Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN pembalap Moto2 asal Indonesia, Doni Tata Pradita, melontarkan seruan penting bagi masa depan dunia balap tanah air. Ia menilai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah sangat mendesak membutuhkan sirkuit permanen untuk menunjang pembinaan rider muda yang kini mulai mendominasi panggung internasional.
Menurut Doni, potensi besar Yogyakarta dalam melahirkan talenta balap belum diimbangi dengan fasilitas latihan yang memadai.
“Kita bisa melahirkan banyak pembalap, tetapi belum punya sirkuit permanen. Mudah-mudahan ke depan ada fasilitas yang bisa mendukung pembalap di Yogyakarta,” ujar Doni dikutip dari Antara, Rau (25/3).
Seruan Doni ini bukan tanpa alasan. Yogyakarta baru saja mencatatkan sejarah melalui Veda Ega Pratama yang menjadi pembalap Indonesia pertama peraih podium Grand Prix setelah finis ketiga di Moto3 Brasil pekan lalu. Selain itu, Aldi Satya Mahendra juga sukses naik podium kedua pada seri pembuka World Supersport 2026 di Phillip Island, Australia.
Bahkan, pembalap sekelas Andi Farid Izdihar (Andi Gilang) yang pernah berlaga di Moto2 pun rutin mengasah kemampuannya di Yogyakarta.
“Di Jogja banyak sekolah balap. Ada sekolah balap punya orang tua Veda (Sudarmono), kemudian tempat saya juga, dan beberapa pelatih lain. Jadi kami sering latihan bareng, saling berbagi pengalaman,” lanjutnya.
Ironisnya, para calon juara dunia ini seringkali harus berlatih di lokasi seadanya akibat minimnya infrastruktur. Kawasan Stadion Mandala Krida hingga area Pasar Sapi menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
“Biasanya kami latihan bareng di Mandala Krida atau di area Pasar Sapi. Jadi memang lebih ke kebersamaan dan saling mendukung,” ungkap Doni.
Keterbatasan ini memaksa para pembalap memanfaatkan lahan parkir yang penggunaannya pun tidak menentu. “Kami kadang latihan di tempat parkir. Kalau ada acara atau konser ya tidak bisa dipakai. Jadi memang masih terbatas,” tambah Doni.
Meskipun pembalap seperti Veda dan Aldi kini lebih banyak menempa diri di Eropa, Doni menekankan bahwa fondasi latihan di tanah air tetap krusial. Perhatian pemerintah daerah dalam membangun sirkuit permanen dianggap sebagai kunci agar regenerasi tidak terputus, termasuk di cabang motocross seperti yang ditekuni Sheva Anella Ardiansyah.
“Jogja ini sebenarnya barometer pembalap Indonesia. Dengan segala keterbatasan saja bisa lahir pembalap internasional,” tegasnya.
Doni berharap Yogyakarta segera memiliki sirkuit permanen dengan standar internasional agar pembinaan atlet muda jauh lebih maksimal.
“Harapannya tentu Jogja bisa punya sirkuit. Supaya bisa melahirkan lebih banyak Veda baru dan pembalap Indonesia lainnya,” kata Doni. (Ant/P-4)
Kepercayaan diri Veda Ega Pratama untuk berprestasi di Moto3 AS meningkat pesat setelah berhasil meraih podium di GP Brasil, Minggu (22/3) lalu.
Simak profil dan perjalanan karier Veda Ega Pratama, pembalap Indonesia pertama yang sukses meraih podium di kejuaraan dunia Moto3 2026.
VEDA Ega Pratama mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix usai finis ketiga pada Moto3 Brasil 2026.
LAJU impresif pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, kembali membuahkan sejarah baru dalam kancah balap motor Moto3 dunia.
Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama sukses mengukir sejarah sebagai orang pertama yang naik podium Moto3.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved