Selasa 21 September 2021, 15:15 WIB

Napoleon Dapat Keistimewaan di Rutan, Pengacara: Tunggu Proses Hukum

Hilda Julaika | Politik dan Hukum
Napoleon Dapat Keistimewaan di Rutan, Pengacara: Tunggu Proses Hukum

Dok.MI
Ilustrasi

 

KUASA hukum dari Irjen Napoleon Bonaparte, Ahmad Yani, membantah kliennya meminta akses gembok standar dengan gembok ‘Ketua RT’. Sehingga bisa mengakses sel isolasi mandiri Muhammad Kece yang diduga dianiaya oleh Irjen Napoleon.

“Nggaklah, saya datang saja sesuai protap semua, jam besuk dll. Kita nggak dapat hak privilege tertentu. Jangan sampai mengorbankan orang yang tidak salah,” kata Ahmad kepada wartawan, Selasa (21/9).

Sementara itu, berdasarkan kamera CCTV di Rutan yang memperlihatkan Napoleon bersama 3 narapidana lainnya masuk ke dalam kamar M. Kece. Ahmad justru kembali berujar kalau hal itu bisa saja terjadi. Namun, pihaknya mengaku menunggu proses penyelidikan saja dan tak ingin menduga-duga.

“Bisa saja, bisa saja. Jadi kita gak mau menduga-duga. Karena ini sudah dalam proses penyelidikan dan penyidikan ya biarkanlah proses hukum itu yang berjalan. Napoleon Bonaparte kan siap untuk dipanggil, seperti itu. Makanya nantikan diukur siapa yang menjadi saksi, siapa yang melihat dan lain sebagainya,” rincinya.

Baca juga: Kontak Senjata dengan KKB di Papua, Prajurit TNI-AD Gugur

Sebelumnya disampaikan, Irjen Napoleon Bonaparte melakukan penganiayaan terhadap Muhammad Kosman alias Muhammad Kece dengan masuk ke sel isolasi mandiri korban.

Meski berstatus tahanan, Irjen Napoleon meminta petugas jaga rutan agar mengganti gembok standar dengan gembok 'Ketua RT'. Polisi pun menyebut permintaan Napoleon tersebut dituruti petugas lantaran pangkat jenderal bintang 2 atau irjen pasti dituruti petugas rutan yang pangkatnya Bintara.

"Ya kita tahu bersama yang jaga tahanan itu kan pangkatnya Bintara. Sementara pelaku ini pangkat nya perwira tinggi Polri. Ya (Napoleon berpangkat jenderal bintang 2). Dengan dia meminta supaya tidak usah menggunakan gembok standar itu pasti dituruti oleh petugas jaga," ujar Dirtipidum Bareskrim Brigjen Andi Rian Djajadi kepada wartawan, Selasa (21/9).

Phaknya pun saat ini tengah melakukan penyidikan alasan Irjen Napoleon diperlakukan berbeda dengan tahanan lain. Hanya, Andi menyebut kondisi psikologis penjaga rutan pasti berpengaruh saat seorang jenderal bintang 2 meminta Bintara melakukan sesuatu.

"Ya equality before the law inilah makanya saya sedang melakukan penyidikan terhadap yang bersangkutan. Kondisi psikologis tidak bisa kita abaikan pada saat peristiwa itu terjadi, di mana seorang perwira tinggi meminta kepada bintara supaya tidak usah gunakan gembok standar," ceritanya.

Untuk itu, kata Andi, Propam Polri turut dilibatkan dalam penyusutan kasus ini. Propam memeriksa petugas jaga rutan untuk mendalami apakah terjadi pelanggaran etika maupun disiplin saat dugaan penganiayaan Kace terjadi.

"Tentu proses ini juga sedang didalami teman-teman Propam untuk lihat apakah terjadi pelanggaran-pelanggaran etika atau disiplin terkait dengan proses jaga tahanan," imbuhnya. (OL-4)

Baca Juga

DOK. UNHAN

Prabowo Bakal Maju Lagi di Pilpres 2024, Gerindra: Disukai Kaum Milenial

👤Mediaindonesia 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 13:56 WIB
Dia mengatakan dari hasil survei menunjukkan di antara banyak calon presiden, Prabowo Subianto adalah sosok yang banyak digandrungi dan...
MI/Adam Dwi.

KPK Telisik Arahan Dodi Alex Noerdin terkait Proyek Pemkab

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 13:32 WIB
Dalam kasus itu KPK menetapkan tersangka Dodi Alex Noerdin, Kepala Dinas PUPR Herman Mayori, Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Eddi Umari,...
DOK DPR RI

Anggota DPR Sayangkan Kejadian Double Transfer Pada Insentif Nakes

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 13:07 WIB
Meminta kembali insentif yang telah ditransferkan bukan perkara mudah. Kejadian ini adalah kesalahan yang sangat fatal dan perlu...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya