Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SANDIWARA penolakan Sandiaga Uno di pasae Kota Pinang dianggap mudah terbaca dan tak sistematis. Dari kacamata analisis media dan komunikasi, desain sandiwara tersebut dapat terlihat dari banyak sisi.
"Analisis saya kalau dari sisi pemberitaan ini seperti ada paradoks. Artinya di satu sisi ada poster menolak dan meminta Sandi pulang, tapi di sisi lain ada poster lain yang berbunyi apapun alasannya tetap mendukung Jokowi. Kalau politik itu benar, maka itu politik yang kasar," ujar analis media, Rahmat Said, ketika dihubungi, Sabtu, (15/12).
Cara seperti itu dinilai Rahmat tak mungkin dilakukan oleh tim kampanye Jokowi atau siapaun, karena cenderung tidak profesional.
"Hal itu sama dengan memberi pengakuan pelaku penolakan, itu secara logika tidak mungkin ada serangan politik tetapi kemudian langsung secara eksplisit menyatakan dia yang melakukan. Itu kan tidak mungkin," ujar Rahmat.
Dilanjutkan oleh Rahmat, dari sisi narasi di poster, ia tidak menangkap itu sebagai narasi aspirasi. Namun, lebih bisa ditangkap sebagai bahasa komunikasi. Isi poster penolakan dikayakan Rahmat sangat bergaya konsultan komunikasi, tidak mencerminkan aspirasi warga pedagang pasar tersebut.
"Bahasa-bahasa konsultan, seperti jangan pisahkan kami dan lain-lain itu. Untuk masyarakat di pasar itu seperti tidak nyambung. Kalau aspirasi itu seperti turunkan harga bahan pokok, dan lain-lain. Itu sangat politis dan patut diduga itu adalah narasi konsultan, narasi komunikasi," ujar Rahmat.
Keanehan juga muncul karena arah perjalanan Sandi yang sangat tepat menuju lapak yang terpajang poster. Padahal pasar memiliki banyak lapak dan jalan yang mungkin untuk dilewati.
"Seperti sudah ditunjukkan jalan," ujar Rahmat.
Hal lain yang semakin menguatkan adanya skenario penolakan ialah tidak adanya sumber informasi mengenai kejadian tersebut yang berasal dari publik atau wartawan secara lansung. Berita itu mendadak muncul hanya setelah ada unggahan di beberapa media sosial Sandiaga Uno dan beberapa orang dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.
"Kenapa rangkaian kunjungan itu tidak memiliki pemberitaan yang alamiah. Hampir semua pemberitaan soal kejadian itu hanya bersumber dari video yang telah diunggah di akun sosial media Sandi. Isi berita yang kemudian beredar semuanya juga berasal dari berita atau pernyataan tertulis yang dibuat tim BPN. Semua narasinya sama," ujar Rahmat.
Mengenai video yang menunjukkan sempat ada pihak yang ingin menurunkan poster penolakan, Rahmat berpendapat besar kemungkinan itu dilakukan sebagian orang yang tidak mengetahui rencana sandiwara penolakan. Itu mengapa upaya pencopotan akhirnya juga bersikeras dilarang.
"Jadi mau menciptakan narasi jika pihak pertama menolak, sementara pihak lain yakni Sandi bersikap legowo," ujar Rahmat.
Melihat dari kejanggalan-kejanggalan itu, Rahmat berpendapat jika sangat besar kemungkinannya jika kejadian itu merupakan rekayasa dan trik kampanye. Ada dugaan pengkondisian komunikasi yang sangat vulgar tetapi tidak cantik.
"Kalau benar ini rekayasa, ini sangat kurang sistematis. Karena mudah dibaca kejanggalannya," tutup Rahmat. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved