Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMITE Olimpiade Internasional (IOC) resmi mengumumkan kebijakan baru terkait standarisasi kelayakan atlet di kategori perempuan. Kebijakan ini menetapkan skrining gen Sex-determining Region Y (SRY) sebagai indikator utama untuk menentukan partisipasi atlet di kelas putri.
Presiden IOC, Kirsty Coventry, menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjamin sportivitas dan keamanan bagi seluruh peserta.
"Kebijakan yang telah kami umumkan didasarkan pada sains dan telah dipimpin oleh para ahli medis," ujar Kirsty Coventry melalui laman resmi IOC, dikutip Minggu (29/3).
Kelayakan atlet perempuan kini ditentukan melalui deteksi keberadaan gen SRY.
Berdasarkan bukti ilmiah, IOC memandang gen ini sebagai bukti akurat bahwa seorang atlet telah mengalami perkembangan biologis laki-laki.
Proses pemeriksaan dilakukan melalui metode non-invasif seperti:
Atlet dengan hasil skrining negatif secara permanen dinyatakan layak berkompetisi di kategori putri. Sebaliknya, atlet dengan hasil skrining SRY positif, termasuk atlet transgender XY dan atlet XY-DSD yang sensitif terhadap androgen, tidak memenuhi syarat untuk kategori ini.
IOC memberikan pengecualian terbatas bagi atlet dengan diagnosis Complete Androgen Insensitivity Syndrome (CAIS) atau gangguan perkembangan seks (DSD) langka lainnya, selama terbukti tidak mendapatkan manfaat dari efek anabolik atau peningkatan performa testosteron.
Bagi atlet yang tidak lolos kriteria kategori perempuan, IOC tetap membuka ruang partisipasi di:
Sebagai mantan atlet, Kirsty Coventry menekankan pentingnya persaingan yang setara di level Olimpiade, ketika selisih performa sekecil apa pun sangat menentukan hasil akhir.
"Di Olimpiade, bahkan selisih terkecil pun dapat menjadi perbedaan antara kemenangan dan kekalahan. Tidak adil bagi laki-laki biologis untuk berkompetisi di kategori perempuan. Selain itu, dalam beberapa cabang olahraga, hal itu sama sekali tidak aman," tegas Kirsty.
Meskipun aturan diperketat, IOC menjamin bahwa setiap atlet akan diperlakukan dengan bermartabat.
Pemeriksaan genetik ini hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup, dibarengi dengan proses edukasi, konseling, serta pendampingan medis dari para ahli. (Ant/Z-1)
Komite Olimpiade Internasional (IOC) menuai kecaman setelah menjual kaos "Heritage Collection" bertema Olimpiade Berlin 1936 yang identik dengan propaganda Nazi.
Kirsty Coventry, salah satu petinggi IOC, menekankan pentingnya mengembalikan olahraga ke khitahnya sebagai ruang netral yang tidak terjamah oleh kepentingan politik praktis.
Tata kelola organisasi yang profesional dan pemenuhan standar global menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin melangkah lebih jauh di level internasional.
KOI menyampaikan secara terbuka dan diplomatis penjelasan mengenai situasi yang terjadi di Indonesia.
KOI memahami bahwa keputusan terkait penolakan visa terhadap atlet Israel membawa konsekuensi tersendiri dalam hubungan dengan IOC.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved