Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
WILAYAH maritim telah menjadi arena pertarungan kekuatan global. Hal ini kian terasa di tengah berbagai disrupsi yang terjadi seperti pandemi covid-19 dan tersendatnya rantai pasokan akibat perang antara Rusia dan Ukraina.
Untuk mencari keseimbangan baru pada aspek maritim, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia menggelar The 6th Jakarta Geopolitical Forum dengan tema Geomaritime: Chasing the Future Global Stability.
Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto mengatakan forum tersebut telah mengupas berbagai pandangan tentang geopolitik dunia ke depan yang mengarah pada keseimbangan baru, khususnya terkait aspek maritim. Menurutnya, dunia harus meminimlakan risiko konflik geopolitik yang bersifat militeristik.
"Sudah saatnya memaksimalkan kompetisi dan kerja sama yang sehat untuk memanfaatkan maritim sebagai pusat konektivitas dan produktivitas perekonomian," kata Andi yang diwakilkan Wakil Gubernur Lemhannas Letjen Mohamad Sabrar Fadhilah di Grand Studio Metro TV, Jakarta, Kamis (25/8).
Untuk menciptakan stabilitas global berkelanjutan, Andi menekankan pentingnya kerja sama dengan ditopang kemajuan teknologi dan optimalisasai energi yang ramah lingkungan. Selain itu, kesepahaman setrategis dan rasa saling pengertian antarpihak juga diperlukan.
CEO Geopolitical Risk Consultancy the Cognoscenti, Alan Dupont, menjelaskan, kekuatan ekonomi dan politik telah berpindah dari wilayah Atlantik ke Pasifik, khususnya di Laut China Selatan. Sebab, 40% perdagangan global dan 50% perdagangan energi terjadi di Laut China Selatan.
"Dalam pandangan saya, Laut China Selatan adalah laut terpenting di dunia saat ini," ujarnya.
Dengan adanya kompetisi yang terjadi antara dua kekuatan besar dunia, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat, di Laut China Selatan, negara-negara inti yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) harus bekerja sama untuk menghasilkan keputusan bersama, khususnya di bidang maritim.
"Dan saya rasa Indonesia bisa memainkan perannya di sini sebagai pemimpin," tandas Dupont.
Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Debidjianstrat Lemhannas Berlian Helmy juga menggarisbawahi peran ASEAN untuk menciptakan kelembagaan regional yang seimbang di tengah ancaman ancaman konflik. Menurutnya, ASEAN harus diperkuat dengan kerja sama keamanan.
"ASEAN harus menggencarkan dialog aktif sebagai bagian dari diplomasi untuk mencegah konflik dengan pesan damai," kata Berlian.
Forum Geopolitik Jakarta ke-6 diselenggarakan selama dua hari pada Rabu (24/8) dan Kamis (25/8). Setidaknya ada 11 narasumber terkemuka dari Indonesia, Australia, Amerika Serikat, Rusia, dan Singapura yang membahas masalah geomaritim dari sisi pertahanan, kemanan, teknologi, dan ekonomi. (OL-8)
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan bahwa kemandirian pangan nasional tidak akan tercapai maksimal tanpa melibatkan potensi maritim secara progresif.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, ExxonMobil menghadirkan layanan cepat Mobil Diesel.
Pendekatan pertahanan berlapis, mulai dari deteksi jauh hingga respons cepat dan pengamanan inti, muncul sebagai fondasi penting dalam memperkuat postur pertahanan maritim.
Pertamina Marine Solutions (PMSol), anak perusahaan dari Pertamina International Shipping (PIS), resmi berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam ADIPEC 2025.
rabowo juga menyoroti pentingnya suara kolektif ASEAN untuk menegakkan prinsip hukum laut internasional.
rabowo juga menyoroti pentingnya suara kolektif ASEAN untuk menegakkan prinsip hukum laut internasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved