Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA bulu tangkis Tanah Air kembali diselimuti duka. Kurniahu Tjio Kay Kie, mantan atlet nasional era 80-an sekaligus ayahanda dari legenda ganda putra Marcus Fernaldi Gideon, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (29/1) dini hari pukul 06.49 WIB. Mendiang berpulang di usia 66 tahun.
Kabar ini dikonfirmasi langsung melalui pernyataan resmi Gideon Badminton Academy, klub yang didirikan almarhum bersama sang putra. Kepergian Kurniahu bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Gideon, tetapi juga bagi sejarah panjang olahraga tepok bulu Indonesia. Ia adalah sosok 'arsitek' diam yang menempa mentalitas baja seorang Marcus Gideon hingga sempat mendominasi dunia bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo.
| Nama Lengkap | Kurniahu Tjio Kay Kie |
| Lahir | Surabaya, Jawa Timur (Sekitar 1960) |
| Wafat | Jakarta, 29 Januari 2026 (Usia 66 Tahun) |
| Peringkat Tertinggi | Ranking 7 Dunia (Tunggal Putra, 1981) |
| Klub Asal | PB Tangkas |
Sebelum dikenal luas sebagai ayah dari Marcus, Kurniahu adalah atlet tunggal putra yang disegani pada masanya. Ia berkarier di era keemasan bulu tangkis Indonesia, satu generasi dengan nama-nama besar seperti Liem Swie King dan Rudy Hartono.
Meski sinar kebintangannya kerap tertutup oleh dominasi King, Kurniahu mencatatkan prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada tahun 1981, ia berhasil menembus peringkat 7 dunia sektor tunggal putra. Beberapa capaian internasionalnya antara lain:
Dalam sebuah wawancara lawas, Kurniahu kerap berkelakar dengan sang anak. "Saya ranking 7 dunia itu tunggal putra, saingannya lebih berat," candanya kepada Marcus yang mendominasi sektor ganda putra. Kelakar ini menunjukkan kedekatan sekaligus standar tinggi yang ia tanamkan.
Mungkin warisan terbesar Kurniahu bukanlah trofi yang ia raih sendiri, melainkan trofi yang diraih anaknya. Publik bulu tangkis tidak akan mengenal "The Minions" jika bukan karena intervensi Kurniahu pada momen kritis karier Marcus.
Saat Marcus memutuskan keluar dari Pelatnas Cipayung di usia muda karena merasa tidak berkembang, banyak yang mengira kariernya tamat. Namun, Kurniahu mengambil alih peran pelatih. Ia melatih Marcus secara privat dengan disiplin militer. Kurniahu membiayai sendiri keberangkatan Marcus ke berbagai turnamen internasional hingga sang anak berhasil membuktikan diri dan dipanggil kembali ke Pelatnas untuk kemudian dipasangkan dengan Kevin Sanjaya.
"Kalau latihan sama Papa, tidak ada istilah anak. Hubungannya murid dan guru. Sangat keras," ujar Marcus dalam biografinya. Ketegasan itulah yang membentuk mental petarung Marcus yang tak kenal menyerah di lapangan.
Setelah pensiun dari dunia profesional dan sukses mengantarkan anaknya ke puncak dunia, Kurniahu tidak berhenti mengabdi. Pada tahun 2021, ia bersama Marcus mendirikan Gideon Badminton Academy (GBA) di Bogor.
GBA dibangun dengan visi mencari dan memoles bibit-bibit muda yang mungkin terlewatkan oleh sistem konvensional, sama seperti pengalaman masa lalu Marcus. Hingga akhir hayatnya di tahun 2026 ini, Kurniahu masih aktif memantau perkembangan atlet-atlet muda di akademi tersebut.
Kepergian Kurniahu Tjio Kay Kie meninggalkan lubang besar. Namun, jejaknya abadi, terukir dalam sejarah prestasi bulu tangkis Indonesia dan ribuan anak muda yang kini berlatih di bawah naungan akademi yang ia rintis.
Selamat jalan, Om Kurniahu. Jasamu bagi Merah Putih tak akan pudar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved