Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA terus menghadapi ancaman ketahanan yang sangat beragam termasuk berupa ideologi. Pancasila sebagai pati pemikiran para pendiri bangsa harus digali dan digunakan sebagai tembok pertahanannya.
Komjen (Purn) Nurfaizi Suwandi menyarankan pemerintah membangun sistem the great wall interception of Indonesia. Tembok yang membentengi Indonesia dari pengaruh informasi negatif dari luar maupun dalam.
Ancaman dari luar berupa informasi yang dapat menyulut isu SARA dan paham yang bertentangan dengan Pancasila. Kemudian potensi negatif dari dalam berupa pemahaman yang menyebarkan intoleransi.
"Bentengnya kita harus mempunyai UU yang mengakomodir pencegahan atas tantangan kita ke depan. UU yang ada sekarang ini belum mengakomodirnya," ujarnya di sela-sela webinar bertajuk Pancasila dalam Tindakan: Membangun Ekosistem Keamanan Nasional Mewujudkan Indonesia Tangguh, Rabu (30/6)..
Ketersediaan regulasi, terang dia, nantinya harus didukung oleh sistem keamanan siber yang mumpuni dalam menangkal ancaman. Itu semua tidak akan sempurna ketika tidak dilengkapi dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh sendi kehidupan bangsa.
"Untuk itu maka setiap individu mulai dari keluarga, lingkungan, pekerjaan dan pendidikan harus membudayakan ajaran Pancasila yang merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia."
Pendiri SETARA Institute Antonius Benny Susetyo menambahkan, ancaman bangsa sangat beragam. Bahkan, yang terkini berupa penyalahgunaan teknologi untuk penyebaran isu SARA dan kebencian, fakta, dan data untuk kepentingan politik sesaat
Menurut dia, seluruh lapisan masyarakat mesti menggali dan mengamalkan Pancasila. Pasalnya ideologi bangsa mengandung berbagai obat penawar berbagai ancaman. "Untuk pemantapan Pancasila membutuhkan televisi nasional yang berisi program pendidikan nilai-nilainya. Misalnya film, drama sinetron yang mengungkap nilai-nilai baik dalam keluarga," paparnya.
Rasa ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, musyawarah mufakat dan persatuan mesti tersebar secara luas di masyarakat. Soko guru itu harus diarusutamakan termasuk di media sosial dan massa. "Kita sudah banyak melihat kehancuran suatu bangsa hanya akibat manipulasi data kebenaran seperti di negara-negara Arab. Konflik berkepanjangan pun tak terelakkan. Maka kita harus waspada."
Masyarakat, kata dia, harus cermat dalam menerima informasi dan menyaringnya. Ketika terdapat kabar hoaks mesti menjadi pemutus, bukan penerus. "Masyarakat harus menjadi pemutus kata, bukan peng-iya informasi hoaks," tegasnya.
Selain itu, Benny juga mengatakan Indonesia membutuhkan regulasi yang tegas untuk mencegah penyalahgunaan kebebasan berekspresi. "Itu seperti lewat revisi UU ITE dan lainnya," pungkasnya. (J-2)
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperingati Hari Ibu Tahun 2025 melalui kegiatan lokakarya tematik bertema Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045
ADA yang menarik dari teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai gerakan nasionalisme paling awal dan nyata
KETUA Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, menegaskan pentingnya membentuk generasi muda yang tangguh dan berjiwa nasionalis. Generasi muda harus siap berkorban untuk negara.
Nama “Bones” yang berarti tulang diangkat sebagai simbol kerangka nilai kebangsaan, fondasi yang menyatukan masyarakat Indonesia.
Sehingga film apapun yang dimunculkan ke publik yang mengangkat isu nasionalisme, termasuk film animasi viral yang akan tayang di bioskop pada 17 Agustus ini.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Bali Wayan Koster yang dalam beberapa program pembangunan telah menempatkan nasionalisme sekaligus mencintai produk lokal Bali.
Media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved