Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH aktivis masyarakat sipil menduga adanya motif ekonomi di balik adanya desakan untuk tetap menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 pada Desember mendatang.
Dengan demikian pemerintah mendapatkan kesan positif bahwa Indonesia mampu mengatasi pandemi Covid-19.
“Sehingga mereka memaksakan untuk menyelenggarakan Pilkada dengan tujuan ekonomi tetap bergerak,” kata Pendiri sekaligus Peneliti Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) Hadar Nafis Gumay dalam diskusi daring, Rabu (27/5).
Hadar mengungkapkan adanya upaya-upaya untuk menimbulkan kesan bahwa situasi di Indonesia sudah membaik. Sehingga masyarakat seakan diajak untuk melakukan kegiatan kembali sekalipun itu dengan protokol Covid-19 yang ketat.
“Ini kan semua demi perputaran roda ekonomi saja. Namun saya kira itu kesimpulan yang terlalu dini,” tegasnya.
Baca juga :Pengawasan PSBB oleh TNI-Polri Berpeluang Lanjut ke Wilayah Lain
Karena itu, Hadar dan sejumlah elemen masyarakat sipil lain mendesak para penyelenggara pemilu untuk mengambil langkah tegas menunda pelaksanaan Pilkada Serentak ke 2021. “KPU harus mengambil langkah tegas dan berani untuk mengambil posisi berbeda dengan pemerintah dan DPR. Nyawa yang harus diutamakan,” ujarnya.
Sedangkan Peneliti Pusat Kajian Politik (Puskapol) UI Huriyah menyebutkan, apabila pemerintah dan DPR tetap memaksakan penyelenggaraan Pilkada pada Desember 2020, maka kedua institusi tersebut menggunakan cara-cara non-demokratis untuk membuat kebijakan. Kedua institusi tersebut seperti merasa paling tahu persoalan yang ada di dalam negara dengan mengabaikan aspirasi masyarakatnya. “Justru mencederai proses demokrasi itu sendiri walaupun dipilih melalui proses demokrasi,” ujarnya.
Sedangkan Peneliti PUSaKO FH Unand feri Amsari berharap agar pemerintah dan DPR tidak mengorbankan penyelenggara pemilu dengan memaksakan penyenggaraan Pilkada Serentak ini. “Kita sudah tahu pada Pemilu 2019 sudah banyak korban. Sementara saat ini sudah jelas ancamannya. Jangan sampai menimbulkan banyak korban lagi,” jelasnya.
Hingga berita ini ditulis, petisi yang bertopik 'Keselamatan dan Kesehatan Publik Terancam, Tunda Pilkada ke 2021' sudah ditandatangai 733 orang. Petisi tersebut bisa diakses di tautan http://chng.it/b7TfXpvmGg. Sejumlah pegiat pemilu yang ikut menggagas petisi tersebut antara lain Netgrit, Netfid, Perludem, PUSaKO FH Unand, Puskapol UI, Rumah Kebangsaan, Kopel, JPPR, KIPP Indonesia, PPUA Disabilitas. (OL-2)
Menurut Khofifah, ini sangat penting sebab dalam waktu dekat di Jawa Timur terdapat 18 kabupaten, kota, dan provinsi yang akan dipimpin penjabat.
Berikut doa-doa mohon pemimpin yang diajarkan Rasulullah SAW dan para ulama.
Yuks pantau jadwal Pileg, Pilpres, dan Pilkada. Ini Jadwal tahapan pemilu yang dikeluarkan KPU.
Masyarakat Jakarta dapat menjagokan salah satu dari 10 bakal calon gubernur yang telah melalui seleksi ketat PSI.
Berikut doa-doa untuk memperoleh pemimpin yang baik dalam rangka menyambut pemilihan umum.
Sejumlah nama yang sudah masuk bursa calon Wali Kota Bandung ialah Atalia Praratya, M Farhan, Erwin, Siti Muntamah dan Budi Dalton
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved