Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Ma'ruf Amin Serukan Pendukung Capres Harus Tetap Rukun

Insi Nantika Jelita
20/11/2018 18:59
Ma'ruf Amin Serukan Pendukung Capres Harus Tetap Rukun
(MI/PIUS ERLANGGA)

CALON wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin, menyerukan agar para pendukung capres-cawapres terus menjaga sikap toleran dengan tidak saling bertengkar. Apalagi, Nabi Muhammad SAW juga sudah menunjukkan jalan kelembutan adalah yang bisa merubah.

Hal itu disampaikan Ma'ruf Amin dalam tausiahnya di perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadalah oleh Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin (Jamin) di Kota Medan, Selasa (20/11).

Acara itu dihadiri oleh lebih dari 4000 ribuan warga dan majelis taklim setempat. Hadir Menantu Presiden Jokowi Bobby Siregar, Ustad Yusuf Mansur, dan Walikota Binjai H. Muhammad Idaham.

Kata Ma'ruf, Islam mengajarkan benar soal sikap toleran itu. Makanya ada kata-kata 'Bagimu agamamu, bagiku agamaku'.

"Jadi berbeda partai pun, harus toleran juga. Sesama anggota partai tidak perlu bertengkar. Berbeda capres, sebagai bangsa, kita harus tetap rukun. Inilah namanya toleran. Lakum dinukum waliyadin," kata Ma'ruf.

Ditegaskan Kiai Ma'ruf, perilaku cinta dan kasih sayang diantara sesama harus terus dikedepankan dan diutamakan. Bayangkanlah sesama laiknya anggota badan kita sendiri. Jika satu anggota badan merasa sakit, maka anggota badan yang lain pun juga akan sakit.

"Ini yang kita pahami. Maka berbeda agama, berbeda suku, tetap kita membangun mawaddah wa rahmah. Bukan saling membenci dan saling memusuhi," kata Ma'ruf.

Dia bercerita bagaimana memprihatinkannya di sejumlah negara di Timur Tengah. Sesama umat Islam di sana, bisa saling bunuh. Hal itu terjadi di Suriah, Yaman, dan Afghanistan.

Kiai asal Banten dan punya darah Madura itu menegaskan, bahwa umat Islam Indonesia tak boleh seperti itu.

"Karena kita berpegangan pada prinsip ukhuwah islamiyah, sesama umat Muslim, sesama warga negara Indonesia," imbuhnya.

Diceritakan oleh Kiai Ma'ruf, bahwa Nabi Muhammad SAW mampu mengubah perilaku ummat di jamannya dalam waktu 21 tahun. Dan dalam mengajak untuk berubah, Nabi Muhammad melakukannya dengan sangat santun.

Cara nabi itupun dipakai oleh para kiai pada jaman Nusantara. Ulama-ulama itu menasehati, bukan memaki-maki. Mengajak, bukan mengejek, dan merangkul bukan memukul, kata Ma'ruf.

Dengan cara santun itulah Indonesia bisa menjadi negara Muslim terbesar di dunia seperti saat ini.

"Sebagian besar kita ini adalah umat Muslim. Dengan kesukarelaan, tidak ada paksaan. Tidak ada paksaan dalam agama. Tidak ada intimidasi. Tidak ada teror," tandasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya