Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Psikologi Politik Hamdi Muluk mengatakan insiden penolakan terhadap Cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno di Pasar Kota Pinang, Labuhan Batu, Sumatera Utara yang terindikasi direkayasa bisa diartikan sebagai upaya playing victim.
Hami mengatakan playing victim kerap digunakan dalam proses politik untuk menggaet suara dan simpati dari publik.
"Playing victim sering dipakai untuk mendapatkan simpati dari publik," kata Hamdi ketika dihubungi Kamis (13/12).
Hamdi mengatakan playing victim juga dilakukan untuk memberikan anggapan kepada masyarakat bahwa kubu petahana bersikap sewenang-wenang terhadap oposisi. Upaya ini juga memberikan kesan bahwa oposisi merupakan pihak yang tidak berdaya dan pemerintah berkuasa dan memiliki kekuatan yang menindas.
Baca juga: Tanggapi #Sandiwarauno, Erick Thohir: Ini Pemilu, Bukan Sinetron
"Petahana didelegitimasikan sebagai sosok yang buruk dan semena-mena. Sementara korban dalam posisi “suci”, orang yang tertindas. Tujuannya ingin mencitrakan rezim semena-mena ," tandas Hamdi.
Hamdi mengatakan pola seperti ini sebelumnya juga dilakukan dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet sebagai korban pemukulan. Kasus tersebut kemudian membuat ramai di publik. Namun, dengan keterbukaan informasi saat ini, kasus tersebut dapat diketahui kebenarannya dan Ratna tidak dipukuli. Bahkan, Ratna sendiri yang mengakui kebohongannya.
Hamdi mengatakan di era keterbukaan informasi efek kemajuan teknologi memang menjadi titik lemah upaya playing victim. Pihak yang menempuh upaya tersebut dapat diketahui secara persis bagaimana peristiwa sebenarnya.
"Itulah, jaman sekarang kan mudah menelusuri informasi mana yang benar," kata Hamdi. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved