Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
RUMAH Cemara menjadi tempat gelaran perdana Rabu Satu Talkshow, sebuah helatan diskusi ringan yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, komunitas serta mengundang sosok-sosok yang kita temui sehari-hari. Orang-orang baik yang bekerja keras karena ingin maju.
Rabu Satu Talkshow yang perdana ini mengusung tema diskusi “Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.”
Sesi talkshow Rabu Satu dibuka oleh Fiki Satari selaku Direktur Konten Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang memaparkan beragam capaian pemerintah berkaitan dengan alam dan lingkungan hidup.
Dalam kesempatan tersebut Fiki Satari menggaris bawahi komitmen dan harapan Jokowi untuk sumber daya alam dan lingkungan hidup Indonesia.
“Ke depan, penguatan tata kelola sumber daya alam, khususnya untuk menjamin ketahanan pangan, pengembangan ekonomi kerakyatan, dan tentunya konservasi lingkungan akan lebih ditingkatkan,” ditegaskan Fiki Satari dalam kesempatan tersebut seperti dilansir keterangan resmi, Kamis (7/2).
Bertindak sebagai moderator adalah Emmy Hafild, seorang aktivis lingkungan senior yang mengawali sesi diskusi dengan memaparkan beberapa pencapaian fantastis pemerintahan Jokowi.
Usai paparan tersebut Emmy mengundang Hamzah sebagai perwakilan Paguyuban Tani Sunda Hejo, Garut, Jawa Barat untuk berbagi pengalaman selaku masyarakat yang merasakan dampak baik Perhutanan Sosial.
Program ini efektif memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola sumber daya alamnya sesuai dengan kearifan lokal. Keterlibatan aktif dari warga, termasuk petani perempuan, juga memungkinkan peningkatan kesejahteraan yang sebelumnya tidak optimal.
“Adanya program Perhutanan Sosial memungkinkan 35 tahun bagi petani untuk mengelola lahannya dengan tenang. Tanah pun boleh diwariskan, sepanjang tidak disalahgunakan,” ujar Hamzah.
Capaian akses Perhutanan Sosial melesat pesat di bawah kepemimpinan Jokowi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, selama kurun waktu tujuh tahun (2007-2014) hanya 0,46 juta ha lahan yang dikelola masyarakat. Angka ini meningkat 450% dalam waktu 4 tahun (2015-2018). Lebih dari 267.000 keluarga telah merasakan manfaat program ini.
Baca juga: Petahana Dinilai Sukses Kelola Lingkungan
Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, yang dihadirkan sebagai salah satu narasumber dalam Rabu Satu perdana juga membenarkan pernyataan Hamzah.
“Solusinya memang pengelolaan hutan oleh masyarakat. sebagai bentuk nyata dari konsep program Perhutanan Sosial yang digagas oleh pemerintahan Jokowi," tambah Chalid.
Dalam sesi berikutnya yang diisi oleh Agus Sari, seorang aktivis dan pengamat lingkungan hidup juga ditambahkan bagaimana kinerja pemerintahan Jokowi sukses menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak buruk bagi kualitas hidup puluhan juta masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera, yang selama bertahun-tahun sebelumnya terus terganggu asap karhutla.
“Bayangkan sudah lebih dari dua dekade permasalahannya itu-itu saja (karhutla, red). Sekarang 90% kebakaran hutan kita itu sudah menurun, lebih dari 60% kerusakan hutan kita sudah membaik, dan itu akan diteruskan," tegas Agus Sari saat membahas perihal karhutla.
Dampak baik bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi dirasakan masyarakat secara langsung dengan adanya program Perhutanan Sosial.
Hal tersebut disampaikan Aang, seorang petambak udang dari Kelompok Tani Mina Bakti, Muara Gembong, Bekasi.
“Dulu penghasilan petambak udang di Muara Gembong hanya sekitar 15 juta per 6 bulan per petambaki. Kini berhasil memperoleh 325 juta per 6 bulan per petani berkat program Perhutanan Sosial,” Aang menambahkan.
Dalam kesempatan yang sama narasumber ketiga, Riza Damanik, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menegaskan, “Pondasi empat tahun terakhir cukup kuat untuk Indonesia menjadi pemain utama perikanan dunia dan terus terpenuhinya konsumsi domestik karena sumber pangan laut yang abadi.”
Diskusi Hangat di Rabu Satu
Antusiasme pengunjung Rabu Satu terlihat sangat tinggi dengan munculnya beberapa pertanyaan saat sesi tanya jawab dibuka kepada para masyarakat penerima manfaat program pemerintah yang dihadirkan. Tati, salah satu audiens dalam Rabu Satu bahkan menyebutkan keinginannya untuk mengunjungi Muara Gembong untuk melihat langsung aktivitas usaha para anggota kelompok tani tambak udang Mina Bakti setelah mendengar langsung paparan dari Aang.
Tidak tanggung-tanggung salah satu audiens yang berasal dari Sulawesi Tenggara, Sucianti, bahkan mengundang perwakilan Mina Bakti dan Sunda Hejo untuk hadir ke Sulawesi Tenggara dan berbagi ilmu untuk diterapkan di Sulawesi Tenggara.
Sesi tanya jawab tersebut sekaligus menjadi rangkaian sesi penutup dari Rabu Satu Talkshow edisi perdana ini. Ke depannya Rabu Satu Talkshow akan terus digelar setiap Rabu sore dan membahas topik-topik menarik lainnya. (OL-3)
Analisis mendalam dampak penaburan Kapur Tohor (CaO) dalam modifikasi cuaca. Pelajari efek eksotermik, risiko alkalinitas, dan manfaat mitigasi bencana.
Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus menjadi perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.
Industri kelapa sawit terus dipandang sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional,
Di luar sanksi hukum, WALHI Sumut menekankan pentingnya agenda pemulihan ekosistem yang terencana, terukur, dan melibatkan masyarakat terdampak.
Menag juga mencontohkan perilaku ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi SAW untuk berhemat air saat berwudu.
Baterai kertas umumnya menggunakan substrat berbasis selulosa, yakni kertas, sebagai struktur utama yang digabung dengan material elektroda dan elektrolit yang aman serta mudah terurai.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved