Selasa 13 April 2021, 13:30 WIB

Hikmah Puasa dan Qiyamul Lail di Bulan Ramadan

Zubaedah Hanum | Ramadan
Hikmah Puasa dan Qiyamul Lail di Bulan Ramadan

Antara
Ilustrasi

BULAN suci Ramadan dengan banyak kemuliaan di dalam hari-harinya telah tiba. Salah satunya, kemuliaan orang berpuasa.

Namun, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan, dalam melaksanakan puasa harus betul-betul dengan kondisi lahir dan batin. Bukan sekadar menahan lapar dan haus.

"Jangan sampai puasa itu hanya mengubah jadwal makan dan minum kita tetapi tidak mengubah perilaku makan dan minum kita yang dimestikan untuk tetap tidak boleh israf (melampaui batas),” ucap Haedar Nashir saat Tarhib Ramadan Bank Indonesia, Senin (12/4), seperti dikutip dari laman Muhammadiyah.

Menurutnya, puasa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus. Puasa batin, bahkan dapat menghasilkan perilaku yang jujur. Tidak hanya jujur di muka, namun jujur di mana saja bahkan dalam kondisi yang jauh.

"Puasa yang menghasilkan kejujuran di kala di rumah lebih-lebih di luar rumah itulah wujud sebenarnya puasa yang lahir dan batin," ujar Haedar.

Terkait hal ini, Haedar menceritakan sebuah kisah. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkeliling kota Madinah dan melihat seseorang sedang memaki-maki hamba sahayanya, padahal saat itu bulan puasa. Nabi Muhammad pun menghampiri orang tersebut dan memberinya kurma.

“Ya Rasul kenapa engkau berikan kurma padahal aku sedang berpuasa?” tanya orang tersebut.

Nabi Muhammad menjawab, “Banyak orang yang namun dia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain lapar.”

"Itulah sindiran nabi yang paling tajam. Saat ia berpuasa seharusnya ia dapat menahan nafsu amarahnya maka sama saja puasa yang dilakukannya tak mendapat apapun selain lapar," kata Haedar.

Hikmah qiyamul lail
Selain berpuasa sebulan penuh, kita juga disunahkan untuk melaksanakan salat tarawih selama Ramadan. Haedar mengimbau agar masyarakat tidak memaksakan diri apabila salat tidak memungkinkan untuk ditunaikan di masjid karena situasi pandemi covid-19.

Hal itu, tegas Haedar, bukan berarti mengajak orang untuk menjauhkan diri dari masjid, tetapi karena kondisi yang masih tidak memungkinkan, selain itu melaksanakan salat di rumah pun kita bisa khusyuk.  

“Jadikan qiyamul lail (tahajud, tarawih,  dan salat malam) kita itu menjadikan diri kita orang-orang yang memperoleh kemuliaan dalam hidup kita lahir dan batin,” tutur Haedar.  

Haedar menjelaskan orang yang mulia lahir dan batin dia tidak akan makan barang yang haram termasuk yang subhat. Di saat dia punya peluang dia tidak akan melakukan penyimpangan apapun ketika ada ruang untuk menyimpang dan dia tetap jujur ketika di luar jauh dari jangkauan orang, itulah kemuliaan dari qiyamul lail.

"Dan qiyamul lail itu harus menimbulkan hati yang semakin tentram termasuk menghadapi berbagai macam hal dalam kehidupan kita," tuturnya.

Dipraktekkan
Selain salat qiyamul lail, Haedar mengatakan, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak membaca kitab suci Alquran selama Ramadan. Haedar mengingatkan, membaca Alquran, memahami dan mempraktekkannya lebih utama.

"Alquran harus jadi petunjuk mana yang baik, benar, keliru, halal, buruk, salah, yang pantas dan tidak pantas. Orang yang paham Alquran akan mempratekkannya dengan bisa memilah milahnya. Dia lakukan yang benar dan tidak lakukan yang salah. Ketika ketidakpantasan, keburukan, dan kesalahan itu membuat diri kita senang nah ini yang perlu hal-hal yang salah itu membuat kita senang tetapi senang seketika," urai Haedar lagi.

Ia menyontohkan, pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan surah Al Maun selama tiga bulan. Al Maun itu dihapalkan oleh ratusan tahun oleh orang Islam tetapi tidak membekas. Ia pun mempraktikkannya menjadi sebuah gerakan untuk membela kaum miskin, yatim, dhuafa, mustadafin, dan lainnya.

"Maka dari itu, selain mempelajari Alquran kita juga harus mempraktekkan ilmunya," ujar Haedar.

Masih ada ibadah lain yang memberi keutamaan besar ketika dilakukan di bulan Ramadan, yakni sedekah. Rasulullah SAW mengatakan, sedekah yang paling afdal adalah di bulan Ramadan. Bukan berarti, kata Haedar, di bulan lain tidak baik. Namun ini memicu kita untuk semakin berlomba untuk bersedekah.

Mencintai sesama
Keutamaan mencintai sesama adalah salah satu pesan Rasulullah dan Ramadan adalah salah satu momentumnya. Mengutip firman Allah SWT, Haedar menyampaikan, tidak disebut beriman seseorang sampai terbukti ia mencintai sesama seperti mencintai dirinya.

“Indonesia ini milik kita bersama diperjuangkan bersama-sama dan kita umat Islam memberi saham besar bagi Indonesia maka kondisi apapun pada bangsa ini menjadi tanggung jawab bersama. Tumbuhkan sikap tabligh, amanah, sidiq, dan fatonah. Kalau mempraktekkan itu insyaAllah selamat dan maju,” pungkasnya. (H-2)

Baca Juga

Antara

Ketua DPR: Idulfitri Momentum Perkuat Solidaritas

👤Putra Ananda 🕔Kamis 13 Mei 2021, 13:59 WIB
Apalagi saat pandemi covid-19, menurut Puan penting untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara di sekeliling kita. Terutama mereka yang...
ANTARA/Iggoy el Fitra

Haedar Nashir: Idul Fitri Momentum Perkuat Simpul Persaudaraan

👤Ardi Teristi 🕔Kamis 13 Mei 2021, 11:12 WIB
Melalui silaturahmi antarsesama muslim dan seluruh komponen bangsa, rasa persaudaraan yang otentik akan tumbuh mekar bila dilandasi dengan...
ANTARA/Makna Zaezar

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri

👤Humaniora 🕔Kamis 13 Mei 2021, 11:00 WIB
Perjuangan melawan nafsu, perjuangan melawan setan pertempuran itu berlanjut tidak ada hentinya kecuali setelah kita...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-05-14

JADWAL IMSAKIYAH
Jumat, 14 Mei 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:31 WIB
Subuh : 04:41 WIB
Terbit : 05:53 WIB
Dzuhur : 11:49 WIB
Ashar : 15:11 WIB
Maghrib : 17:57 WIB
Isya : 18:52 WIB

TAUSIYAH