Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KERESAHAN sempat menghinggapi puluhan mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor yang berlokasi di Jalan Soleh Iskandar (dulu Jalan Baru). Hal itu disebabkan, adanya kewajiban yang diberikan oleh dosennya, yang harus diikuti mahasiswa jika ingin mendapatkan nilai.
Sebelumnya, ada unggahan yang viral di dunia maya, dimana dituliskan atau disebutkan ada seorang dosen, mewajibkan para mahasiswanya mengikuti aksi reuni 212, yang akan berlangsung 2 Desember mendatang.
Dalam unggahan ini, seorang dosen jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), menyatakan mengganti ujian tengah semester (UTS) dengan tugas hadir di acara reuni 212, yang dibuktikan dengan foto selfie kehadiran.
Terkait itu, para mahasiswa meminta pihak rektorat bertindak dan memberi sanksi sang dosen. Hanifatuloh, salah satu mahasiswa merasa keberatan dengan aturan yang diberikan sang dosen.
Sementara itu, ajakan tersebut langsung mendapat respon penolakan dari sivitas akademik, dimana cawapres (calon wakil Presiden) Ma'ruf Amin pernah kuliah.
Seperti diungkapkan Yazid Bustomi, Ketua DPM Fakultas PAI UIKA, menilai permintaan dosen ini dinilai salah dan tidak berkaitan dengan mata kuliah yang diajarkan.
Terkait itu, pihak rektorat pun bereaksi. Pihak rektorat menegaskan dosen tidak boleh mencampuradukan dunia pendidikan dengan kegiatan di luar kampus.
Pihak kampus menegaskan tidak ada kewajiban untuk hadir dalam acara reuni 212, karena kegiatan kampus tidak berkaitan dengan dunia luar.
"Berkenaan dengan rencana tanggal 2 akan ada reuni akbar 212, kami pimpinan dari fakultas atau program studi, jangankan mewajibkan, menghimbau pun tidak untuk mereka hadir dalam acara tersebut. Nah, kalau pun mereka hadir itu hak individu mereka masing-masing. Karena masing masing punya kewenangan," kata Endring Bardrudin, Rektor UIKA.
Pihaknya pun mencari fakta dengan memanggil dosen yang bersangkutan, dengan para mahasiswa. Dalam pemeriksaan awal, sang dosen, mengaku opsi tersebut adalah usulan mahasiswa.
"Saya sudah memanggil dosen tersebut. Sesungguhnya, itu inisiatif dari pada komti atau ketua kelas. Komti kemudian menulis, membuat pengumuman, komti yang membuat, bahwa kita diwajibkan, oleh dosen ini untuk mengikuti 212. Ya, bisa jadi, dengan harapan bisa menjadi perbaikan, kepada nilai UTS.
Nah, itu yang membuat komti bukan dosen, apalagi pimpinan. Dosen yang bersangkutan sendiri tidak tahu soal itu," jelas Rektor Ending.
Dia menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir pihak-pihak yang mengkaitkan dunia akademik dengan kegiatan di luar kampus. Pihaknya akan memberi sanksi teguran, jika ada himbauan untuk ikut reuni 212.
Kemudian rektor pun menjelaskan kronologisnya atau awal mula dari persoalan tersebut. Dia menyebutkan, pelaksanaan UTS (ujian tengah semester) sesuai kalender akademik itu, tanggal 5 sampai dengan 17 Nopember.
"Harusnya sudah selesai. Tapi memang ada satu orang dosen, karena dia ada kegiatan di luar, sehingga jumlah tatap mukanya itu belum cukup untuk melakukan UTS. Sehingga dia mundur melakukan utsnya dan direncanakan hari senin tanggal 3 nanti,"bebernya.
Kemudian, lanjutnya, ada keinginan dari mahasiswa, agar mereka diberikan tugas saj. Sehingga UTS- nya dalam bentuk tugas.
"Silahkan anda buat laporan apa tugasnya. Mereka menginginkan bagaimana tugasnya kalau kami untuk hadir 212. Boleh dengan syarat buat laporan,"kata Ending menirukan ucapan sang dosen dan mahasiswa.
Dia menganggap, memang secara ilmiah, mahasiswa itu kalau hadir, sehingga dia bisa melihat langsung, mendengar langsung, dan mereka membuat laporan secara tertulis dan ilmiah.
"Dengan begitu mereka akan memberikan informasi yang sesungguhnya. Dia tidak akan mendengar dari mulut kedua dan mulut ketiga, tapi justru dia akan mendengar dan melihat langsung . Itu-kan dalam dunia ilmiah biasa. Itu keinginan mahasiswa sesungguhnya. Hanya kemudian ada mahasiswa menulis dan mengupload pada media dengan persepsi mereka yang mengatakan ada dosen mewajibkan. Dosen tidak mewajibkan. Jadi sama sekali tidak ada terjadi instruksi wajib," pungkasnya.
Sementara itu, Nuraeni, sorang mahasiswi lainnya memberikan kesaksian yang menguatkan pernyataan sang rektor.
Menurut cerita Nuraini, mahasiswa semester 5. Dia mengatakan, awalnya dosen itu menanyakan perihal UTS. "UTS itu mau apa. Terus anak-anak itu menjawab gak ada soal, gak ada tugas pak. Lho gimana kok gak ada, soal gak ada tugas, namanya juga UTS.
Lalu dari mahasiswa itu ada yang mengusulkan "Bagaimana kalau hari Minggu kita bareng bareng ke sana, ke acara 112". Dosen itu cuma merespon. Oh iya ya. Bagus juga ke sana. Akhirnya apa kita ke sana bareng- bareng," tutur Nuraeni.
Dia menyebut, saat itu, reaksi atau respon sang dosen hanya sampai di situ. Dan sampai saat ini tidak ada klarifikasi.
Perihal bonus yang lagi viral sekarang sambil difoto, lanjutnya itu tidak benar. "Sebenarnya kita datang ke sana bonusnya itu bukan mengharap bonus dari dosen. Jujur dari mahasiswa sekelas ini benar- benar senang, bahagia buat berangkat ke sana. Toh bonusnya bukan hanya dari dosen doang, tapi juga dari Allah SWT," kata dia.
Dia menyebut, niatnya datang karena Allah, bukan karena dosen. "Ke sana pun kita untuk observasi dan untuk melihat seluruh umat islam . Di mana umat islam itu menjaga kebersihan ketika mengadakan haul 212. Kita mendengarkan ceramah, melihat ukhwah Islam bersatu, apalagi dari seluruh Indonesia akan datang. Jadi soal bonus mungkin ada sebagian mahasiswa yang salah paham kalau itu diwajibkan. Tapi belum ada klarifikasi dari dosen bahwa itu diwajibkan. Jadi cuma salah paham, miss komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Tidak ada intruksi," pungkasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved