Kamis 05 November 2020, 03:05 WIB

Ki Seno Nugroho Tancep Kayon

Margana Wiratma Pengamat Way | Opini
Ki Seno Nugroho Tancep Kayon

Dok. Pribadi

 

BERITA duka datang dari Sedayu, Yogyakarta. Dalang kondang Ki Seno Nugroho meninggal dunia pada Selasa (3/11/2020) dalam usia 48 tahun. Para penggemarnya kaget dan merasa kehilangan. Seorang seniman besar yang lagi menapaki puncak ketenarannya telah pergi. Dia dikenal sebagai dalang asli Yogyakarta yang mampu memadukan pementasan wayang kulit gaya atau gagrak Solo dan Yogyakarta.

Dalang Seno, yang lahir pada 23 Agustus 1972, dikenal mampu memuaskan penonton dengan bahasanya yang sederhana, populer, mudah dipahami anak muda, dan penuh humor. Ia juga disebut sebagai dalang serbabisa. Bahkan, boleh dibilang, Seno ialah satu-satunya dalang yang mampu memadukan kelebihan dan keunikan dari dalang-dalang kondang lainnya.

Ia memiliki ketangkasan dalam memainkan wayang (sabetan) dengan berbagai gerak akrobatik dalam peperangan, seperti Ki Mantep Sudarsono. Seno juga menguasai lagu-lagu (gending) dengan suaranya yang nyaris sempurna, seperti Ki Narto Sabdo.

Sinden atau penyanyi pengiring pertunjukan, berada di bawah kendalinya. Ia sering memuji sinden yang berani menampilkan gaya khas atau cengkok tertentu dalam membawakan lagu. Namun, ia juga suka mengkritik atau mengajari mereka apabila lagu yang dibawakan tidak sesuai.

Dalang Seno bisa menampilkan pakem atau standar pedalangan khas Yogyakarta. Dalang Yogya yang taat pakem seperti ayahnya, Ki Suparman Cermowiyoto atau Ki Timbul Hadiprayitno, memainkan wayang dengan mengikuti segmen, seperti Jejer (sidang raja dan para menterinya), Bodholan (keberangkatan pasukan untuk berperang), Perang Gagal (perang pertama, belum ada pemenangnya), Gara-Gara (tampilnya punakawan, lawak), Perang Kembang (perang satria dengan raksasa).

Namun, ia juga bisa membuat plot cerita yang tidak mengikuti pakem seperti biasanya dilakukan dalang gagrak Solo.

Dalang Sudarman Darsono dari Sragen, misalnya, pada 1960-an sudah memperkenalkan pentas dengan perang sebagai pembuka. Setelah itu, disusunlah cerita flash back. Gaya ini sering dilakukan Seno. Ia, misalnya, menampilkan Gara-Gara di segmen kedua atau dari awal, terutama kalau para punakawan memegang pemeran utama dalam cerita.

Dalam hal antawecana atau narasi, ia mampu menyajikan berbagai warna suara yang berbeda, sesuai karakter tokoh wayang. Selain itu, ia juga mampu mengurai cerita dengan kosakata runtut, berbobot, dengan gaya sastra tinggi. Pemerhati wayang akan langsung tahu bahwa gaya antawecana Seno mirip Ki Anom Suroto dari Semarang

Ki Seno mulai mendalang sejak usia 15 tahun. Saat ini, boleh dibilang sudah mencapai puncak kariernya sebagai dalang. Jutaan penggemarnya tersebar di seluruh dunia karena ia merilis ratusan episode atau lakon wayang. Di masa pandemi covid-19, hampir setiap hari naik panggung secara climen (tanpa penonton khalayak) yang disiarkan lewat live streaming.

Kelebihan lain yang dimiliki Seno ialah kreativitasnya dalam membuat cerita. Ia bisa memangkas beberapa adegan dan diganti dengan adegan lain yang menarik. Bahkan, selingan seperti Limbukan dan Gara-Gara, menjadi magnet khusus untuk menarik gairah penonton agar mereka tetap mengikuti pementasan. Seperti pentas wayang gaya Solo dan Semarang, Limbukan dan Gara-Gara menjadi pentas teater yang mengasyikkan. Selain lagu atau gending dari pesinden, sering pula disajikan penampilan pelawak dan tarian di depan pakeliran.

Di masa pandemi ini, dalang Seno justru nyaris tidak pernah istirahat. Hampir setiap hari mendalang untuk disiarkan lewat platform live streaming. Pentas wayang climen biasanya atas pesanan pihak tertentu. Ia bisa merangkai cerita sesuai permintaan pemesan atau sponsor.

Bahkan, sering ia menyampaikan pesan-pesan. Misalnya, Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, 27 Oktober 2020, meminta Seno mendalang dengan lakon Sirnaning Pedhut Ngamarto (Lenyapnya Kabut di Negeri Amarta) untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Ia mengemas cerita dengan apik. Salah satu ciri Seno ialah menampilkan punakawan mendapat peran penting dalam cerita. Punakawan ialah sosok abdi, rakyat jelata, miskin. Untuk menyingkirkan perusuh, Seno memakai Semar dan anak-anaknya (Gareng, Petruk, Bagong). Anak-anak Semar menangkap sang provokator kerusuhan, Durna, dari negeri lawan Astina.

Pentas terakhir digelar 2 November 2020 dengan lakon Pendawa Bangkit. Acara itu disponsori Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Lagi-lagi rakyat biasa, Semar dan anak-anaknya, bertugas membangkitkan kepercayaan Pandawa untuk berani memprotes dan melawan para dewa yang dikelabui kaum angkara murka, yang berniat melumpuhkan kekuatan kerajaan Amarta. Dewa akan menjebloskan Bima ke neraka (kawah Candradimuka).

Tokoh punakawan, dalam lakon Seno, bukan sekadar abdi atau pembantu. Semar ialah dewa yang menjelma menjadi manusia dalam rupa abdi. Biar pun pembantu mereka, dalam lakon Semar Mbangun Jiwo, Semar menjadi brahmana yang mengajarkan moralitas adiluhung. Orang yang ingin selamat dan bahagia, harus mendapat pengajaran dari seorang abdi, Semar.

Dalam pementasan climen 1 November 2020 dalam rangka 90 tahun Paroki Santo Petrus Pekalongan itu, Seno menampilkan Semar sebagai seorang guru. Para penguasa dari Pandawa datang berguru untuk mendengarkan sabda bahagia dari Semar di padepokannya. Seno (Semar) mengajar penontonnya, dengan menjelaskan dan bagaimana melaksanakan Sepuluh Perintah Allah dari Alkitab Perjanjian Lama.

Dalang Seno tidak hanya dikenal tampil di depan penontonnya dari berbagai daerah, ia juga merilis video yang disiarkan lewat Youtube. Video dalam format lakon lengkap berdurasi antara 3-4 jam.

Selain itu, ia juga merilis petikan cerita yang dikemas sekitar 30-50 menit. Biasanya berupa cerita lucu. Seno memang dikenal sebagai dalang yang pintar menyajikan kelucuan. Kini, lakon Ki Seno sebagai seniman besar dengan jutaan penggemar sudah tancep kayon. Ia bukan sekadar dikenang. Ia meninggalkan karya-karyanya yang bisa dinikmati setiap saat.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Pendidikan dan Ketenangan Jiwa

👤Ratno Lukito Dewan Pengawas Yayasan Sukma dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 🕔Senin 27 Juni 2022, 05:05 WIB
‘ADA semacam ketenangan dalam cinta yang hampir seperti surga’ (Alain...
MI/Ebet

Nama Jalan

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 26 Juni 2022, 05:00 WIB
Peradaban suatu kota tidak hanya dapat dilihat dari aneka kuliner atau bentuk keseniannya, tapi juga dapat ditelusuri dari nama-nama...
MI/Duta

Nasib Awak Kapal di PP Nomor 22 Tahun 2022

👤Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 05:05 WIB
PEMERINTAH telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2022 tentang Penempatan dan Pelindungan Awak Kapal Niaga Migran dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya