Sabtu 22 Februari 2020, 15:57 WIB

Kenduri Kebangsaan Bagian Merajut Keislaman dan Keindonesiaan

Henri Siagian | Politik dan Hukum
Kenduri Kebangsaan Bagian Merajut Keislaman dan Keindonesiaan

Instagram @lestarimoerdijat
Ketua Yayasan Sukma Lestari Moerdijat

 

KETUA Yayasan Sukma Lestari Moerdijat menilai Kenduri Kebangsaan di Kabupaten Bireuen, Aceh, adalah bagian dari konsolidasi dan tidak terlepas dari semangat empat pilar kebangsaan.
 
Acara yang antara lain juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Ketua Pembina Yayasan Sukma Surya Paloh tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Sukma dan Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR RI-DPD RI asal Aceh.

Baca juga: Puji Tarian Ratoh Jaroe, Presiden Jokowi: Dinamis, Keislaman

"Kenduri ini adalah bagian dari merajut kebangsaan dan keindonesiaan, merajut kebangsaan Indonesia tentu tidak lepas dari semangat dan filosofi dari empat pilar kebangsaan Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika," kata Lestari di Sekolah Sukma Bangsa, Bireuen, Aceh, Sabtu (22/2).

"Pada saat itu, kawan-kawan menyampaikan kepada Pak Surya, kondisi yang terjadi di Aceh pasca pemilu legislatif dan pemilu presiden," kata dia seperti disitat dari Antara.

Baca juga: Surya Paloh Ingin Perubahan Cara Berpikir soal Dana Otsus Aceh.

Pasca-pemilu, kata dia, masyarakat di Aceh masih terpecah dan terbelah. "Padahal, pusat semuanya sudah melakukan rekonsiliasi. Biasa kalau pendulum tuh goyangannya kan kecil di atas tetapi di bawahnya luar biasa. Oleh sebab itu akhirnya Pak Surya menyampaikan, kalau begitu mari kita laksanakan rekonsiliasi," ucap Lestari.

Dan bentuk yang paling tepat dan sesuai dengan kearifan lokal di Aceh, jelas dia, adalah tradisi kenduri. "Di mana ketika orang melakukan kenduri, semua duduk bersama, sama rata sama rasa, dan dari semua golongan. Tradisi ini kita ambil karena dengan kenduri ini kita harapkan kita bisa memulai sesuatu dengan baru," ujar dia.

Baca juga: Plt Gubernur Minta Maaf Jokowi Kalah di Aceh, Ini Jawaban Jokowi

Adapun alasan penyelenggaraan kenduri tersebut di Bireuen, menurut dia, tidak lepas dari faktor sejarah.

"Kita tahu bagaimana Bireuen pernah menjadi pusat pendidikan. Selain itu, orang terkadang lupa kalau Bireuen pernah dalam waktu yang pendek menjadi ibu kota negara. Waktu itu Belanda mengatakan agresi II sudah merebut kembali Indonesia. Akan tetapi, dari Bireuen siaran radio menembus sampai India memberitahu Indonesia masih ada dan ibu kotanya di sini," kata dia.

Turut hadir dalam acara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hajimuljono, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, dan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. (X-15)

Baca Juga

MI/Susanto

Penegakan Prokes, Kejaksaan Dukung Tindakan Represif Aparat

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 02 Desember 2020, 22:56 WIB
Kesadaran hukum masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran...
Antara

Saksi Ungkap Nurhadi Lakukan Negosiasi Harga Kebun Sawit di Hotel

👤Tri Subarkah 🕔Rabu 02 Desember 2020, 22:40 WIB
Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyanto menjadi terdakwa dalam kasus dugaan gratifikasi pengurusan...
Antara

Menantu Nurhadi Klaim Sudah Kembalikan Rp35 Miliar ke Hiendra

👤Ant 🕔Rabu 02 Desember 2020, 22:00 WIB
Tak hanya uang, Rezky juga disebut telah memulangkan kebun kelapa sawit ke...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya