Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KUBU pembela Prabowo-Sandiaga saat ini semakin gencar menggaungkan sosial media sebagai sumber informasi. Mereka juga sempat mengajak pendukungnya untuk meninggalkan media massa dan beralih ke media sosial.
"Media-media yang kondang, media-media dengan nama besar, media-media yang mengatakan dirinya obyektif, bertanggungjawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab. Mereka bagian dari usaha manipulasi demokrasi," ujar Prabowo, di Jakarta, (5/12).
Peneliti PARA Syndicate, Bekti Waluyo mengatakan, pernyataan dan sikap kubu Prabowo-Sandiaga pada media itu adalah bagian dari strategi kampanye. Mereka ingin agar masyarakat lebih melihat informasi yang disebarkan tim kampanyenya lewat media sosial.
Selain itu, media juga digunakan sebagai salah satu sumber big data untuk mengetahui kondisi terkini masyarakat. "Itu sebenarnya tidak akan berpengaruh besar, karena juga tidak mungkin atau sulit bila mau membuat benar-benar meninggalkan media massa, paling hanya lebih selektif aja," ujar Bekti, di PARA Syndicate, Jakarta, Jumat, (14/12).
Menanggapi hal, Bekti berpendapat bahwa tidak perlu ada respon serius dari kubu Jokowi. Kubu Jokowi dinilai lebih baik fokus pada pola dan cara kampanye yang telah selama ini diterapkan.
"Menurut saya kubu Jokowi tetap saja dengan pola awal, dengan apa yang mereka punya. Pak Jokowi kan punya gaya yang manis ya, dengan bahasa yang egaliter ke pasar-pasar, ke teman budayawan dan blogger juga sudah bagus," ujar Bekti.
Bekti mengatakan, kubu Jokowi tidak perlu sibuk untuk berusaha menguasai media sosial sama seperti kubu Prabowo. Media sosial dianggap dikuasai oleh millenial, sementara millenial sudah memiliki suara dan pemikiran sendiri yang tidak mudah bisa diubah oleh gerak kampanye.
Senada dengan Bekti, peneliti PARA Syndicate lainnya, Ari Nurcahyo mengatakan, kubu Jokowi memang lebih baik fokus pada kampanye mereka yang mengedepankan data dan hasil kerja. Tidak perlu terbawa arus dan cara kampanye kubu Prabowo-Sandiaga.
"Kubu Jokowi sempat terhanyut dengan gaya politik yang dilemparkan kubu lawan. Itu hal yang tidak perlu lagi dilakukan," ujar Ari.
Ia mengatakan, pola respon yang reaktif di media sosial merupakan hal yang tidak perlu dilakukan. Fokus kampanye harus dilakukan dengan tidak terpengaruh kubu lawan.
"Pergerakannya di darat harus dimaksimalkan. Karena serangan darat itu yang lebih penting. Sebesar-besarnya pengaruh serangan di udara itu paling hanya 30%. Jadi kampanye di darat yang harus digencarkan untuk tingkatkan elektabilitas," ujar Ari. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved