Senin 14 Juni 2021, 20:20 WIB

Komunikasi Bisnis di Era Post Truth

Jimmy Wijaya, Head of BBM 1 Harga Project, PT Pertamina (Persero) | Opini
Komunikasi Bisnis di Era Post Truth

Dok pribadi
Jimmy Wijaya

TIDAK sedikit korporasi mengalami kesulitan dalam proses penyampaian pesan bisnis. Terlebih sejak cara konsumsi media masyarakat mengalami perubahan dan pertumbuhan media baru kian signifikan. Cara-cara dulu yang dijadikan sebagai strategi komunikasi bisnis pun tak lagi relevan dilakukan di era seperti sekarang.

Gelombang 'tsunami' informasi menjadi variabel utama, yang mengantarkan kita pada sebuah era yang disebut post truth. Era di mana beragam arus informasi semakin deras berseliweran melalui berbagai platform digital. Situasi yang membuat sekat antara kebenaran dan kebohongan sangatlah tipis. Keduanya tampak samar dan sulit dibedakan.

Era post truth seakan mendorong korporasi untuk lebih fokus serta kehati-hatian ekstra dalam komunikasi bisnis. Karena di era tersebut masyarakat mengedepankan perasaan dalam menerima informasi namun mengesampingkan nilai obyektivitas. Di kekinian, komunikasi bisnis di era post truth perlu strategi melalui pendekatan riset dan metode assessment. Tak lagi cukup hanya berbekal pendekatan dengan media melalui press release atau pers conference lagi. Lembaga atau perusahaan sepatutnya menyusun rangkaian strategi yang jauh lebih kreatif dan inovatif agar pesan bisnis dapat dipahami sesuai yang diharapkan. Yang lebih penting tidak menyebabkan gagal paham.   

Jika dulu, press release yang dimuat banyak media massa bisa saja sudah dianggap berhasil. Apalagi jika naskah redaksional yang diterbitkan media sama persis dengan naskah press release. Namun belum tentu pesan bisnis yang dituangkan ke dalam berita sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Bisa saja masyarakat membutuhkan informasi C misalnya, tapi perusahaan memberikan informasi T. Jelas, transaksi pesan antara kedua tidak klop.

Sebelum menyampaikan pesan bisnis, korporasi setidaknya harus paham dan khatam betul karakteristik publik di era post truth. Salah satunya, masyarakat sangat gemar mengonsumsi informasi yang mengaduk-aduk perasaan. Itulah yang menjadi pemicu utama mengapa tidak sedikit berita kecil dan sebelumnya dianggap sepele, berubah menjadi heboh dan viral karena telah mempengaruhi sisi emosional seseorang.

Mengapa demikian? Karena referensi informasi masyarakat sekarang sudah sangat beragam. Media sosial menjadi pilihan utama. Berdasarkan survei Katadata periode November 2020, 76% masyarakat Indonesia cenderung memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi yang paling mudah diakses. Media sosial menggeser pemanfaatan media massa seperti koran, televisi dan radio.

Durasi pemanfaatan internet berdasarkan survei pada 2021, media sosial merupakan platform yang paling lama diakses, yakni rata-rata 2,5 jam per hari. Disusul media daring yang berada pada urutan kedua yang hanya dikonsumsi 1,4 jam saja. Ini artinya, secara targeting, media sosial merupakan sarana paling tepat untuk mentransfer pesan-pesan bisnis ke khalayak.

Dalam mempengaruhi publik, selain pemilihan media, perusahaan dalam penyampaian pesan juga harus memperhatikan beberapa hal agar pesan yang diterima publik tidak menjadi kesalahpahaman. Derasnya arus informasi di era post truth membuat informasi di media sosial jadi jauh lebih riuh dan bising. Informasi bisa saja menggelinding secara liar.

Informasi yang beredar di platform media sosial bisa bermutasi dan beranak pinak serta bergerak secara cepat. Perusahaan melalui officer perlu melakukan pemantauan agar arus ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan tersendiri kemungkinan menciptakan kebohongan-kebohongan terstruktur. Memutarbalikkan pesan yang disampaikan yang pada akhirnya membuat publik lebih mempercayai kebohongan tersebut sebagai sebuah kebenaran pesan yang perusahan sampaikan. Lagi-lagi ini perlu pengawasan ketat.

Mengimplementasikan teknologi dalam komunikasi juga perlu. Karena serapan informasi tak lagi konvensional seperti dulu tapi berbasis digitalisasi, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sudah penting pelibatannya. Bukan hanya sekadar membantu menciptakan konten-konten pesan, AI juga membantu untuk mengukur sejauh mana penyampaian pesan ke khalayak, kepuasan serta melakukan pemetaan hingga menghadirkan big data sebagai referensi dalam merencanakan strategi-strategi yang lebih tepat sasarannya.

Bauran mobilisasi daring 

Guna menjadikan pesan bisnis, ide termasuk opini dapat diterima dengan baik oleh khalayak sekaligus melibatkannya dalam program, dapat menggunakan bauran mobilisasi daring yang disebut SHARE. Rhenald Kasali dalam #MO (2019), SHARE merupakan singkatan dari Story, Hype, Actionable Relevant & Emotional.

Mobilisasi dapat digerakkan secara daring dengan adanya sesuatu yang bisa diangkat menjadi sebuah narasi yang kuat. Sebuah narasi yang baik akan menciptakan partisipasi aktif. Connected society senang berbagi pengalaman dan mudah terkoneksi dalam platform media sosial.

Narasi yang keren adalah mampu mengendarai arus/Hype (ridding the stream) dengan memanfaatkan isu yang tengah berkembang atau tengah menjadi perhatian publik. Misalnya, di tengah kampanye global dalam upaya penyelamatan lingkungan, arus ini bisa ditunggangi dengan seruan penggunaan produk BBM yang lebih ramah lingkungan seperti pertamax atau dexlite.

Di tengah isu perbandingan harga dan kualitas BBM yang mungkin informasi masih abu-abu di masyarakat luas, khalayak lebih mudah memahami keduanya sebagai variabel sebab akibat. Singkatnya, dengan menggunakan dua bahan bakar jenis tersebut masyarakat telah berpartisipasi dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Korporasi yang memanfaatkan metode SHARE, selain mentransfer pesan bisnis, juga dengan mudah menggerakkan sekaligus melibatkan partisipasi publik. Officer perusahaan juga perlu merancang narasi yang mengajak publik untuk melibatkan produknya atau dengan kata lain, memberi ruang agar pesan yang persuasif lebih dipertajam oleh warganet atau publik.

Narasi yang diciptakan harus relevan dengan kondisi masyarakat dan dapat menyentuh aspek emosional. Pesan-pesan bisnis akan semakin kuat mempengaruhi jika mengandung unsur-unsur humanis. Bagaimana misalnya nasib anak cucu kita nanti jika volume intensitas polusi udara terus meningkat karena banyak kendaraan masih mengonsumsi BBM yang memiliki oktan rendah.

Pencemaran udara juga berdampak buruk terhadap kesehatan. Penyakit kronis pun mengintai. Seperti akumulasi polutan yang masuk ke tubuh akan memengaruhi metabolisme tubuh. Jika tidak segara ditangani, tidak hanya ancaman gangguan pernapasan seperti ISPA yang mengintai, tapi juga tangkaian penyakit turunan yang berpotensi besar menyerang masyarakat dengan kualitas udara buruk seperti paru, jantung, tekanan darah, termasuk stroke.

Nah, dengan membangun narasi-narasi yang dapat membuat orang menjadi terbawa perasaan (baper), narasi akan dengan cepat tersebar yang juga turut andil dalam mempengaruhi publik. Bagai efek domino, publik yang tersentuh emosionalnya karena kekhawatiran ancaman polusi udara akan bergerak dan berpartisipasi menggunakan produk ramah lingkungan. Catatan penting dalam komunikasi bisnis di era post truth, diperlukan kolaborasi, resources, algoritma serta keterlibatan tokoh.

Baca Juga

Dok pribadi

Selamat Hari Raya Baha'i, Sebuah Tanggapan

👤Wildan Hasan, Guru Ngaji 🕔Senin 02 Agustus 2021, 00:05 WIB
Jadi Baha'i secara hukum di Indonesia adalah organisasi bukan agama. Apa yang dilakukan UK dengan menyebut Baha'i sebagai agama...
Dok. Pribadi

Setia pada Cita-Cita Awal, Bergandeng Tangan Memelihara Perdamaian

👤Kolonel Senior Chen Yongjing Atase Pertahanan Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 05:05 WIB
SATU Agustus 2021 bertepatan dengan peringatan 94 tahun berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat...
Dok. Pribadi

Mengampanyekan Islam Indonesia ke Dunia, Tantangan dan Momentumnya

👤Muhamad Rosyid Jazuli Pengurus PCINU United Kingdom, Analis kebijakan publik di Paramadina Public Policy Institute (PPPI) dan studi doktoral di University College London 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 05:00 WIB
MESKI berada jauh dari episentrum dan lahirnya Islam, Indonesia menjadi tuan rumah umat muslim terbesar di dunia. Sekitar 13% penduduk...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Eksistensial

 Laporan SIGAR menggarisbawahi kekhawatiran pasukan Afghanistan tidak siap untuk melakukan pertahanan yang berarti

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya