Minggu 18 April 2021, 14:25 WIB

Dakwah yang Membangun Peradaban

Humaniora | Ramadan
Dakwah yang Membangun Peradaban

ANTARA/Fakhri Hermansyah
Sejumlah warga belajar membaca Al Quran di Pondok Iqro, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (18/4/2021).

Hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Kota Yastrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah menjadi simbol dan tonggak dimulainya peradaban. Demikian disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Yasin Thohari dalam Pengajian Ramadan 1442 H yang diadakan Majelis Dikdasmen GKB, Gresik pada Sabtu (24/4).

"Visi Rasulullah mengubah Yastrib menjadi Madinah memiliki makna simbolik bagi pembangunan peradaban. Maka, jika ditarik kesimpulan dari makna simbolik pada konteks itu, harusnya masyarakat kota lebih beradab dari masyarakat kampung atau desa, termasuk pedalaman," kata Hajrianto seperti dilansir dari laman Muhammadiyah.

Baca juga: Tanggapi Toa Masjid, LTM PBNU: Kuncinya Komunikasi dan Kesepakatan

Perubahan peradaban maju di Madinah oleh Rasulullah tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses bertahap di bawah payung Islam. Predikat sebagai ‘Madinah’ tersebut melekat sampai sekarang, bahkan saat ini predikat tersebut dilengkapi dengan al Munawarah yang artinya menyinari.

Hadjriyanto melanjutkan, masyarakat kota tersebut teradabkan dan mengalami pembudayaan. Menurutnya, konsep madani ini melahirkan turunan yang disebut sebagai masyarakat sipil. Di sisi lain ada juga yang menyebut atau mengolongkan masyarakat sipil itu sebagai bagian terpisah dari masyarakat militer.

“Peradaban adalah suatu kompleks atau kumpulan dari seluruh budi daya manusia yang mencakup kepada seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek fisik dan non fisik,” imbuhnya.

Melihat Indonesia pada peta peringkat peradaban dunia, Hadjri merujuk pada worldpopulationreview.com, Indonesia berada pada peringkat 67 dunia di antara negara-negara yang melek literasi. Melek literai ini salah satu barometer kemajuan peradaban suatu negara, peradaban negara juga bisa dilihat dari angka penerbitan bukunya.

Standar lain yang bisa digunakan untuk melihat kemajuan peradaban sebuah negara adalah dilihat dari rangking lembaga pendidikannya. Meski dalam pemeringkatan universitas Islam se-dunia yang dilakukan oleh Unirank, Universitas Muhammadiyah Malang berada di posisi puncak, namun rangking universitas di Indonesia di berbagai versi belum tinggi.

Terkait dengan usaha mengejar ketertingalan dari negara-negara lain, negara Islam termasuk Indonesia harus lebih kuat dalam menjalankan dakwah. Akan tetapi apakah pemahaman dakwah yang sempit sebagaimana umum dipahami oleh kebanyakan muslim mampu mengejar ketertingalan tersebut.

“Jika apa yang disebut dengan dakwah adalah hanya dalam pengertian sempit, yaitu doa dan khutbah-khutbah saja ya tidak bisa mengejar ketertingalan,” tegasnya

Menurutnya, berkaca dari ketertinggalan itu, dakwah harus diluaskan pengertiannya, supaya peradaban Islam mampu mengejar ketertinggalan. Dalam pandangan Muhammadiyah, dakwah yang membangun peradaban merupakan dakwah yang dipahami sebagai gerakan liberasi (membebaskan), emansipasi, dan transendensi. (H-3)

Baca Juga

Dok. Amy Maulana

Takbir dan Salawat Bergema Sambut Idul Fitri di Dagestan Rusia

👤Humaniora 🕔Senin 17 Mei 2021, 08:00 WIB
Tradisi lebaran masyarakat muslim Dagestan yang unik adalah mengunjungi keluarga atau tetangga yang tahun ini berduka ditinggalkan mati...
ANTARA/ADENG BUSTOMI

Ketupat Lemak, Menu Wajib Lebaran di Kubu Raya

👤Humaniora 🕔Jumat 14 Mei 2021, 10:31 WIB
Ketupat lemak merupakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam daun kelapa yang sudah di anyam. Beda dengan ketupat, pada umumnya ketupat...
Antara

Ketua DPR: Idulfitri Momentum Perkuat Solidaritas

👤Putra Ananda 🕔Kamis 13 Mei 2021, 13:59 WIB
Apalagi saat pandemi covid-19, menurut Puan penting untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara di sekeliling kita. Terutama mereka yang...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-06-19

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 19 Jun 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:36 WIB
Subuh : 04:46 WIB
Terbit : 06:00 WIB
Dzuhur : 11:54 WIB
Ashar : 15:16 WIB
Maghrib : 18:01 WIB
Isya : 18:57 WIB

TAUSIYAH