Jumat 26 Maret 2021, 10:40 WIB

Noken, Sumbangan Papua untuk Nusantara

Mathius Awoitauw ,Bupati Jayapura Papua | Opini
Noken, Sumbangan Papua untuk Nusantara

Dok. Pribadi
Bupati Jayapura Papua Mathius Awoitauw

 SEBAGAIMANA orang Yogya, suka mendengungkan 'dari Yogya untuk Indonesia', yaitu nilai-nilai toleransi dalam keberagaman dan kebinekaan, kini tibalah saatnya orang Papua mendengungkan: 'dari Papua untuk Nusantara'.
   Semboyan dari Yogya itu populer sekitar 10 tahun yang lalu. Jika dilacak, semboyan ini bermuasal pada sejarah panjang kontribusi Yogyakarta, keraton dan rakyatnya, terhadap perjuangan kemerdekaan dan pergerakan nasional Indonesia (Kurniawan, Widijanto dan Khoiri, 2013 di Kompas.com). Kota Yogyakarta, juga meneguhkan diri sebagai 'Kota Toleran' pada tahun 2003. Susabun dalam tulisannya di Kumparan.com, menyebut 'Dari Yogyakarta, niscaya kita bisa membangun Indonesia yang toleran terhadap pluralisme identitas'.
   Itu yang dari Yogya. Bagaimana dengan yang dari Papua? Mungkinkah saat ini 'ada inspirasi yang penting datang dari Papua untuk Indonesia?'. Padahal, rasanya sarat stigma buruk tentang Papua. Tampaknya, di alam pikiran publik Papua identik dengan wilayah tertinggal, kemiskinan, konflik dan kekerasan. Juga, sejarah Papua adalah sejarah penyatuan dan perlakuan yang berbeda, penaklukan alam dan masyarakat adatnya.
    Oleh karena itu, pantas bila pada umumnya, kita tidak bisa membayangkan adanya sebuah sumbangan inspirasi penting dari Papua. Tetapi, ada dan kini adalah saatnya. Noken adalah sumbangan dari Papua untuk Nusantara. Sumbangan ini sangat penting, berharga, dan relevan dengan tantangan akhir-akhir ini di seluruh Nusantara.
   Bagi Indonesia, bahkan dunia zaman sekarang, sumbangan ini akan lebih berharga dan diperlukan dibanding sumbangan lain, berupa benda-benda yang nampak, dan bisa dihitung dari Papua selama ini. Noken ini, lebih berharga daripada emas, dan tembaga di Pegunungan Jayawijaya. Lebih berharga, dari hutan-hutan dengan berbagai sumberdaya dan fungsi penjaga iklim dunia. Bahkan, juga akan lebih berharga daripada misalnya beras, dan bahan pangan kalau rencana food estate jadi dibuat dan berhasil di Papua.      

Baca juga: Dunia Islam dan Uighur
   Bencana pandemi covid-19, krisis sosial-politik-ekonomi, dan perubahan iklim sedang melanda Indonesia dan dunia saat ini. Berbagai krisis zaman tersebut, hanya bisa diatasi dengan tindakan serentak dan kolektif, dengan kerja sama seluruh warga dan bangsa.
   Sangat nyata, bahwa untuk menekan penularan covid-19 dan memunculkan herd community, setiap dan semua orang harus memakai masker, menjaga jarak, melakukan isolasi dan pembatasan gerak, dan sebagian besar dari total populasi harus sama-sama bersedia divaksinasi. Bukan sebaliknya, seperti yang kini terjadi dimana justru orang-orang dan negara-negara bergerak sendiri-sendiri, adu kuat dalam persaingan dan perebutan akses serta stok vaksin.
   Zaman ini, juga ditandai munculnya ke permukaan rasisme, fasisme, otorianisme yang ditandai dengan konflik, kekerasan, diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, dan perbedaan kemampuan (difabilitas), dan penguasaan paksa atas sumberdaya.
   Sementara itu, menangani krisis iklim global mensyaratkan setiap warga dan bangsa bersepakat, dan melakukan peran masing-masing, untuk menekan emisi gas rumah kaca, serta membangun sistem kehidupan baru yang rendah karbon dan ramah terhadap alam.
   Untuk berbagai krisis nasional dan global itulah, sumbangan dari Papua kini ditawarkan, yaitu noken dengan filosofinya.

Filosofi noken

Noken yang khas Papua ini, diakui sebagai warisan dunia sejak tahun 2012. Dunia mengakui bahwa 'selain dari fungsi sehari-hari, noken memiliki fungsi sosial, budaya dan ekonomi. Noken adalah identitas sosial komunitas adat di Papua, Noken menyatukan komunitas-komunitas adat di Papua'.
    Sebagai produk kerajinan tangan, noken berbentuk jaring rajutan atau tas anyaman terbuat dari serat kayu atau daun. Laki-laki dan perempuan menggunakannya untuk membawa berbagai barang, termasuk umbi-umbian, hewan piaraan atau buruan, kayu bakar. Selain itu, untuk berbelanja dan menyimpan barang-barang di rumah, bahkan, juga untuk membawa bayi atau anak yang masih kecil.
   Namun, noken bukan hanya tas anyaman untuk berbagai guna, akan tetapi juga filosofi. Filosofi noken itu, secara singkat adalah kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, keberdayagunaan, keterbukaan, dan pemelihara ruang kehidupan.
   Bentuk, fungsi, dan filosofi noken, adalah serupa rahim yang penuh kasih, memelihara, melindungi, dan memberi nutrisi, gizi dan cinta, merajut hubungan dan solidaritas, melahirkan serta merawat kehidupan.
    Dengan simpul hidup pada setiap titik pertemuan utasnya, kualitas utama noken adalah kelenturan. Tetapi, justru itulah sebab noken menjadi kuat.
    Noken yang transparan menunjukkan keterbukaan, kejujuran, penerimaan, pengetahuan dan pembelajaran. Noken adalah kekayaan, jati diri, dan pemelihara ruang kehidupan itu sendiri.

Gerakan menoken

Filosofi noken itulah sumbangan Papua. Kini saatnya Indonesia membuka diri dan menerima sumbangan paling berharga itu. Bulan ini menjadi momentum memberi dan menerima, karena masyarakat adat di Papua dan seluruh masyarakat adat Nusantara merayakan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara, 17 Maret 2021, dengan noken sebagai sumbangannya untuk Indonesia dan dunia.
   Filosofi noken itulah, yang saat ini paling diperlukan untuk hadir di Indonesia, bahkan dunia, yang sedang mengalami pandemi, perubahan iklim, terkoyak-koyak oleh polarisasi atas nama agama, ras, kelas, dan kepentingan politik, ekonomi.
   Inilah zaman, dimana Indonesia, bahkan dunia, perlu meletakkan filosofi noken, supaya mendasari berbagai upaya, kebijakan dan tindakan sehari-hari, untuk keluar dari multi-krisis dan kembali utuh dalam membangun kehidupan.
   Sebagaimana ajakan dari Yogya untuk toleransi dalam keberagaman, Papua hari ini mengajak keluarga besar bernama Indonesia untuk melakukan gerakan menoken, yang dalam kerahiman yang lentur. Sekaligus kuat, dengan keterbukaan, merajut solidaritas, dan memelihara kehidupan.

Baca Juga

Dok pribadi

Pajak Sembako dan Kegagalan Program Stunting

👤Muhammad Nalar Al Khair, Peneliti SIGMAPHI, Staf Ahli PKP Berdikari Bidang Ekonomi dan UMKM 🕔Selasa 22 Juni 2021, 21:20 WIB
Penurunan rasio penerimaan perpajakan tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah untuk meningkatkan tarif pajak untuk menambah penerimaan pajak...
Dok. MI

Otsus Papua, Mau ke Mana?

👤Ketua Tim Papua dan Wakil Ketua Komnas HAM Amiruddin al-Rahab 🕔Selasa 22 Juni 2021, 05:20 WIB
STATUS otonomi khusus bagi Papua telah berjalan 20...
Dok. MI

Biopolitik dan Ihwal Identitas

👤Asep Salahudin Rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat 🕔Selasa 22 Juni 2021, 05:00 WIB
TENTU saja berbeda antara identitas politik (political identity) dengan politik identitas (political of...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya