Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MANUSIA Indonesia ditetapkan sebagai paling sejahtera. Kok bisa? Feminisme Pancasila mendapat jawaban melalui pertanyaan paling radikal sebelum semua identitas dilekatkan pada manusia: siapa aku, manusia Indonesia?
Feminisme Pancasila mengajukan pertanyaan ini bukan dengan kemarahan, bukan dari oposisi biner, dan bukan dari klaim superioritas moral. Pertanyaan tersebut lahir dari satu kesadaran mendasar: kesetaraan manusia sudah diletakkan sejak proses penciptaan, jauh sebelum negara, hukum, ideologi, atau pasar menentukan nilai seseorang.
Pendekatan ini menemukan legitimasi penting dari riset Global Flourishing Study yang dipimpin Harvard University bersama Baylor University dan Gallup. Studi ini secara tegas mengkritik definisi kesejahteraan yang sempit dan materialistik. Para peneliti tersebut menyatakan, “Flourishing is not merely the absence of illness or economic hardship, but the presence of meaning, purpose, strong relationships, character, and spiritual well-being.” (VanderWeele et al, Global Flourishing Study, Harvard University & Baylor University)
Dalam studi di 22 negara tersebut, Indonesia menempati posisi teratas dalam indeks flourishing global—bukan karena pendapatan per kapita, melainkan karena kekuatan relasi sosial, makna hidup, dan spiritualitas. Ini bukan anomali, melainkan cerminan cara pandang manusia yang selaras dengan Pancasila sebagai filsafat hidup.
Feminisme Pancasila mengajukan kritik mendasar terhadap banyak aliran feminisme kontemporer yang terlalu cepat berhenti pada identitas: gender, kelas, ras, atau orientasi politik. Identitas penting, tetapi bukan titik awal ontologis.
Dengan demikian, pertanyaan lebih ke hulu dari feminisme Pancasila ialah: siapa aku sebelum aku disebut perempuan atau laki-laki, sebelum aku menjadi mayoritas atau minoritas, sebelum aku diberi label sosial, ekonomi, atau ideologis? Jawabannya: aku adalah manusia.
Kesetaraan dalam feminisme Pancasila bukan hasil negosiasi sosial atau pemberian negara, melainkan kenyataan eksistensial. Manusia setara karena berasal dari sumber penciptaan yang sama. Sila pertama Pancasila—Ketuhanan Yang Maha Esa—menegaskan bahwa setiap manusia adalah percikan roh Ilahi, bukan komoditas, bukan alat, dan bukan angka statistik.
Inilah pembeda utama feminisme Pancasila dari feminisme liberal yang menekankan individualisme ekstrem, dari feminisme radikal yang kerap terjebak dalam antagonisme permanen, maupun dari feminisme neoliberal yang larut dalam logika pasar. Feminisme Pancasila tidak menolak perjuangan struktural, tetapi menolak kehilangan akar kemanusiaan dan spiritual.
RAHIM DAN KESETARAAN SEJAK AWAL
Ada satu fakta dasar yang jarang diakui secara politis: setiap manusia dibesarkan selama sembilan bulan sepuluh hari di rahim perempuan apa pun identitasnya. Rahim adalah ruang pertama kehidupan dan sekolah pertama ketergantungan, penerimaan, dan kerja sama dari ibu si bayi. Tidak ada manusia yang lahir tanpa melalui tubuh perempuan. Maka, setiap sistem sosial yang merendahkan perempuan sejatinya sedang menyangkal asal-usulnya sendiri.
Feminisme Pancasila tidak memuja perempuan secara esensialis. Tidak mengganti patriarki dengan matriarki, tetapi mengembalikan kesadaran relasional bahwa kehidupan manusia sejak awal dibangun melalui kolaborasi—bukan dominasi. Temuan Harvard menguatkan hal ini. “Strong social relationships and a sense of connectedness consistently emerge as among the strongest predictors of flourishing across cultures.” (VanderWeele et al, Harvard University)
Relasi, bukan kompetisi, adalah fondasi kesejahteraan. Ini sejalan dengan pandangan Pancasila tentang manusia sebagai makhluk kodrati sekaligus sosial.
Kosmologi Nusantara mengenal konsep sedulur papat lima pancer: manusia lahir bersama unsur-unsur kehidupan dan hidup dalam keterhubungan dengan alam. Dalam bahasa kontemporer, ini adalah pandangan ekologis dan relasional tentang eksistensi manusia dengan alam dan semesta.
Feminisme Pancasila membaca kosmologi ini sebagai dasar kesetaraan lintas seks, suku, bangsa, dan kelas—lepas dari identitas sosial, politik, ekonomi, maupun ideologi. Manusia hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, dan bergantung pada sistem kehidupan yang sama.
Karena itu, feminisme Pancasila tidak memisahkan isu perempuan dari isu lingkungan, perdamaian, dan keadilan sosial. Tubuh perempuan dan tubuh bumi sama-sama menjadi medan eksploitasi ketika manusia kehilangan kesadaran akan keterhubungan.
PANCASILA DAN HUMAN FLOURISHING
Dalam global flourishing study, para peneliti Harvard dan Baylor secara eksplisit menekankan bahwa dimensi spiritual dan makna hidup bukan pelengkap, melainkan inti kesejahteraan manusia: “Spiritual well-being and meaning in life are central components of flourishing and should not be treated as secondary to economic indicators.” (Global Flourishing Study, Harvard–Baylor)
Pancasila telah lama menempatkan dimensi ini di pusat kehidupan berbangsa. Ia tidak mereduksi manusia menjadi homo economicus atau sekadar warga negara administratif. Ia memandang manusia sebagai makhluk bermartabat, beriman, dan saling terikat.
Feminisme pancasila berdiri di titik temu antara ilmu pengetahuan global dan kearifan filosofis bangsa. Ia juga menawarkan pendekatan kesetaraan yang tidak tercerabut dari spiritualitas, budaya, dan pengalaman hidup masyarakat.
“Siapa aku?” adalah pertanyaan personal sekaligus politis. Cara kita menjawabnya akan menentukan apakah feminisme menjadi jalan pembebasan atau justru reproduksi konflik baru.
Feminisme Pancasila menawarkan jawaban yang tenang tapi radikal: aku adalah manusia yang setara sejak diciptakan—sebelum identitas apa pun dilekatkan. Dari kesadaran inilah perjuangan memperoleh arah etik dan politiknya.
Jika dunia hari ini mencari model kesejahteraan yang lebih manusiawi, dan jika studi Harvard menunjukkan bahwa Indonesia telah mempraktikkannya melalui relasi sosial dan spiritual yang kuat, maka feminisme Pancasila bukan gagasan pinggiran. Ia adalah kontribusi intelektual dan moral dari Selatan Global bagi peradaban dunia.
Dan, semuanya bermula dari satu pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan masa depan kita bersama: Siapa aku?
DI tengah krisis iklim yang kian nyata dan ketidakadilan sistemis terhadap perempuan yang terus menganga, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kepemimpinan yang cerdas dan tegas.
Perjuangan perempuan Indonesia hari ini ialah kelanjutan dari jejak-jejak lokal yang pernah berjaya, tapi kini dibingkai dalam ideologi negara, yaitu Pancasila.
Tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap produk perawatan diri yang sesuai dengan kebutuhan.
UPAYA untuk mewujudkan kesetaraan pada keseharian bagi setiap warga negara, termasuk perempuan, harus konsisten direalisasikan.
Alfa tertarik mengikuti pelatihan selain meraih kesetaraan, juga ingin berkompeten sehingga bisa bekerja di sektor lain yang lebih cemerlang.
Tahun ini, AHF Indonesia bergabung dengan gerakan global untuk menuntut penghentian ketidaksetaraan yang menghambat perempuan dan remaja perempuan.
Tahun ini peringatan Hari Perempuan Internasional mengambil tema Untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan: Hak, Kesetaraan, Pemberdayaan .
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved