Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
KOMISI Pemberantasan Korupsi meminta Kementerian Sosial untuk terus memperbaiki data terkait dengan warga miskin. Perbaikan data diperlukan agar bantuan dan subsidi yang diberikan pemerintah bisa tepat sasaran dan efektif. Selain itu, keakuratan data juga diperlukan untuk meminimalisasi potensi penyimpangan.
"Bantuan sosial kalau datanya lebih akurat akan jauh lebih efektif untuk siapa yang betul-betul membutuhkan," kata Ketua KPK Agus Rahardjo usai menerima Menteri Sosial Juliari Batubara di Gedung KPK, Jakarta, Senin (4/11).
Jajaran KPK menerima rombongan Mensos Juliari yang berkonsultasi mengenai pengawasan program-program di kementerian. Dalam pertemuan yang tertutup untuk awak media itu, dia mengatakan Kemensos ingin menguatkan komitmen bersinergi dalam rangka pencegahan korupsi di lingkungan kementerian.
Menurut Agus, kedua pihak sepaham agar pemerintah bisa segera meningkatkan akurasi data warga miskin. Agus mengatakan ketidakakuratan data menyebabkan bantuan dan subsidi salah sasaran dan tidak diterima warga miskin yang berhak menerima. Ia mencontohkan hal itu terjadi pada subsidi gas elpiji 3 kg.
"Contohnya gas melon untuk orang miskin yang kemudian kemana-mana (penerima subsidinya). Itu subsidinya sangat besar Rp77 triliun dan sangat tidak efisien kalau tidak tepat sasaran," ujarnya.
Baca juga: Menteri Sosial Sambangi KPK
Agus melanjutkan, keakuratan data warga miskin menyangkut banyak program pemerintah. Antara lain subsidi iuran BPJS, bantuan pendidikan, listrik, subsidi pupuk dan lainnya. Perbaikan data bisa membuat anggaran yang dikeluarkan pemerintah lebih efisien. KPK meminta sinkronisasi data warga miskin dan koordinasi antarkementerian ditingkatkan.
"Kalau kita bisa mengolah data itu dengan baik, efisiensi untuk anggaran kita akan sangat besar," tuturnya.
Mensos Juliari sepakat perbaikan akurasi data warga miskin perlu dilakukan. Pasalnya, data-data yang lebih akurat akan sangat berpengaruh kepada kualitas program-program pemerintah di bidang kesejahteraan sosial. Saat ini, kata Juliari, Kemensos memperbaiki pengelolaan data agar dikelola secara terpadu.
Terkait dengan perbaikan akurasi data, ia menyebut membutuhkan sinergi dengan kementerian lain seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian.
"Data warga miskin yang lebih akurat akan sangat berpengaruh kepada kualitas program-program pemerintah untuk kesejahteraan sosial. Kami akan segera menindaklanjuti berkoordinasi dengan kementerian-kementerian lain," jelas Juliari.(OL-5)
Masalah dalam kasus ini adalah karena adanya selisih dalam pembayaran iklan BJB ke media masa. Uang yang lebih bukan dikembalikan, namun, malah dijadikan dana non-budgeter.
Buruh merupakan korban dalam kasus ini. Noel cs menarget pekerja untuk memberikan uang demi kekayaan pribadi, dengan memanfaatkan syarat sertifikat K3 dalam bekerja.
Kementerian Haji diharap membuat pelaksanaan ibadah ke Tanah Suci itu menjadi lebih baik.
KPK meyakini Noel menerima aliran dana lebih dari Rp3 miliar dan Motor Ducati. Penyidikan masih berlangsung.
KPK mengategorikan kasus korupsi di LPEI menjadi beberapa klaster. Jika ditotal semua, kerugian negara menyentuh 11 triliun.
Kepala Negara menekankan yang bersangkutan seharusnya mempertimbangkan perasaan keluarga. Terlebih, ketika keluarga harus melihat yang bersangkutan diborgol.
Lembaga Demografi UI mengungkap masih banyak lansia di Indonesia yang hidup miskin dengan kesehatan buruk masih harus terus bekerja.
Wamensos Agus Jabo Priyono menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. Sebab, Sekolah Rakyat merupakan salah satu program untuk memutus kemiskinan
Prabowo menekankan, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya besar pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan.
Video bocah Gowa pungut snack pejabat usai HUT ke-80 RI viral. Fakta di baliknya ungkap ironi kemiskinan, dana publik terbuang, hingga reaksi Kapolres.
Penyaluran bantuan sosial (bansos) yang mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) akan lebih baik.
Lembaga Riset dan Data Analisis Sigmaphi 118,73 juta orang atau 42,9% penduduk Indonesia pada tahun 2023 hidup dalam kondisi tidak layak.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved