Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Indikator: Pendukung Capres Seakan Hidup Dalam Dunia Berbeda

Nurjiyanto
08/1/2019 18:15
Indikator: Pendukung Capres Seakan Hidup Dalam Dunia Berbeda
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

LEMBAGA survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait Pilpres 2019 yang dilakukan pada 16-26 Desember 2018. Dalam salah satu variabel survei yakni terkait adanya isu hoaks maupun isu miring yang dikaitkan kepada para kandidat paslon disimpulkan bahwa penggunaan narasi tersebut hanya berpengaruh terhadap para pemilih dari kelompok internal setiap paslon saja.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mencontohkan dari adanya tuduhan terhadap Joko Widodo yang terlahir dari orang tua beragama Kristen mayoritas para pendukung Jokowi tidak mempercayai hal tersebut.

Begitu pula dengan isu miring terkait keterlibatan Prabowo dalam penculikan aktivis 97/98 yang ditanggapi oleh para pendukung Prabowo dengan respon tidak percaya.

"Sikap publik terpapar oleh isu-isu personal capres tampak sangat dipengaruhi oleh faktor partisan. Ada persoalan polarisasi bahwa kedua pendukung hidup di dunia berbeda. Pendukung Jokowi punya rasionalisasi sendiri dan pendukung Prabowo juga punya rasionalisasi sendiri," ujarnya saat memaparkan hasil survei tersebut di kantor Indikator, Cikini, Jakarta, Selasa (8/1).

Dalam temuanya, ada sebesar 84 persen responden dari basis Jokowi-Ma'ruf yang tidak percaya terkait tuduhan pada Joko Widodo yang terlahir dari orang tua beragama Kristen. Sementara dari basis Prabowo-Sandi ada 30 persen yang mempercayai hal tersebut.

Begitupun dengan isu miring terkait keterlibatan Prabowo dalam penculikan aktivis 97/98. Sebanyak 63 persen pendukung Prabowo tidak memercayai hal tersebut. Sedangkan 65 persen pendukung basis Joko Widodo mempercayai hal itu.

Dirinya menuturkan sikap para pemilih yang mendominasi sikap publik terkait isu-isi pesonal capres disebabkan oleh adanya efek patisan. Dimana hal tersebut membuat adanya kecenderungan para pemilih partisan akan menolak informasi-informasi yang menyudutkan paslon secara personal jika hal tersebut berdampak negatif.

"Sikap partisian ini menjadi pertimbagan pemilih dimana mereka punya pilihan terlebih dahulu baru mencari tau. Sehingga bukan isu atau informasi yang menggerakan sikap politik mereka," ungkapnya.

Sementara terkait dari mana para responden mengakses isu-isu personal para paslon pilpres sebanyak 44.8% responden mengaku sering mengakses melalui konten yang ada di Internet. Jumlah tersebut hanya kalah satu peringkat dari sumber informasi mainstream yakni televisi sebesar 54.5%.

Sedangkan dari penggunaan media sosial, platform Facebook diakui oleh 54 persen responden sebagai sarana dalam mengkases informasi, disusul Youtube sebesar 37,3%, Instagram 28%, dan Twitter sebesar 3,2%.

Ditempat yang sama, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Kuskridho Ambardi menuturkan adanya temuan tersebut dapat dilihat bahwa saat ini para pemilih khususnya pemilih partisan akan lebih mencari informasi yang cocok dengan pandangan politiknya.

Dengan demikian dirinya memandang pertarungan saat ini ada khusunya di lingkup pemilih yang masih belum menetukan pilihannya. Pasalnya, kategori pemilih tersebut akan lebih rasional dan menunggu hingga adanya tawaran-tawaran substantif secara program. Disinilah momem debat menurutnya dapat dimanfaatkan oleh para paslon dalam menggaet para pemilih yang masih belum menentukan pilihannya.

"Sebaiknya kita dorong kampanye rasional bukan hoaks karena ada itu ada limitnya," ungkapnya.

Surevi ini dilakukan pada pada 16-26 Desember 2018 dengan populasi responden sebagai sample sebanyak 1220 orang dengan menggunakan metode multistage random sampling. Untuk margin of error dalam survei ini sebesar 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya