Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

TKN Jokowi-Ma'ruf: Dukung Israel, Prabowo Ingin Menarik Simpati Asing

Insi Nantika Jelita
23/11/2018 18:51
TKN Jokowi-Ma'ruf: Dukung Israel, Prabowo Ingin Menarik Simpati Asing
(MI/Susanto)

JURU Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga angkat bicara soal pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut tidak masalah bagi Indonesia bila Australia memindahkan kantor kedutaan besar (kedubes) mereka di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Presiden Jokowi, kata Arya menentang soal kepindahan Kedubes Australia di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Namun hal tersebut berbanding 180 derajat oleh Prabowo Subiantoro.

"Sejak zaman Bung Karno Indonesia selalu konsisten untuk memerdekakan Palestina. Pak Jokowi konsisten terhadap perjuangan bangsa Palestina, tapi ternyata justru pak Prabowo yang berbeda," jelas Arya di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (23/11).

Arya kemudian menerangkan bahwa pada pembukaan UUD 45 mengatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dimana hal tersebut merupakan mukadimah bangsa Indonesia yang konsisten dipegang oleh pemimpin bangsa. Namun kata Arya sangat disayangkan Prabowo tidak memegang prinsip untuk membela kemerdekaan Palestina.

Arya kemudian menuding bahwa apa yang diucapkan Prabowo tersebut untuk menarik simpati pihak asing. Menurutnya, lobby zionis atau yahudi sangat kuat di Australia.

"Kita enggak tahu apakah pak Prabowo mencari keuntungan dari pihak asing. Kita kan tahu kalau ada isu pihak asing tidak begitu suka dengan pak prabowo, apakah ini salah satu cara prabowo untuk menarik simpati dari pihak asing?,"ujarnya.

Kedudukan ibukota yerusalem menjadi sebuah simbol yang penting bagi kedua negara yaitu Israel dan Palestina kata Arya. Indonesia sejatinya mendukung kemerdekaan Palestina.

"Bagi Israel itu bukti kalau mereka punya legitimasi terhadap tanah Palestina sebagian, bagi Palestina itu adalah bukti kedudukan bagi tanah Palestina. Penting makanya kedudukan ibukota yerusalem itu, makanya ditolak oleh banyak negara termasuk Indonesia."pungkas Arya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya