Sabtu 09 April 2022, 05:00 WIB

Merindukan Indonesia

Abbas PhD Student di Chemical Engineering Loughborough University UK/NUcare UK | Opini
Merindukan Indonesia

Dok. Pribadi

 

INDONESIA, Ibu Pertiwi yang melahirkan semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Tanah tumpah darah para patriot dan pendiri bangsa, negara yang menjadikan rindu tak pernah usai. NKRI begitu sempurna untuk selalu memantik ribang di dalam dada. Begitu kira-kira sangkaan penulis terhadap rasa yang dimiliki setiap diaspora anak negeri, yang bertebaran pada hampir semua negara yang ada di setiap sudut belahan dunia.

Nuansa yang semakin menebal dalam relung, terlebih menjelang bulan puasa (Ramadan). Ada panggilan pulang yang mengiang-ngiang, tak hanya di telinga, tetapi merasuk ke dalam kalbu. Tradisi berkumpul dengan semua anggota keluarga, berbagi kebahagiaan dengan datangnya bulan yang penuh berkah. Melengkapi indahnya Indonesia sebagai prototipe surga (sebagaimana gambaran kitab suci), dengan berbagai jenis buah-buahan yang harum dan lezat, serta gemercik aliran sungai yang mengalunkan nada indah nyanyian pulang.

Anggapan yang penulis tanam dan pelihara, setiap bertemu dengan kawan ataupun senior ‘se-rantau’. Namun, dari seumur jagung kami berada di UK/Inggris (belum cukup satu tahun, tepatnya 5 bulan 23 hari saat esai ini ditulis). Dari beberapa pertemuan dengan beberapa diaspora yang telah lama menetap di UK. Sepertinya, anggapan tentang risau oleh gelitik rindu yang terus merekah subur tersebut harus mengalami beberapa kalibrasi. Seolah ia memudar pada beberapa individu. Entahlah, sembari kami berharap itu tak sepenuhnya benar. Hanya prasangka liar yang dominan salah.

Sangat mungkin pula, mereka sedang merindukan Indonesia yang "berbeda". Indonesia yang lebih hebat, lebih mandiri, dan lebih berdaulat di kancah internasional. Citra yang tidak hanya tampak mengilap di dalam negeri, tetapi juga menyilaukan negara yang lain. Karena menurut hemat penulis, semua bahan baku untuk menjadikan Indonesia berada pada posisi tersebut telah tersedia dengan lengkap. Sumber daya alam (SDA) yang melimpah, ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang juga tak kalah mentereng dengan SDM negara maju.

 

Kaya sumber daya alam

Indonesia kaya dengan sumber daya alam? Ya! Tak usah diragukan lagi. Nusantara, dikaruniai limpahan kekeayaan alam nyaris unlimited (angkasa, perairan, permukaan tanah, dan perut bumi). Kekayaan alam yang jika terawat dengan baik, akan mampu menjadikan Indonesia sebagai adidaya dan dapat diwariskan kepada beberapa generasi penerus bangsa. Hanya butuh komitmen dan ide cemerlang untuk mewujudkan itu. Untuk memuluskan jalan menjadi negara maju yang mandiri.

Sebagai contoh, sebut saja kemandirian dalam bidang energi, khususnya energi terbarukan dan ramah lingkungan. Tidak sulit untuk menemukan sumber-sumber energi tersebut. Dari biomassa, panas bumi, angin, radiasi sinar matahari, air limbah, pertemuan air sungai (tawar), dan air laut (asin), hingga akumulasi gas karbon dioksida (CO2) yang dapat ditangkap, dan dikonversi menjadi senyawa kimia yang lebih bernilai dan ramah lingkungan.

Lantas, bagaimana memanfaatkan semua sumber daya alam yang melimpah tersebut? Dalam sebuah seminar tentang energi dan lingkungan pada Januari 2014, Bruce Ernest Logan, Profesor Engineering dan Lingkungan di Pennsylvania State University mengatakan setiap ide cemerlang yang kemudian melahirkan teknologi baru setidaknya mengalami atau melalui tiga fase (tahapan). Fase yang pertama ialah skeptisisme dan keraguan banyak orang untuk dapat mewujudkannya. Fase yang kedua ialah kalkulasi yang kurang presisi sehingga melahirkan anggapan bahwa nilai/profit yang dihasilkan akan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan biaya/cost yang dikeluarkan. Kemudian, fase terakhir ialah akan ada yang mengeklaim bahwa hal tersebut telah lama didengungkannya sebagai sebuah ide yang cemerlang.

Oleh karenanya, beberapa teknologi, dalam upaya pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan menjadi penting untuk mendapat perhatian. Meskipun dianggap masih dalam tahap infant, secara global diyakini mampu memberikan benefit yang signifikan dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Tak hanya sebagai subtitusi terhadap sumber energi utama dewasa ini yang berbasis fosil, tetapi juga dalam upaya mereduksi ramifikasi dari pembakaran masif bahan bakar berbasis fosil tersebut, terhadap kualitas lingkungan saat ini. Untuk menyebut beberapa di antaranya pemanfaatan energi pertemuan air tawar dengan air asin (salinity gradient energy), untuk menghasilkan energi listrik yang renewable dan nyaris zero emisi karbon, produksi listrik dari proses pengolahan air limbah dan konversi gas karbon dioksida (CO2) menjadi biofuel, ataupun senyawa kimia dengan rantai karbon yang lebih panjang dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

Semua sumber energi terbarukan itu dapat dikonversi dengan menggunakan pendekatan bio-electrochemical systems (BESs), yang beberapa turunannya antara lain microbial electrolysis cell (MEC), microbial fuel cell (MFC), dan microbial electrosynthesis (MES).

Valorisasi gas karbon dioksida (CO2) merupakan teknologi secara global banyak diupayakan dengan menggunakan metode microbial electrosynthesis atau MES. Sebuah teknologi dengan mengembangkan metode bioelektrokimiawi. Melibatkan makhluk ‘gaib’ (jasad renik), atau mikroorganisme/bakteri dalam mengonversi akumulasi gas karbon dioksida (CO2), menjadi beberapa senyawa kimia, utamanya asam asetat dan beberapa senyawa asam dengan rantai karbon yang lebih panjang termasuk biofuel.

Proses konversi atau fiksasi gas karbon dioksida yang reaksinya dipicu elektron dari arus listrik atau pun dengan bantuan sinar matahari. Teknologi ini merupakan pendekatan yang sangat ‘seksi’ untuk dikembangkan saat ini, bila dibandingkan dengan dua kawan seiringnya. Setelah lebih dari satu dekade sejak pertama kali diperkenalkan pada 2010, pemerhati riset di bidang ini secara global masih terus ‘berkhidmat’, dalam melakukan upaya untuk memaksimalkan penerapan teknologi ini.

Energi yang dihasilkan dari hasil fiksasi gas CO2 dengan teknologi MES ini diyakini oleh mayoritas peneliti sebagai sebuah pendekatan yang lebih ekonomis jika dibandingkan dengan metode elektrokimia konvensional, yang telah lebih awal dikembangkan. Kemampuan mikroorganisme yang dilibatkan untuk melakukan regenerasi, hanya dengan bermodalkan suplai karbon yang berasal dari gas CO2, dan elektron yang bisa berasal dari beberapa sumber energi terbarukan seperti radiasi sinar ultraviolet (solar cell), atau dari tenaga angin, menjadikan MES sangat durable dan affordable di masa yang akan datang.

Benefit tambahan dari penggunaan metode MES dalam mereduksi gas CO2 menjadi senyawa kimia dengan rantai karbon yang lebih panjang ialah emisi karbon dapat dikurangi, harapannya tentu saja akan bermuara pada mitigasi perubahan iklim dan reduksi segala eksesnya. Mengingat, gas CO2 sebagai ‘tersangka’ utama penyebab terjadinya pemanasan global oleh gas rumah kaca. Beberapa literatur menyebut angka di atas 65% sumbangsih gas CO2 dalam akumulasi gas rumah kaca dan produksi CO2 didominasi (72%) dari sektor energi.

 

Mampu mandiri

Yubileum ke-100 Indonesia pada 2045 diharapkan menjadi titik awal Indonesia menjadi negara maju, tentunya akan lebih mudah terwujud jika mampu mandiri dalam beberapa hal termasuk energi, juga mampu menekan emisi gas karbon, sebagaimana menjadi target negara-negara maju dalam beberapa dekade yang akan datang, juga menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan. Dengan lebih dini melakukan investasi pada proses pengembangan riset dan mengimplementasikannya, ketergantungan semata kepada sumber energi berbasis fosil akan dapat ditekan, serta pencemaran lingkungan akan bisa tereduksi.

Ombak akan selalu menerjang bahtera di samudra, itu pasti. Demikian pula, dalam upaya pencarian alternatif pemenuhan kebutuhan energi terbarukan yang ramah lingkungan pada beberapa teknologi yang masih belia. Banyak keterbatasan dan tantangan, yang membutuhkan kegigihan dan komitmen kuat untuk menemukan tepian yang berarus tenang.

Kalkulasi cost menjadi bagian krusial pada proses pengembangan dan aplikasi teknologi BES, termasuk MES tentu saja. Khususnya, pada tahap awal pengembangannya. Selain itu, dukungan pemangku kepentingan juga akan sangat menentukan keberhasilan teknologi ini.

Ujung dari tulisan ini, penulis ingin memberikan garis bawah pada fakta bahwa memiliki SDA yang melimpah dan ditopang oleh SDM yang mempuni, Indonesia niscaya akan menjadi negara yang begitu sempurna untuk diidamkan. Bahkan, beberapa negara lain akan sangat menginginkannya. Indonesia memiliki cendekia cemerlang di seantero Nusantara, hanya kilau keemasan mereka butuh dibasuh dengan kemurnian iktikad baik pemangku kepentingan agar jelaga kesunyian dari dedikasi pada keilmuan bisa disibak dan mereka dapat menampakkan sinar terang kemilaunya.

Para diaspora tak sulit untuk melibatkan talenta hebat Indonesia, yang bertebaran di beberapa negara maju (Eropa, Amerika, dan atau Australia). Bahkan, beberapa dari mereka telah menjadi guru besar pada bidang yang digelutinya. Dengan karunia talenta-talenta hebat yang dimiliki, solusi terhadap tantangan dan hambatan dalam mengejawantahkan beberapa ide cemerlang, menjadi sebuah teknologi yang berguna tak sepelik mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Dengan kolaborasi yang intensif, semuanya akan berjalan lebih mudah. Hal yang sama mudahnya untuk menanam rindu pada ufuk yang terbit di jam yang nyaris tak pernah berubah, atau ngabuburit menikmati senja di bibir pantai, tanpa gigitan dingin yang menusuk sumsum. Mungkin, dan semoga!

Baca Juga

MI/Ebet

Menyelesaikan Kontradiksi

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:10 WIB
APAKAH kita sebagai bangsa memiliki nilai-nilai baik bagi Indonesia...
MI/Seno

Spirit Harkitnas dan KKN di Desa Penari

👤Dewa Gde Satrya Dosen hotel & tourism business School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:00 WIB
FILM bergenre horor KKN di Desa Penari yang telah ditonton hampir 4 juta orang dalam kurun waktu 11...
MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya