Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Di Mana Gereja Katolik selama Covid-19?

Marianus M Tapung & Marsel R Payong Relawan Posko ‘Omnia in Caritate’ Keuskupan Ruteng, Flores, NTT
18/7/2020 05:55
Di Mana Gereja Katolik selama Covid-19?
Marianus M Tapung(ist)

JUDUL opini ini merupakan derivasi dari judul artikel Jabin J Deguma (2020), Where is the Church in the Time of Covid-19 Pandemic: Preferring the Poor via G Gutierrez’ Liberation and the Catholic
Church’s Social Teaching in the Philippine Setting, di The Journal of social and political studies.

Artikel ini menarasikan posisi penting gereja Katolik pada masa pandemi ini ketika bertolak dari gagasan dan semangat pelayanan kristiani mengenai keberpihakan pada orang miskin, telantar, sakit, dan rentan.

Deguma membuat pengandaian kritis, apabila benar semangat pelayanan kristiani ada pada gereja sebagai lembaga sosial religius, pandemi ini merupakan momentum yang tetap untuk mengontekstualisasikannya. Gagasan dan semangat untuk melayani orang-orang miskin, telantar, sakit, dan rentan pada masa pandemi ini, justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa gereja sebagai lembaga sosial religius tidak saja hadir mewartakan keselamatan yang akan datang (eskatologis), tapi juga berani menawarkan keselamatan ‘sekarang’ dan
‘di sini’ (hic et nunc).

Pengandaian kritis Deguma ini, mendapat penegasannya oleh Aina R (2017) dalam artikel Populorum Progressio’s Vision in an Unequal World: A Theological Ethical Evaluation from the Global South pada Journal of Moral Theology. Aina menyebutkan, teologis etis yang dikumandangkan dalam ensiklik Populorum Progressio (perkembangan bangsa-bangsa) karya Paus Paulus VI, sebenarnya merupakan hasil dari evaluasi terhadap gagasan besar option for the poor.

Dalam konteks pandemi, evaluasi ini sangat relevan, dibutuhkan, dan semakin ditantang ketika cukup banyak masyarakat yang tidak diuntungkan, baik secara sosiohigienis, sosiopsikologis, sosiokultural, sosioekonomis, maupun sosiopolitik kebijakan.

Kerentanan akan daya tahan tubuh (imunitas), indeks kebahagian yang menurun, relasi sosial yang tidak normal akibat jaga jarak fi sik dan sosial, rendahnya produktivitas karena aturan pembatasan sosial, dan kebijakan politik yang tidak berpihak. Hal tersebut merupakan situasi yang tidak cukup menguntungkan sejumlah masyarakat yang miskin, sakit, dan telantar. Padahal, sejumlah masyarakat seperti ini perlu mendapat perhatian lebih banyak dari para pihak, termasuk lembaga gereja.

Pilihan untuk berpihak pada kaum miskin (option for the poor), telantar, dan kelompok rentan bukanlah konsep asing dalam pemikiran sosial Katolik. Paus Yohanes XXIII telah mendeklarasikan bahwa
takhta apostolik telah berani keluar untuk membela kepentingan duniawi kaum miskin, telantar, dan kelompok rentan.

Sejarah pemikiran sosial, solidaritas, dan komitmen yang kuat dari gereja Katolik terhadap permasalahan sosial kemanusiaan sudah tertoreh jelas dalam sejarah munculnya Ajaran Sosial Gereja (ASG). ASG Rerum Novarum Leo XIII yang menginspirasi lahirnya berbagai ensiklik dari paus-paus berikutnya, selalu membahas topik-topik yang berkaitan dengan dimensi keterpurukan
manusia di zaman ini.

Paul VI dalam Populorum Progressio menyerukan langkah-langkah internasional yang terkoordinasi untuk meringankan seluruh negara dari masalah kemiskinan dan ketelantaran. Perasaan kolektif
yang apatis dan tidak peduli terhadap sesama yang menderita, telah dikutuk Paul VI sebagai ‘penyakit dunia’.

Paul VI mengatakan bahwa dunia sakit dengan penyakit karena kurangnya persaudaraan dan kepeduliaan personal-sosial di antara individu dan masyarakat (Aina, 2017). Untuk itu, harus ada kebangkitan kembali rasa kasih sayang dan empati kristiani terhadap orang miskin, telantar, dan kaum rentan. Tidak cukup hanya mengakui fakta dan keberadaan kemiskinan yang ada di sekitar lingkungan. Namun, lebih penting ialah bertindak untuk memberi bantuan dan pelayanan sosial yang nyata.

Tanggung jawab moral

Sebagai lembaga sosial religius, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng Flores, NTT, tidak menutup mata pada permasalahan umat pada situasi pandemi covid-19. Pandemi covid-19 merupakan bencana nonalam yang turut berdampak pada kehidupan lokal umat di Keuskupan Ruteng. Merespons pandemi ini, pada 21 Maret 2020, Uskup Siprianus Hormat mengeluarkan Instruksi Pastoral No 001/I.1/III/2020 tentang penanganan covid-19 di wilayah Gereja Keuskupan Ruteng.

Bertolak dari kepedulian dan tanggung jawab moral sosial kemanusiaan serta melaksanakan Instruksi Pastoral Uskup Ruteng ini, pada 20 Maret 2020 dibentuklah posko tanggap covid-19 , Omnia In Caritate (lakukan semua dalam kasih). Semangat dasar pendirian posko Omnia in Caritate, pertama, membantu penanganan dan pencegahan covid-19 dengan melakukan promosi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat kelompok rentan dan berisiko.

Dengan adanya promosi dan edukasi kesehatan, kelompok ini memiliki kesadaran higienis dalam memelihara dan menjaga kondisi tubuhnya selama masa pandemi ini, masa new normal, dan masa mendatang. Mereka disadarkan untuk mengikuti protokol kesehatan: menjaga jarak fi sik, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan memakai masker di tempat umum.

Kedua, memberi bantuan sosial dalam bentuk sembako, vitamin, dan alat pelindung (masker) kepada kelompok rentan (vulnerable groups) yang ada di wilayah Manggarai Raya. Kelompok rentan, seperti orang jompo/lanjut usia, difa bel, anak telantar, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) merupakan kelompok yang secara fi siologis dan psikologis sangat berisiko dengan adanya wabah covid-19.

Pada umumnya, kelompok rentan ini memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid) yang justru gampang terpapar virus korona (Yang, 2020). Dengan bantuan ini, kelompok rentan memiliki asupan gizi
yang cukup selama masa pandemi. Asupan gizi yang cukup akan sangat membantu mempertahankan imunitas fisik, kelangsungan kebutuhan ekonomi, serta menjaga kesehatan tubuh. Bantuan sosial ini diberikan dalam bentuk sembilan bahan pokok (sembako), seperti beras, minyak goreng, telur, gula, sabun, kacang hijau, susu, dan vitamin, serta masker.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya