Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
JAKSA Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Kejaksaan Agung Ali Mukartono menyebut Menteri Koordintor Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD akan menengahi Kejaksaan dan Komnas terkait penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Menurut Ali, pihaknya masih menunggu pertemuan yang diiniasi Mahfud.
"Pokoknya nanti beliau ada di tengah. Nanti kita (Kejaksaan) dipertemukan lagi dengan Komnas apa engga, itu tergantung. Nanti tidak langsung kita dengan Komnas HAM," ujar Ali di Gedung Bundar Kejagung, Rabu (17/3).
Ali mengungkap dalam pertemuan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dan Mahfud pada Senin (15/3) lalu, pihaknya telah memaparkan beberapa masalah terkait penyelesaian kasus yang telah dilakukan Tim Khusus Penuntasan Dugaan Pelanggaran HAM yang Berat. Dalam pertemuan itu, disinggung pula soal temuan Timsus yang menilai bahwa UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM memiliki sejumlah masalah.
Menurut Ali, Kejaksaan akan menunggu sikap Mahfud dalam merespon kerja Timsus HAM menyelesaikan tunggakan kasus. Ia menjelaskan banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk melewati ganjalan UU yang menjadi syarat mutlak dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM.
"Pilihannya itu masih banyak, apakah (revisi) UU, apakah Perpu, apakah Perpres, atau PP (Peraturan Pemerintah), pilihannya beliau masih banyak. Nah itu urusan beliau lah," papar Ali.
Sebelumnya, Mahfud menyambangi kantor pusat Korps Adhyaksa dan membahas sejumlah hal dengan Burhanuddin. Kasus pelanggaran HAM berat, katanya saat itu, turut dibahas, namun tidak mendalam. Saat itu, Mahfud menyebut pemerintah serius menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.
"Kita merencanakan penyelesaian itu secara yudisial dan non yudisial," kata Mahfud.
Ketua Komisi Kejaksaan Barita LH Simanjuntak sempat menyinggung soal nihilnya landasan hukum bagi penyelesaian non yudisial terhadap kasus dugaan pelanggaran HAM. Padahal, landasan hukum bersifat mengikat dan memiliki kepastian apabila jalur non yudisial ingin ditempuh.
"Upaya untuk menyusun UU tentang penyelesaian kasus dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu lewat cara non hukum mesti disusun kembali," jelas Barita kepada Media Indonesia, Selasa (2/3).
Sebenarnya, Indonesia pernah memiliki Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi melalui UU No. 27/2004. Namun, Mahkamah Konstitusi mencabut UU tersebut pada 2006 melalui putusan No. 006/PUU-IV/2006.
baca juga: Komnas HAM : Penembakan 4 Laskar FPI Bukan Pelanggaran HAM Berat
Sementara itu, dalam wawancara kepada Media Indonesia, Maria Catarina Sumarsih yang merupakan orangtua Benardinus Realino Norma Irawan alias Wawan, korban Tragedi Semanggi I mengatakan keluarga korban kasus pelanggaran HAM berat hanya menghendaki penyelesaian kasus melalui proses yudisial. Selama ini, Sumarsih menilai pemerintah selalu mengarahkan penyelesaiannya secara non yudisial. Ia menyebut penyelesaian secara non yudisial merupakan langkah impunitas negara Indonesia sebagai negara hukum. (OL-3)
Budi Gunawan juga telah mendorong jajarannya untuk mengambil langkah-langkah segera dalam rangka evakuasi korban dan peningkatan pengamanan.
Menkopolhukam Budi Gunawan meminta masyarakat akan potensi cuaca ekstrem selama libur akhir tahun, dengan meningkatnya intensitas hujan di berbagai wilayah risiko banjor dan tanah longsor.
Menkopolhukam Budi Gunawan melakukan pengecekan pengamanan natal
Desk Koordinasi Pilkada Serentak Kemenkopolkam, memantau penyelenggaraan Pilkada di Sulawesi Tengah, sebagai wilayah masuk kategori rawan tinggi, Jumat (22/11).
RUU Perampasan Aset merupakan upaya untuk memperkuat langkah pemberantasan korupsi di Indonesia, yang diinisiasi oleh pemerintahan Presiden Ke-7 RI Joko Widodo.
Masa kerja satgas akan berakhir pada 31 Desember 2024.
Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung akan menghadirkan sejumlah tokoh sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang periode 2018-2023.
Fakta persidangan telah membuktikan nilai Rp 2,9 triliun bukanlah kerugian negara. Nilai itu adalah pembayaran Pertamina atas penyewaan tangki BBM milik PT OTM.
Kejaksaan Agung (Kejagung) membeberkan review singkat atas persidangan dugaan rasuah pada pengadaan sistem Chromebook di Kemendikbudristek.
Tim kuasa hukum Martin Haendra Nata menegaskan bahwa seluruh tindakan kliennya dalam perkara tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina telah dijalankan sesuai prinsip GCG.
Anang mengajak masyarakat turut memantau semua proses RJ yang terjadi di Indonesia. Jika mengendus adanya transaksional, masyarakat diharap melapor.
Menurut Anang, perbedaan ini bukan masalah serius. Penyesuaian juga diyakini tidak akan lama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved