Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITISI PKB Lukman Edy menilai puisi doa Neno Warisman dalam acara Munajat 212 merupakan puncak kebohongan yang dilakukan kubu capres-cawapres nomor urut 02.
"Doa sesat Neno Warisman adalah puncak dari kebohongan yang dibangun," kata Lukman Edy dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (23/2).
Lukman mengatakan puisi doa Neno Warisman yang merupakan bagian tim sukses Prabowo-Sandi tidak lagi menyasar umat Islam tapi bangsa Indonesia atau berupaya mendelegitimasi KPU.
Puisi doa yang berisi kebohongan itu, menurutnya, disodorkan kepada Allah SWT.
"Ini di luar batas orang normal, di luar kebiasaan akal sehat," katanya.
Wakil Direktur Bidang Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin itu mengatakan, dalam puisi doanya, Neno menyatakan tidak akan ada lagi orang menyembah Allah SWT jika Jokowi menang.
"Dia tidak pantas mengucapkan doa itu, apalagi hanya untuk sebuah tujuan menang pemilu. Ini adalah kebohongan dan hoaks kepada Maha Pencipta, Allah SWT," tegasnya.
Baca juga: Viral Doa Neno Warisman, PPP: Doa Seharusnya Menyejukkan
Lukman mengingatkan sebelumnya kubu Prabowo telah berulang kali melakukan kebohongan. Misalnya, dengan mendesain ijtima ulama dan menggiring opini umat Islam, dengan cara mengatakan Prabowo akan menggandeng beberapa ulama populer sebagai calon pasangannya.
Namun, faktanya, Prabowo malah menggandeng Sandiaga Uno dengan pertimbangan memiliki dana kampanye yang melimpah, serta belakangan menyatakan Sandiaga adalah ulama milenial.
Selain itu, kata dia, kubu Prabowo melalui Ratna Sarumpaet juga berbohong menciptakan dramatisasi operasi plastik untuk membuat hoaks soal kriminalisasi.
Kemudian kubu Prabowo juga kerap berupaya mengkriminalisasi KPU dengan berbagai tudingan seperti soal DPT ganda, kotak suara kardus, temuan kontainer surat suara tercoblos, hingga tudingan soal penyelenggaraan debat capres yang berpihak.
"Sasaran mereka menggertak KPU dan membangun opini bahwa KPU tidak profesional, penuh kecurangan, tidak independen, tidak netral, dan pantas untuk ditolak hasil pemilunya kalau Joko Widodo yang menang," kata Lukman. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved