Rabu 01 Desember 2021, 23:14 WIB

Surat Rais Aam PBNU Diklaim Sesuai AD/ART

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Surat Rais Aam PBNU Diklaim Sesuai AD/ART

Dok NU Online
Ilustrasi

 

RAIS Syuriah PCI NU Tiongkok Imron Risyadi Hamid menilai surat perintah Rais Aam NU, KH Miftachul Akhyar sudah sesuai dengan ketentuan. Pasalnya belum ada mekanisme arbritase jika ada masalah antara Rais Syuriah dan Tanfidziyah maka dikembalikan ke aturan yang lebih tinggi, yaiut anggaran dasar (AD). “Dalam AD jelas bahwa Rais Syuriah merupakan lembaga yang tertinggi,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (1/12).

Imron mengatakan NU sejak berdiri hingga sekarang merupakan milik ulamabukan seperti partai. Hiearki kepemimpinan di NU di posisi tertinggi adalah Rais Syuriah. “Dalam Anggaran Rumah Tangga juga diatur bahwa Rais Syuriah itu juga berwenang mengendalikan kebijakan umum,” tandasnya.

Posisi lembaga Tanfidziyah adalah pelaksana dari kebijakan yang diambil Rais Syuriah. Tidak ada dalam sejarah NU fungsi kesetaraan antara Tanfidziyah dengan Syuriah. "Dalam konteks muktamar, surat perintah yang dikeluarkan Rais Aam PBNU sebenarnya konteksnya internal, yang meminta panitia untuk melaksanakan muktamar pada 17 (Desember 2021),” jelasnya.

Adapun dasarnya, kata dia, karena pemerintah sudah menyatakan akan ada PPKM 23 Desember hingga 2 Januari 2022. “Inikan bersamaan dengan pelaksanaan muktamar. Artinya perubahan tanggal pelaksanaan itu sudah keniscayaan,” ungkapnya.

Atas kondisi ini, pada 4 Desember dilakukan rapat antara Tanfidziyah, Sekjen, Rais Aam, Khatib Aam yang berakhir deadlock. Sayangnya, belum ada mekanisme arbritase kalau terjadi persengketaan antara Rais Syuriah dan Tanfidziyah dalam memutus sebuah perkara. “Karena belum diatur maka seharusnya kembali ke aturan yang lebih tinggi yaitu Anggaran Dasar. Dalam Anggaran Dasar jelas, bahwa pemimpin tertinggi adalah Rais Syuriah,” ungkapnya.

Langkah Rais Aam Miftachul Akhyar yang menyurati dan memerintahkan panitia muktamar, menurut Imron, dibenarkan oleh AD. Hal lain yang menjadi pertimbangan Muktamar PBNU digeser tidak di 2022, menurut Imron, karena Konbes NU tahun 2020 dengan Konbes NU 2021 sama-sama meminta pelaksanaan Muktamar PBNU pada 2021.

“Mandat kepengurusan Muktamar PBNU Jombang itu juga hanya sampai Agustus 2020. Ini sudah terlambat setahun lebih,” jelas KH Imron.

Selain itu, lanjutnya, memajukan pelaksanaan muktamar ke 17 Desember 2020 memiliki arti penting juga, yaitu ada kepastian belum diadakannya PPKM Covid-19. “Kalau Januari tidak ada jaminan. Kalau ada kenaikan kasus Covid-19, kita harus nunggu kapan lagi,” pungkasnya. (OL-8)

Baca Juga

ANTARA

3 Minggu 4 OTT, KPK: Pembuktian Komitmen

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 18:49 WIB
terdapat tiga strategi yang terus dilakukan KPK yaitu pendidikan anti korupsi, pencegahan dan...
ANTARA

Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Munculnya Politik Identitas

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 13:15 WIB
Mahfudz mengingatkan semua pihak untuk mengantisipasi munculnya kembali politik identitas yang menciptakan pembelahan atau polarisasi...
Ist

IPW Minta Polri Usut Pelanggaran Hukum Pelat Nomor Kendaraan Arteria Dahlan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 13:00 WIB
pelat nomor setiap kendaraan harus ada pembeda. Nomor bisa sama tapi ada pembeda pada huruf atau yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya