Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Holly Victoria Halim Ungkap Pertarungan Mental Melawan Driver Yips

Dhika Kusuma Winata
29/1/2026 18:17
Holly Victoria Halim Ungkap Pertarungan Mental Melawan Driver Yips
Caption: Pegolf profesional putri Indonesia, Holly Victoria Halim(Doc IWO 2026)

BAGI Holly Victoria Halim, golf bukan semata soal pukulan dan skor. Ada masa ketika olahraga ini berubah menjadi pertarungan batin. Selama enam bulan pada 2025 lalu, pegolf profesional putri Indonesia itu harus menghadapi driver yips yaitu gangguan yang membuat tangannya bergetar setiap kali berdiri di tee untuk memulai pukulan.

Holly dikenal sebagai pegolf profesional putri Indonesia pertama yang masuk Rolex Women’s World Golf Rankings alias jajaran 1.000 besar dunia. 

Sejumlah pencapaian lain pun telah dia raih termasuk tampil hingga babak final Australia Open dan Women’s China Open 2023 serta meraih medali perak SEA Games 2023 Kamboja.

Driver yips dikenal sebagai salah satu masalah yang sangat menganggu terlebih bagi pegolf profesional. Holly bercerita usaha melawannya. Pukulan yang biasanya menjadi kekuatan justru berubah menjadi sumber tekanan.

Setiap memegang driver, dia merasa kehilangan kendali. Tangannya gemetar, napas terasa berat, dan rasa percaya diri menghilang. Situasi itu diakuinya menjadi fase tersulit dalam perjalanan kariernya sejauh ini. 

"Menurut saya paling berat itu tahun lalu sempat ada sekitar 6 bulan saya problem driver yips. Jadi setiap kali pegang driver tangan saya bergetar dan saya enggak bisa napas," ucap Holly ditemui di sela jumpa pers ajang Indonesia Women's Open (IWO) 2026 di Damai Indah Golf BSD, Kamis (29/1).

Holly menyebut ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari ketidaksesuaian peralatan, pergantian pelatih, hingga gangguan teknik. Lambat laun, persoalan teknis itu menjalar ke mental dan memengaruhi permainannya secara keseluruhan.

Mengakui kondisi tersebut bukan hal mudah. Namun, Holly memilih jujur pada dirinya sendiri. Pegolf berusia 20 tahun itu memutuskan untuk membangun kembali permainannya dari dasar.

Tekniknya dilatih ulang, peralatan disesuaikan kembali, dan komunikasi dengan pelatih diperbaiki. Semua dilakukan perlahan, tanpa target berlebihan.

Dari proses itu, Holly menemukan satu pegangan utama yang menghilangkan masalahnya. Dia memercayai proses belajar mencoba untuk tidak terpaku pada hasil akhir.

Fokusnya bergeser pada pengendalian emosi dan menjalankan yang telah dilatih, satu pukulan demi satu pukulan. Hasilnya pun nampak ketika dia finis T6 di turnamen CLPG Tour Championship 2025 di Tiongkok, Desember lalu.

"Saya merasa setelah melewati fase itu, saya menjadi lebih bisa menerima keadaan, baik ketika hasilnya bagus maupun saat tidak bagus. Jadi ketimbang fokus pada target posisi akhir tertentu, saya memilih untuk mempercayai proses. Dalam beberapa turnamen terakhir, hasilnya juga mulai membaik," tutur Holly.

Mental baru itulah yang kini dibawa Holly menatap turnamen Indonesia Women’s Open 2026. Turnamen ini menjadi panggung penting baginya apalagi digelar di Indonesia. Pada edisi 2025, Holly berhasil menembus posisi T6.

"Saya sangat bersyukur dengan kesempatan ini (tampil di IWO 2026) sebagai salah satu pengalaman saya, kesempatan saya untuk belajar dari pemain-pemain luar. Untuk menambah pengalaman bertanding saya dan untuk kemajuan saya juga," ucap Holly.

"Untuk target yang pasti saya ingin mencoba untuk bisa lebih maksimal lagi," ujarnya.

Soal lapangan, Holly menilai course BSD memiliki tantangan tersendiri, terutama di area green. Permukaan green yang licin dan menuntut presisi membuat pemain harus ekstra cermat. Meski fairway relatif lebar, kesalahan kecil tetap bisa berdampak besar pada skor.

Bagi Holly, Indonesia Women’s Open juga bukan sekadar ajang kompetisi. Turnamen ini menjadi ruang belajar bagi pegolf putri Indonesia untuk berkembang dan mengukur kemampuan. Dia berharap ajang seperti ini terus digelar agar golf putri nasional semakin maju dan memiliki panggung yang berkelanjutan.

"Ini salah satu kesempatan untuk kita atlet-atlet lokal, untuk bisa belajar dari pemain luar juga," tukasnya. (Dhk)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya