menggoreng jalangkote dengan minyak sedikit atau secukupnya, sehingga minyak tidak dipakai berulang kali.

Bagi pedagang gorengan, minyak sawit menjadi kunci mempertahankan usaha untuk menafkahi keluarga.

Hasnah, salah satu pelaku UMKM di kawasan Antang Makassar, bagian timur kota itu, telah menjajakan jalangkote sejak beberapa tahun. Selain jalangkote, ia juga menjajakan bikandoang atau sejenis bakwan. (Ant/OL-12)

Baca Juga

Ist

Masyarakat Puas Kinerja dari Pemerintah dan Polisi Tangani Arus Mudik

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 15 Mei 2022, 21:22 WIB
Masyarakat merasakan puas atas kinerja dari Pemerintah Indonesia dan Polri terkait hal penanganan dan penyelenggaraan arus mudik Hari Raya...
DOK Pribadi.

Program Ramadhan Brand Berbagi Salurkan 1.000 Lebih Paket

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 09 Mei 2022, 21:50 WIB
Harapannya, seluruh donasi yang diberikan dapat menjadi berkah, tidak hanya bagi penerima, tetapi juga untuk perusahaan sebagai...
Dok. Mahasiswa Diaspora di Saint Petersburg

Lebaran Penuh Kegembiraan di Saint Petersburg

👤 Naila Maziya Labiba ! Mahasiswi Program Master di Saint Petersburg State Technological Institute (Technical University) 🕔Jumat 06 Mei 2022, 14:25 WIB
Acara silaturahim yang bertemakan Pulang Kampoeng ke Rumah Nenek dibuka dengan sambutan Ketua persatuan mahasiswa Indonesia di Saint...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Rabu, 18 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN