Minggu 28 November 2021, 19:28 WIB

Kader NU Khawatirkan Adanya Upaya Pecah Belah 

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Kader NU Khawatirkan Adanya Upaya Pecah Belah 

Antara Foto/Muhamad Ibnu Chazar
Foto udara kirab santri membawa bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama di Desa Ciwulan, Telagasari, Karawang, Jawa Barat, belum lama ini.

 

Sembilan kyai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) pada Rabu (24/11) merekomendasikan penundaan Muktamar ke-34 hingga akhir Januari 2022. Dua hari berselang Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar mengeluarkan surat percepatan gelaran itu yakni pada 17 Desember 2021 dari seharusnya dilaksanakan pada 23 hingga 25 Desember 2021. Menurut Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Khayatul Makki, dinamika saat ini merupakan pertanda NU tengah diombang-ambing kekuatan eksternal.

“Kita melihat ada dua kejadian, pertama pertemuan kyai-kyai sepuh, sembilan kyai sepuh yang dihormati para nahdliyin seluruh Indonesia. Dalam pertemuan tersebut sempat mendinginkan suasana karena ada himbauan-himbauan yang sifatnya mendamaikan, menyejukkan dan sekaligus menegur kita semua yang terlalu hiruk pikuk dalam masalah muktamar ini,” ungkap Khayatul dalam keterangan resmi, Minggu (28/11).

Baca jugaRais Aam Perintahkan Muktamar Dipercepat, Panitia: Belum Diputuskan

Menurut dia, rekomendasi sembilan kyai sepuh diperkuat himbauan dari Habib Lutfi bin Ali bin Yahya yang meminta semua pihak untuk menurunkan tensi dan syahwat politik di dalam muktamar.

 

Terkait keluarnya surat perintah Rais Aam, pria yang akrab disapa Gus Khayat itu mengingatkan bahwa surat tersebut bukan merupakan putusan bersama PBNU. “Nah setelah disampaikan itu, beberapa saat keluarlah (surat perintah) dari Rais Aam sehingga siapapun bisa menebak, siapapun bisa melihat bahwa ini adalah bagian dari yang luar biasa dari oknum,” jelasnya.

 

Ia mengatakan sebagai warga nahdliyin tentunya sangat menyayangkan sikap Rais Aam karena berpotensi membuat perpecahan. "Karena demi semata-mata syahwat politik dukung mendukung dalam muktamar," tuturnya.

 

Gus Khayat merasa semua pihak perlu mengkhawatirkan langkah yang menyalahi aturan seperti ini karena akan membahayakan kehidupan bernegara. “Ini bahaya sekali, bukan hanya berbahaya untuk NU sendiri tapi untuk NKRI, Kenapa ? Karena kalau NU nya lumpuh, NU nya kerdil, maka NKRI tentunya sangat mudah di infiltrasi oleh siapapun," ujarnya.

 

Keputusan yang PBNU terkait Muktamar yang hanya ditandatangani oleh satu pihak saja yakni Rais Aam dianggap sejumlah kalangan di Nadhdliyin sebagai keputusan yang tidak sah. Karena dianggap tidak sesuai dengan AD/ART ataupun aturan pelaksanaan muktamar yang mensyaratkan bahwa keputusan yang sah adalah yang ditandatangan oleh Ketua Umum PBNU, Sekjen PBNU, Rais Aam dan Katib Aam.

 

Sementara itu menanggapi surat dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tentang perintah agar Muktamar ke-34 NU dipercepat, Ketua Panita Muktamar ke-34 NU, Imam Aziz menegaskan PBNU belum memberikan keputusan terkait kepastian jadwal muktamar. (P-3)

Baca Juga

MI/REZA SUNARYA

Kajati Terima Suap Wajib Dipecat, Kalau Berbahasa Sunda, Apa Salahnya?

👤Reza Sunarya 🕔Selasa 18 Januari 2022, 23:35 WIB
 Penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan rapat adalah sesuatu yang...
MI/M IRFAN

Politikus PDIP Minta Arteria Dahlan Dievaluasi

👤Kristiadi 🕔Selasa 18 Januari 2022, 23:25 WIB
Arteria dinilai tidak memiliki jiwa nasionalisme yang menjunjung tinggi perbedaan suku dan...
 ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Lecehkan Orang Sunda, Kang Emil Minta Arteria Dahlan Minta Maaf Terbuka

👤Arnoldus Dhae 🕔Selasa 18 Januari 2022, 23:15 WIB
Seharusnya, dia melihat perbedaan itu sebagai kekayaan. Tetapi dia melihat perbedaan itu sebagai sebuah ancaman dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya