Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTEMUAN hangat di kediaman pribadi Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, pada Minggu (8/3), menjadi momen refleksi panjang bagi perjalanan karier militer sang Presiden. Kehadiran para mantan ajudan dan pengawal yang setia mendampinginya sejak era Kostrad dan Kopassus sekitar 30 tahun lalu, mengingatkan publik pada dedikasi panjang beliau di korps baret merah.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut penuh dengan nostalgia. Sebagian dari mereka masih aktif sebagai prajurit TNI, sementara yang lain telah purna tugas. "Presiden selalu ingat dengan orang-orang yang pernah berjuang bersamanya," ujar Teddy.
Lulus dari Akademi Militer pada 1974, Prabowo Subianto langsung terjun ke medan operasi. Sebagai perwira muda di Kopassandha (sekarang Kopassus), ia dikenal sebagai komandan lapangan yang taktis. Namanya mencuat saat memimpin Tim Nanggala dalam Operasi Seroja di Timor Timur, di mana pasukannya berhasil mengakhiri perlawanan pemimpin gerilya Nicolau Lobato pada 1978.
Karier Prabowo tidak hanya soal tempur, tetapi juga inovasi organisasi. Pada 1983, ia berperan besar dalam pembentukan Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Gultor), unit paling rahasia dan mematikan di Kopassus, setelah menimba ilmu dari pasukan elite dunia seperti GSG-9 Jerman.
Saat menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada 1995, Prabowo memimpin salah satu operasi penyelamatan paling dramatis dalam sejarah militer Indonesia: Operasi Mapenduma (1996). Di tengah hutan belantara Papua, pasukan Kopassus berhasil membebaskan tim peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera oleh kelompok separatis.
Keberhasilan ini mengukuhkan reputasi Kopassus sebagai salah satu pasukan khusus terbaik dunia dan melambungkan nama Prabowo sebagai jenderal yang berani mengambil risiko tinggi demi kedaulatan negara.
Puncak karier struktural Prabowo di TNI terjadi pada Maret 1998 ketika ia dilantik menjadi Panglima Kostrad. Membawahi puluhan ribu prajurit strategis, posisi ini menempatkannya di pusaran sejarah saat Indonesia menghadapi transisi politik besar menuju era Reformasi.
Meskipun karier militernya berakhir pada tahun 1998, dedikasi Prabowo terhadap pertahanan negara tidak pernah surut. Hal ini terbukti dengan penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan (2019-2024) sebelum akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke-8.
Selain Operasi Mapenduma dan penangkapan Nicolau Lobato, Prabowo dikenal karena memodernisasi pelatihan Kopassus dan menginisiasi ekspedisi pendakian Everest pertama oleh orang Indonesia pada tahun 1997, yang bertujuan menaikkan martabat bangsa di kancah internasional.
Pertemuan dengan para mantan ajudan di tahun 2026 ini menjadi pengingat bahwa bagi Prabowo, loyalitas dan persaudaraan yang terbentuk di medan tugas militer adalah ikatan yang bersifat abadi. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved