Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA hari lalu, saya membagikan tautan berita mengenai sejumlah sesar aktif di Jawa Barat kepada seorang kawan. Dalam berita itu disebutkan sedikitnya ada enam sesar aktif yang berpotensi memicu gempa, khususnya di Jawa Barat. Sesar-sesar itu antara lain sesar Cimandiri, Lembang, Garut selatan, dan Citarik. Pergerakan sesar Cimandiri, seperti dikatakan sejumlah pakar geologi ataupun ahli kegempaan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diduga menjadi penyebab gempa Cianjur yang menewaskan ratusan orang, pada Senin (21/11).
“Masalahnya, apa pemda yang wilayahnya dilalui sesar-sesar ini tahu dan peduli?” ujar teman saya sedikit sewot saat menanggapi tautan berita tersebut. Apalagi, keluarga mertuanya tinggal di Bandung, salah satu wilayah hunian yang berada di atas sesar Lembang. “Kalau sekadar tahu, pasti. Toh, mereka tidak buta huruf dan informasi semacam ini sudah lama beredar di internet. Kalau peduli, ya mbuh,” jawab saya disertai dengan emoji senyum.
Kami (saya dan kawan saya) bukanlah pakar kegempaan, cuma warga biasa. Sebagai warga yang kebetulan sama-sama tinggal di Jawa Barat, kami sekadar ingin tahu apakah wilayah yang kami huni berada di daerah rawan gempa. Itu merupakan bagian dari bentuk kepedulian paling minimal terhadap lingkungan. Sama seperti orang hendak membeli rumah, pasti mencari tahu terlebih dahulu apakah wilayah permukiman itu rawan banjir atau tidak. Kan repot jika tiap musim hujan harus mengungsi atau gotong-gotong memindahkan perabot.
Kembali ke soal gempa, pada jumpa pers Jumat (2/12), Kepala BMKG Dwikorita Karnawati merekomendasikan agar tidak membangun hunian di sejumlah wilayah di Cianjur, seperti di Kecamatan Cugenang dan Pacet. Di Kecamatan Cugenang, kata dia, setidaknya ada 10 desa yang perlu dihindari untuk mendirikan bangunan, sedangkan di Kecamatan Pacet terdapat satu desa yang rawan. Rekomendasi yang disampaikan Kepala BMKG itu sepatutnya diperhatikan pemda ataupun masyarakat. Hewan saja memperhitungkan faktor alam maupun makhluk lainnya yang kemungkinan bisa jadi predator, sebelum membuat sarang.
Gempa memang tidak saban hari terjadi dan sejauh ini belum ada teknologi yang mampu mendeteksi kapan waktunya bencana itu muncul. Namun, melihat potensi kerusakan yang ditimbulkan seperti yang dipaparkan sejumlah pakar dan musibah yang sering kita saksikan di pelosok negeri, sudah sepatutnya kita waspada. Satu hal yang juga mesti disadari, tanah yang kita pijak setiap saat selalu bergerak, tidak statis. Posisi Indonesia yang secara geografis dilewati sabuk Alpide, sabuk seismik yang terbentuk dari bertemunya Lempeng Eurasia, Lempeng India, dan Lempeng Australia, juga menjadi faktor lainnya mengapa negeri ini rawan bencana. Belum lagi sejumlah gunung api aktif yang bertebaran di wilayah ini.
Jejak kengerian sebagai dampak posisi geografis ini juga telah tercatat dalam lembar sejarah, bahkan jauh sebelum konsep negara-bangsa terbentuk di wilayah ini. Untuk menghindarinya, jelas tidak mungkin sama sekali. Sebagai sebuah koloni, yang bisa dilakukan masyarakat yang sudah telanjur bermukim di wilayah ini ialah memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat hidup beradaptasi dengan potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Negeri ini kiranya perlu melahirkan lebih banyak ahli vulkanologi dan tsunami, tentu dengan bayaran sepadan, bahkan mungkin harus jauh lebih tinggi daripada gaji mantan aktivis yang diangkat jadi komisaris, misalnya.
Sudah saatnya pengembangan ilmu pengetahuan juga diarahkan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan, bukan semata pada kepentingan kapital. Istilah gampangnya, jangan cuma mengejar pertumbuhan, tapi juga harus memperhatikan keberlanjutan. Percuma membangun gedung mentereng jika akhirnya oleng dan ambruk diguncang gempa. Sia-sia membangun kompleks perumahan atau kota yang megah jika akhirnya tenggelam ditelan likuefaksi atau tsunami. Ingat, bangsa ini sudah terlampau banyak menguras dana dan air mata hanya karena bencana. Semoga catatan kecil ini bisa jadi bahan renungan kita semua. Selamat berakhir pekan. Wasalam.
Contoh lainnya pemimpin yang gagal mengelola urusan beras ialah Yingluck Shinawatra.
Biar bagaimanapun, perang butuh ongkos. Ada biaya untuk beli amunisi dan peralatan tempur.
WAKTU pemungutan suara untuk pemilihan presiden (pilpres) ataupun legislatif (pileg) tinggal menghitung hari
DI salah satu grup perpesanan yang saya ikuti, salah satu topik yang sedang ramai diperbincangkan ialah lolosnya timnas Indonesia
Bayangkan pula berapa ton kira-kira limbah yang dihasilkan dari poster ataupun spanduk tersebut di seluruh Indonesia?
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Sabtu.
BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi tektonik M6,4 (update) yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Taluad, Sulut merupakan akibat dari deformasi batuan Lempeng Maluku
GEMPA bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,1 terjadi di Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut).
Gempa dangkal magnitudo 4,5 mengguncang Kuta Selatan, Bali. BBMKG menyebut gempa dipicu sesar aktif dasar laut dan tidak berpotensi tsunami.
Sepanjang periode waktu tersebut tidak ada kejadian gempa bumi yang dirasakan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved