Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Sudirman Said Sebut Pemimpin Harus Jadi Teladan dan Inspirasi

Rahmatul Fajri
12/11/2025 09:43
Sudirman Said Sebut Pemimpin Harus Jadi Teladan dan Inspirasi
Aktivis anti korupsi Sudirman Said menyampaikan paparannya dalam Orasi Kebangsaan di Jakarta, Kamis (5/12/2024).(MI/Susanto)

REKTOR Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said menekankan pemimpin Indonesia seharusnya juga seorang pendidik. Ia mengatakan sebaliknya peran vital pendidik, yakni sebagai pemimpin.  

“Pendidik adalah pemimpin, dan alangkah hebatnya bila para pemimpin Indonesia juga berperilaku sebagai pendidik,” kata Sudirman melalui keterangannya, Rabu (12/11).

Menurut Sudirman, kepemimpinan sejati bukan bertolak dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari pengaruh yang ditumbuhkan oleh kepercayaan dan keteladanan. Pemimpin yang mendidik, kata ia, adalah mereka yang menggerakkan tanpa memaksa, yang membangkitkan semangat tanpa menakut-nakuti.

Sudirman menegaskan bahwa sejatinya pemimpin dan pendidik memiliki misi yang sama, yaitu menumbuhkan potensi terbaik manusia. “Pemimpin sejati diikuti bukan karena posisi, tetapi karena teladan dan inspirasi," katanya.

Sudirman menyinggung para pendiri bangsa yang sebagian besar berawal sebagai guru. "Coba cermati, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, gencar memperjuangkan kemerdekaan berpikir. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mengajarkan nilai-nilai keislaman melalui pendidikan. Tan Malaka, R.A. Kartini, RA Kardinah, Bung Hatta, hingga Jenderal Soedirman, semua pernah mengajar, menulis, atau mendidik, bahkan sebelum mereka memimpin bangsa," ungkapnya.

Bangsa ini, sambungnya, lahir dari ruang pendidikan. Para pendiri republik tidak hanya memimpin di depan, tapi juga membimbing di tengah bahkan mendorong dari belakang) bangsanya untuk berpikir dan bergerak ke arah merdeka.

Sudirman menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah bakat bawaan, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari, diasah, dan dikembangkan. Sudirman menyebut lima praktik kepemimpinan yang menandai pemimpin efektif, yakni: memberi teladan, menginspirasi visi bersama, berani keluar dari zona nyaman, memberdayakan orang lain, serta menyemangati hati dan jiwa mereka yang dipimpin. 

Guru yang baik bukan mengontrol, tapi menumbuhkan. Bukan memerintah, tapi menggerakkan. "Dalam konteks inilah kepemimpinan dan pendidikan berkelindan dalam satu napas: membentuk manusia yang merdeka, tangguh, dan berkarakter,"  ujarnya.

Sudirman juga menyinggung perlunya para pendidik dan pejabat publik menanamkan nilai-nilai kepemimpinan intrinsik, yakni kepemimpinan yang melampaui otoritas formal dan bersandar pada integritas, kejujuran, serta tanggung jawab. Ia mencontohkan Jenderal Soedirman yang pada usia 29 tahun diangkat menjadi panglima tertinggi karena keteladanannya, padahal berlatar guru sekolah Muhammadiyah. “Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kepribadian dan komitmennya, bukan pada pangkatnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia memperkenalkan arah pengembangan Universitas Harkat Negeri. Perguruan tinggi ini tengah membangun ekosistem pembelajaran keterampilan teknis (hard skills) yang antara lain melalui teaching factory maupun penguatan keterampilan nonteknis (soft skills). Tak ketinggalan, pemanfaatan teknologi pembelajaran jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan.

Bagi Sudirman, universitas itu bukan sekadar pencetak tenaga kerja, tapi pencetak pemimpin yang punya daya juang, empati, dan tanggung jawab sosial. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik