Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK sedikit korporasi mengalami kesulitan dalam proses penyampaian pesan bisnis. Terlebih sejak cara konsumsi media masyarakat mengalami perubahan dan pertumbuhan media baru kian signifikan. Cara-cara dulu yang dijadikan sebagai strategi komunikasi bisnis pun tak lagi relevan dilakukan di era seperti sekarang.
Gelombang 'tsunami' informasi menjadi variabel utama, yang mengantarkan kita pada sebuah era yang disebut post truth. Era di mana beragam arus informasi semakin deras berseliweran melalui berbagai platform digital. Situasi yang membuat sekat antara kebenaran dan kebohongan sangatlah tipis. Keduanya tampak samar dan sulit dibedakan.
Era post truth seakan mendorong korporasi untuk lebih fokus serta kehati-hatian ekstra dalam komunikasi bisnis. Karena di era tersebut masyarakat mengedepankan perasaan dalam menerima informasi namun mengesampingkan nilai obyektivitas. Di kekinian, komunikasi bisnis di era post truth perlu strategi melalui pendekatan riset dan metode assessment. Tak lagi cukup hanya berbekal pendekatan dengan media melalui press release atau pers conference lagi. Lembaga atau perusahaan sepatutnya menyusun rangkaian strategi yang jauh lebih kreatif dan inovatif agar pesan bisnis dapat dipahami sesuai yang diharapkan. Yang lebih penting tidak menyebabkan gagal paham.
Jika dulu, press release yang dimuat banyak media massa bisa saja sudah dianggap berhasil. Apalagi jika naskah redaksional yang diterbitkan media sama persis dengan naskah press release. Namun belum tentu pesan bisnis yang dituangkan ke dalam berita sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Bisa saja masyarakat membutuhkan informasi C misalnya, tapi perusahaan memberikan informasi T. Jelas, transaksi pesan antara kedua tidak klop.
Sebelum menyampaikan pesan bisnis, korporasi setidaknya harus paham dan khatam betul karakteristik publik di era post truth. Salah satunya, masyarakat sangat gemar mengonsumsi informasi yang mengaduk-aduk perasaan. Itulah yang menjadi pemicu utama mengapa tidak sedikit berita kecil dan sebelumnya dianggap sepele, berubah menjadi heboh dan viral karena telah mempengaruhi sisi emosional seseorang.
Mengapa demikian? Karena referensi informasi masyarakat sekarang sudah sangat beragam. Media sosial menjadi pilihan utama. Berdasarkan survei Katadata periode November 2020, 76% masyarakat Indonesia cenderung memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi yang paling mudah diakses. Media sosial menggeser pemanfaatan media massa seperti koran, televisi dan radio.
Durasi pemanfaatan internet berdasarkan survei pada 2021, media sosial merupakan platform yang paling lama diakses, yakni rata-rata 2,5 jam per hari. Disusul media daring yang berada pada urutan kedua yang hanya dikonsumsi 1,4 jam saja. Ini artinya, secara targeting, media sosial merupakan sarana paling tepat untuk mentransfer pesan-pesan bisnis ke khalayak.
Dalam mempengaruhi publik, selain pemilihan media, perusahaan dalam penyampaian pesan juga harus memperhatikan beberapa hal agar pesan yang diterima publik tidak menjadi kesalahpahaman. Derasnya arus informasi di era post truth membuat informasi di media sosial jadi jauh lebih riuh dan bising. Informasi bisa saja menggelinding secara liar.
Informasi yang beredar di platform media sosial bisa bermutasi dan beranak pinak serta bergerak secara cepat. Perusahaan melalui officer perlu melakukan pemantauan agar arus ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan tersendiri kemungkinan menciptakan kebohongan-kebohongan terstruktur. Memutarbalikkan pesan yang disampaikan yang pada akhirnya membuat publik lebih mempercayai kebohongan tersebut sebagai sebuah kebenaran pesan yang perusahan sampaikan. Lagi-lagi ini perlu pengawasan ketat.
Mengimplementasikan teknologi dalam komunikasi juga perlu. Karena serapan informasi tak lagi konvensional seperti dulu tapi berbasis digitalisasi, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sudah penting pelibatannya. Bukan hanya sekadar membantu menciptakan konten-konten pesan, AI juga membantu untuk mengukur sejauh mana penyampaian pesan ke khalayak, kepuasan serta melakukan pemetaan hingga menghadirkan big data sebagai referensi dalam merencanakan strategi-strategi yang lebih tepat sasarannya.
Bauran mobilisasi daring
Guna menjadikan pesan bisnis, ide termasuk opini dapat diterima dengan baik oleh khalayak sekaligus melibatkannya dalam program, dapat menggunakan bauran mobilisasi daring yang disebut SHARE. Rhenald Kasali dalam #MO (2019), SHARE merupakan singkatan dari Story, Hype, Actionable Relevant & Emotional.
Mobilisasi dapat digerakkan secara daring dengan adanya sesuatu yang bisa diangkat menjadi sebuah narasi yang kuat. Sebuah narasi yang baik akan menciptakan partisipasi aktif. Connected society senang berbagi pengalaman dan mudah terkoneksi dalam platform media sosial.
Narasi yang keren adalah mampu mengendarai arus/Hype (ridding the stream) dengan memanfaatkan isu yang tengah berkembang atau tengah menjadi perhatian publik. Misalnya, di tengah kampanye global dalam upaya penyelamatan lingkungan, arus ini bisa ditunggangi dengan seruan penggunaan produk BBM yang lebih ramah lingkungan seperti pertamax atau dexlite.
Di tengah isu perbandingan harga dan kualitas BBM yang mungkin informasi masih abu-abu di masyarakat luas, khalayak lebih mudah memahami keduanya sebagai variabel sebab akibat. Singkatnya, dengan menggunakan dua bahan bakar jenis tersebut masyarakat telah berpartisipasi dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Korporasi yang memanfaatkan metode SHARE, selain mentransfer pesan bisnis, juga dengan mudah menggerakkan sekaligus melibatkan partisipasi publik. Officer perusahaan juga perlu merancang narasi yang mengajak publik untuk melibatkan produknya atau dengan kata lain, memberi ruang agar pesan yang persuasif lebih dipertajam oleh warganet atau publik.
Narasi yang diciptakan harus relevan dengan kondisi masyarakat dan dapat menyentuh aspek emosional. Pesan-pesan bisnis akan semakin kuat mempengaruhi jika mengandung unsur-unsur humanis. Bagaimana misalnya nasib anak cucu kita nanti jika volume intensitas polusi udara terus meningkat karena banyak kendaraan masih mengonsumsi BBM yang memiliki oktan rendah.
Pencemaran udara juga berdampak buruk terhadap kesehatan. Penyakit kronis pun mengintai. Seperti akumulasi polutan yang masuk ke tubuh akan memengaruhi metabolisme tubuh. Jika tidak segara ditangani, tidak hanya ancaman gangguan pernapasan seperti ISPA yang mengintai, tapi juga tangkaian penyakit turunan yang berpotensi besar menyerang masyarakat dengan kualitas udara buruk seperti paru, jantung, tekanan darah, termasuk stroke.
Nah, dengan membangun narasi-narasi yang dapat membuat orang menjadi terbawa perasaan (baper), narasi akan dengan cepat tersebar yang juga turut andil dalam mempengaruhi publik. Bagai efek domino, publik yang tersentuh emosionalnya karena kekhawatiran ancaman polusi udara akan bergerak dan berpartisipasi menggunakan produk ramah lingkungan. Catatan penting dalam komunikasi bisnis di era post truth, diperlukan kolaborasi, resources, algoritma serta keterlibatan tokoh.
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
ANGGOTA Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya dukung SKB 7 Menteri & Permenkomdigi No 9 Tahun 2026 terkait pembatasan AI instan & medsos bagi anak.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Berdasarkan data dari situs pemantau gangguan Downdetector, laporan mulai meroket sejak pukul 07.40 WIB. Skala gangguan ini cukup luas, mencakup pengguna di Amerika Serikat, Eropa
KETUA DPR RI Puan Maharani mengaku mendukung Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) soal aturan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) punya peta yang jelas di tengah tantangan komunikasi dunia.
Selain program pelatihan, Kementerian HAM juga akan menggelar kompetisi karya jurnalistik yang berfokus pada isu-isu hak asasi manusia.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan pers harus menjaga kepercayaan publik di tengah disinformasi dan AI. Kolaborasi media, pemerintah, dan platform digital jadi kunci ruang informasi sehat.
Sepanjang 2025, isu kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalistik, serta keberlanjutan ekonomi media menjadi tiga persoalan utama yang saling berkaitan.
Media massa bisa semakin berperan sebagai duta literasi keuangan untuk membantu meningkatkan literasi, inklusi, dan pelindungan konsumen secara langsung di masyarakat.
WALI Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan pihaknya membutuhkan media massa untuk mengoptimalkan penginformasian kepada publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved