Jumat 31 Mei 2019, 18:18 WIB

MUI : Harus Ada Indikator Jelas Penyebutan Radikalisme di Kampus

Indriyani Astuti | Politik dan Hukum
MUI : Harus Ada Indikator Jelas Penyebutan Radikalisme di Kampus

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Amirsyah Tambunan

 

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) meyakini harus ada indikator mengenai dugaan masuknya paham radikalisme di institusi pendidikan tinggi terutama dalam dakwah.

Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Amirsyah Tambunan mengatakan masalah radikalisme atau pemikiran radikal harus dilihat secara jelas.

Menurutnya ada faktor-faktor yang melatarbelakangi seseorang bertindak radikal seperti adanya kekecewaan, ketidakadilan dan tidak berlakunya sistem perundang-undangan sehingga mendorong ketidakpercayaan terhadap otoritas negara.

Ia menjelaskan istilah radikalisme, bukan berasal dari umat muslim. Melainkan dikembangkan oleh negara-negara Uni Eropa untuk menaklukkan negara jajahannya. "Istilah radikalisme dikembangkan oleh uni Eropa dan dijual ke negara jajahannya," terangnya di Kantor Pusat MUI, Jakarta, seusai menyampaikan tausiyah menjelang Idul Fitri 1Syawal 1440 Hijriah, pada Jumat (31/5).

Baca juga: 5 Jurus IAIN Halau Radikalisme

Selain itu, menurutnya ada pula pelabelan lain yang mendeskriditkan umat muslim secara regional dan global seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika Serikat mengembangkan metode lain tentang islamophobia atau suatu sikap seperti ketakutan dan kebencian terhadap segala yang berbau islam dengan menyebut sekelompok umat muslim sebagai extrimis dan teroris.

"Istilah terorisme dan violance extrimism tidak ada kaitan agama sekali. Tapi untuk merusak citra umat islam seakan-akan umat islam ekstrimis, radikalisme. Itu sering dikaitkan dengan jihad, padahal tidak ada kaitannya. Jihad, oleh kaum barat sering dikaitkan dengan ekstrimisme dan radikalisme," tuturnya.

Jihad, terang KH. Amirsyah, merupakan hal yang harus dilakukan umat muslim dalam kehidupan. Jihad dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti belajar atau berdakwah. Sementara itu, Ketua MUI Bidang Kerukunan antar Umat Beragama H. Yusnar Yusuf mengatakan MUI sangat berhati-hati dalam menyatakan dakwah yang disampaikan oleh para ulama maupun kyai mengandung unsur radikalisme. Menurutnya harus dilihat konteks ceramah secara cermat.

"Apabila memang ada indikasi tersebut bisa dilaporkan ke MUI. Kami akan mempelajarinya," tuturnya.

Seperti yang diberitakan oleh Media Indonesia pada (28/5), hasil riset lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan Universitas Sebelas Maret menunjukan lembaga dakwah kampus ditenggarai menjadi pintu masuk berkembangnya radikalisme. (OL-4)

Baca Juga

MI/Bagus Suryo

Panglima TNI: DOB Diharapkan Kurangi Jumlah KKB

👤Tri Subarkah 🕔Rabu 08 Februari 2023, 19:58 WIB
PANGLIMA TNI Laksamana Yudo Margono mengatakan pemekaran provinsi di Papua diharapkan mampu mengurangi jumlah kelompok kriminal bersenjata...
MI/Bagus Suryo.

Pilot Susi Air yang Hilang Kontak sudah Terdeteksi

👤Tri Subarkah 🕔Rabu 08 Februari 2023, 18:03 WIB
Philips telah bergeser 100 meter dari Paro berdasarkan sistem pemosisi global (GPS) yang...
Ist

Akademisi: Hindari Politik Identitas, Bangun Iklim Demokrasi yang Sehat

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 Februari 2023, 17:25 WIB
Demokrasi yang kondusif bisa lahir dari masyarakat yang telah mendapatkan pendidikan politik dan konsep kebangsaan secara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya