Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

PBNU Diminta Redam Konflik dengan Islah

M Ilham Ramadhan Avisena
24/11/2025 18:19
PBNU Diminta Redam Konflik dengan Islah
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf(MI/Susanto)

PENGAMAT politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai polemik yang belakangan terjadi di tubuh PBNU harus segera dihentikan melalui dialog dan rekonsiliasi. 

Menurutnya, langkah islah menjadi jalan paling masuk akal untuk merawat muruah organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. "Sebaiknya islah. Cari titik temu yang bisa memungkinkan kedua belah pihak berkompromi," ujarnya saat dihubungi, Senin (24/11). 

Adi mengingatkan, PBNU bukan sekadar organisasi biasa, melainkan rumah besar kaum nahdliyin yang dihuni santri, ulama, dan kiai. Karena itu, setiap pihak yang sedang berselisih dituntut memberi teladan.

"Pihak-pihak yang berkonflik sebaiknya kasih contoh yang baik bahwa duduk bersama musyawarah bisa menyelesaikan semua persoalan," kata dia.

Ia menilai publik sudah terlalu sering disuguhi drama konflik internal partai politik. Jika polemik PBNU dibiarkan melebar, kata Adi, maka kekecewaan publik terhadap elite akan semakin dalam.

"Cukup sudah konflik antar partai dan konflik internal partai kerap jadi tontonan seharian rakyat. Jangan ditambah lagi dengan konflik ormas Islam besar di Indonesia," tuturnya.

Lebih jauh, Adi menekankan, relasi di PBNU tak bisa disamakan dengan dinamika partai yang penuh kompetisi kuasa. PBNU, menurutnya, dibangun atas relasi moral dan kultural antar warga nahdliyin.

"Hubungan di PBNU bukan seperti hubungan di partai politik yang konfliktual dan penuh kompetisi kekuasaan. Di PBNU adalah hubungan antar santri dengan santri yang lain, hubungan antara santri dengan kyai," jelasnya. 

Adi berharap para pihak menahan ego dan kembali menjadikan musyawarah sebagai jalan utama. Tanpa itu, konflik hanya akan memperlebar jarak dan merusak kewibawaan organisasi yang selama ini menjadi rujukan umat. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya