Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Final Australia Terbuka 2026: Antara Keabadian Djokovic dan Revolusi Alcaraz

 Gana Buana
31/1/2026 14:54
Final Australia Terbuka 2026: Antara Keabadian Djokovic dan Revolusi Alcaraz
Novak Djokovic dan Carlos Alcaraz tidak sekadar memperebutkan trofi Australia Terbuka, Minggu (1/2).(AFP)

ROD Laver Arena akan menjadi ruang sidang sejarah pada Minggu (1/2). Novak Djokovic dan Carlos Alcaraz tidak sekadar memperebutkan trofi Australia Terbuka, mereka sedang berdebat tentang siapa pemilik era tenis dunia.

Bagi Djokovic, final ini adalah perlawanan terakhir melawan waktu. Di usia 38 tahun, legenda Serbia itu mengincar gelar Australia Terbuka ke-11 sekaligus Grand Slam ke-25, sebuah angka yang akan menempatkannya sendirian di puncak sejarah tenis, melampaui rekor Margaret Court.

Jika berhasil, Djokovic juga akan menorehkan status baru: juara Australia Terbuka tertua sepanjang era Open, sebuah tamparan telak bagi narasi bahwa dominasinya telah habis dimakan usia.

Namun di seberang net berdiri ancaman yang sangat nyata. Carlos Alcaraz, 22 tahun, datang bukan sebagai penantang biasa. Petenis nomor satu dunia itu membawa ambisi untuk mencuri masa depan lebih cepat dari jadwal, menjadi pria termuda yang menuntaskan Career Grand Slam, melampaui rekor Rafael Nadal.

“Setiap kali saya bertemu Carlos, sejarah selalu ikut bertanding,” ujar Djokovic kepada AFP. “Tekanan final Grand Slam itu besar, tapi tidak mengubah cara saya bermain.”

Perjalanan menuju final memperlihatkan harga mahal yang harus dibayar keduanya. Djokovic memeras sisa energinya selama 4 jam 9 menit untuk menyingkirkan juara bertahan Jannik Sinner, laga yang memutus rentetan kekalahannya dengan memanfaatkan 16 dari 18 break point. Sebuah kemenangan yang terasa seperti deklarasi: Djokovic belum selesai.

Alcaraz bahkan harus melampaui batas tubuhnya sendiri. Duel 5 jam 27 menit melawan Alexander Zverev tercatat sebagai semifinal terlama dalam sejarah Australia Terbuka. Ia menang, tapi meninggalkan tanda tanya besar soal pemulihan setelah sempat dilanda kram hebat.

“Saya benci menyerah,” kata Alcaraz. “Menjadi yang termuda melengkapi Grand Slam adalah target utama saya tahun ini.”

Final ini juga menjadi panggung pembuktian bagi Djokovic terhadap para pengkritik yang sejak 2023 menunggu kejatuhannya. Sejak dominasi berpindah ke tangan Sinner dan Alcaraz, suara-suara pensiun kian nyaring.

“Banyak ‘pakar’ ingin saya berhenti,” ujar Djokovic. “Saya berterima kasih, mereka memberi saya bahan bakar.”

Rekor pertemuan mencerminkan betapa tipis jarak dua era ini: Djokovic unggul 5-4. Alcaraz memang menang di pertemuan terakhir di AS Terbuka, tetapi Djokovic membalasnya di Australia Terbuka 2025. Kini, skor itu siap ditulis ulang,dengan tinta sejarah.

Minggu nanti, satu hal pasti: yang menang bukan hanya membawa pulang trofi, tetapi juga klaim atas masa lalu atau masa depan tenis dunia. (AFP/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya