Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN lalu, ketika badai pandemi covid-19 sedang ganas-ganasnya, banyak orang di lingkungan pergaulan kita terpapar. Mulai tetangga, rekan sekantor, teman sekolah/kuliah, bahkan mungkin di lingkungan keluarga kita sendiri. Sebagian selamat, tapi tidak sedikit pula yang menjemput akhirat. Di lingkup pergaulan saya saja, mungkin sudah lebih dari 10 orang yang berpulang. Belum lagi mereka yang tengah dirawat dan menjalani isoman. Oleh karena itu, kita (yang hingga hari ini masih diberi kesempatan hidup dan bernapas), sudah sepatutnya bersyukur.
Bagi yang muslim, Ramadan kali ini kiranya menjadi momen untuk lebih mensyukuri lagi nikmat itu. Terlebih kita kini dapat sedikit leluasa beraktivitas, termasuk dalam beribadah, seiring melandainya kasus dan kian terciptanya kekebalan komunitas. Kendati begitu, bukan segalanya jadi lepas kendali. Jorjoran berburu busana di Pasar Tanah Abang atau memborong aneka kudapan, seperti orang hendak berwisata kuliner, untuk sekadar menyiapkan menu berbuka. Justru, ibadah puasa yang mulai kita jalani hari ini harus jadi momentum untuk pengendalian diri. Bukan sebatas menahan lapar dan dahaga.
Pandemi yang berlangsung hampir tiga tahun mengajarkan kita banyak hal, terutama pentingnya rasa solodaritas dan kesetiakawanan. Ketika sebagian dari kita diharuskan diam di rumah, mbak-mbak perawat, mas-mas kurir pengantar makanan, dan bapak-bapak petugas pengangkut sampah berjibaku menantang maut untuk memastikan kita tetap sehat dan selamat. Bayangkan jika tidak ada mereka. Begitu pun saat sebagian dari kita terpapar dan harus isoman, tetangga dan teman-teman ikut membantu, dari menyediakan makanan, vitamin, hingga obat-obatan. Tidak peduli suku, ras, ataupun agama kita.
Solidaritas seperti inilah yang semestinya terus dipelihara, bahkan ditingkatkan. Jangan semata saat terjadi musibah atau bencana. Jangan pula sebatas pada bulan suci. Spirit itu harus melandasi kehidupan berbangsa di negeri ini agar dapat melewati berbagai krisis. Wabah, pandemi, atau apa pun sebutannya yang telah memorakporandakan dunia telah menampar hakikat kemanusiaan kita. Betapa kecil dan tidak berdayanya manusia, bahkan di hadapan makhluk kecil bernama virus. Tidak peduli dia presiden, pejabat, komisaris, pengacara ternama, tokoh agama, bahkan dokter sekalipun, baik diam-diam maupun terang-terangan, bermunajat agar terhindar dari paparan makhluk tersebut.
Namun, ketergantungan kepada sang Khalik tidak harus melulu diwujudkan dalam bentuk ritual ibadah fisik semata (pergi ke masjid, gereja, dan sebagainya), tapi juga cinta dan belas kasih terhadap sesama. “Hablum minallah, wa hablum minannas,” begitu kata sebuah hadis. Selain menjaga hubungan vertikal dengan sang Pencipta, manusia juga dititahkan merawat relasi horizontal, tidak sebatas kepada sesama, tapi juga pada makhluk hidup lainnya. Sebagai khalifah, kita ditugaskan menjaga Bumi dan seisinya, bukan malah merusaknya.
Bukankah saat terasing dalam penguncian sebagian dari kita ada yang berteman dengan tanaman atau hewan peliharaan? Menurut sejumlah penelitian, makhluk-makhluk itu secara tidak langsung ikut berjasa menjaga kesehatan mental manusia selama masa pandemi. Begitu pun udara bersih yang kita rindukan selama terkurung di rumah. Pandemi lagi-lagi mengajarkan kita betapa pentingnya merawat kesalehan sosial semacam ini selain keyakinan spiritiual tentunya.
Ramadan sesungguhnya menyelipkan pesan penting bahwa keyakinan teologis tidak hanya menstimulasi lahirnya semangat ibadah secara vertikal, tetapi juga harus mampu menggerakkan spirit solidaritas horizontal, baik antarsesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya. Virus memang tidak bisa membedakan siapa yang mesti dia hinggapi, tapi kita selaku manusia bisa (dan seharusnya tahu) apa yang mesti kita lakukan. Patogen itu boleh menggerogoti apa saja, tapi tidak rasa kemanusiaan kita. Selamat berpuasa, semoga selalu sehat jiwa-raga.
Selain itu, cabai merah turun Rp3.816 menjadi Rp52.184/kg, bawang merah turun Rp833 menjadi Rp43.484/kg, serta bawang daun turun Rp630 menjadi Rp8.700/kg.
Sajian kuliner Nusantara dihadirkan untuk membawa kembali kenangan Ramadan yang identik dengan kebersamaan keluarga dan kehangatan suasana rumah.
Menjelang Ramadan 2026, Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah tidak menunggu waktu mepet untuk mengendalikan inflasi.
Harga bahan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali normal sementara, pasokan maupun stok aman dan lancar menjelang Ramadan.
dalam realitasnya, tidak sedikit Muslim yang belum sempat melunasi utang puasa Ramadan dengan puasa qadha Ramadan hingga hilal bulan suci berikutnya kembali tampak.
Memahami niat puasa qadha Ramadan dan ketentuannya sangat penting agar ibadah pengganti ini sah secara syariat. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai puasa qadha.
DALAM kitabnya, Tarbiyyah al-Ruhiyyah, Dr Sa’id Hawwa mengingatkan kita bahwa ada empat anak tangga menuju Tuhan.
KONSEKRASI berasal dari bahasa Latin (con: bersama, sacre: membuat suci) yang berarti membuat sepenuhnya suci. Kata konsekrasi juga biasa digunakan dengan arti penahbisan atau pemberkahan.
Maknanya, barangsiapa berbuat zuur, puasanya menjadi sia-sia. Secara syariat, puasanya sah. Secara hakikat, puasanya tidak berguna, tidak bermakna.
SETELAH memiliki kekuatan zikir, QS Ali Imran 191 menyebutkan bahwa seorang ulul albab juga mempunyai kekuatan pikir.
Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved