Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
JACQUES Rogge, yang menjabat selama 12 tahun sebagai Presiden Komite Internasional Olimpiade (IOC), meninggal dunia di usia 79 tahun. Hal itu diumumkan IOC, Minggu (29/8).
"Dengan peniuh duka, IOC mengumumkan meninggalnya mantan presiden IOC Jacques Rogge. Dia meninggal dunia di usia 79 tahun," ungkap IOC dalam sebuah pernyataan resmi.
Rogge merupakan presiden kedelapan IOC, yang menjabat antara 2001 dan 2013, sebelum digantikan oleh Thomas Bach.
Baca juga: Jendi Pangabean Segera Memulai Perjuangan di Paralimpiade Tokyo 2020
"Yang pertama dan terutama, Jacques cinta olahraga dan senang menjadi atlet. Dia menularkan kecintaannya itu kepada semua orang yang mengenalnya. Rasa bahagianya saat berolahraga sangat menilar," ujar Bach, Minggu (29/8).
"Dia merupakan seorang presiden yang sukses, membantu memodernkan dan mengubah IOC. Dia juga pendukung kuat olahraga bersih dan tanpa kenal lelah melawan praktik doping."
"Sejak kami terpilih sebagai anggota IOC, kami berbagi persahabatan dan itu berlanjut hingga hari ini."
"Seluruh Gerakan Olimpiade berduka atas tewasnya seorang sahabat dan seorang pendukung olahraga," lanjutnya.
Rogge adalah seorang dokter bedah ortopedi yang juga memiliki gelar di kedokteran olahraga.
Dia juga bermain rugby di tingkat internasional dan membela timnas Belgia sebanyak 16 kali.
Dia juga merupakan atlet layar yang tiga kali ambil bagian di Olimpiade pada 1968, 1972, dan 1976.
Setelah kariernya sebagai olahragawan berakhir, Rogge menjadi Presiden Komite Olahraga Belgia dan Eropa sebelum terpilih sebagai Presiden IOC pada 2001.
Rogge menikah dengan Anne dan meninggalkan dua akan dan dua cucu. (AFP/OL-1)
Kirsty Coventry, salah satu petinggi IOC, menekankan pentingnya mengembalikan olahraga ke khitahnya sebagai ruang netral yang tidak terjamah oleh kepentingan politik praktis.
Tata kelola organisasi yang profesional dan pemenuhan standar global menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin melangkah lebih jauh di level internasional.
KOI menyampaikan secara terbuka dan diplomatis penjelasan mengenai situasi yang terjadi di Indonesia.
KOI memahami bahwa keputusan terkait penolakan visa terhadap atlet Israel membawa konsekuensi tersendiri dalam hubungan dengan IOC.
IOC mengeluarkan rekomendasi kepada federasi-federasi internasional untuk tidak menggelar kegiatan olahraga di Indonesia akibat pembatalan visa kontigen Israel di Kejuaraan Dunia Senam.
Kemenpora dan pemerintah tetap berkomitmen mempersiapkan blueprint pembangunan olahraga nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved