Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Ribuan Jemaat Rayakan Paskah di Gereja Efata Liliba

Palce Amalo
05/4/2026 16:15
Ribuan Jemaat Rayakan Paskah di Gereja Efata Liliba
Teatrikal Maria Magdalena dan Maria mendatangi Kubur Yesus Kristus, namun ia tidak ada di sana lagi karena telah bangkit(MI/PALCE AMALO)

IBADAH Hari Raya Paskah di Gereja Efata Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (5/4) berlangsung khidmat.

Ibadah yang dipimpin oleh Pendeta Oksi Pandie ini dihadiri ribuan jemaat yang memadati gereja sejak pagi hari.

Sebelum ibadah, jemaat terlebih dahulu mengikuti pawai obor sebagai bentuk sukacita menyambut Paskah. Pawai tersebut melibatkan orang tua, pemuda, serta anak-anak yang berjalan mengelilingi rayon sambil membawa obor. Suasana penuh kebersamaan dan semangat iman terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.

Selain itu, kegiatan pencarian telur Paskah juga digelar dan diikuti pemuda anak remaja (PAR). Kegiatan ini menjadi simbol sukacita kebangkitan Yesus Kristus sekaligus sarana mempererat kebersamaan antarjemaat, khususnya generasi muda.

Selain itu, ditampilkan juga teatrikal yang menggambarkan kisah Maria Magdalena dan Maria yang datang ke kubur Yesus pada hari Sabat. Namun, mereka tidak menemukan-Nya di sana. Tiba-tiba, seorang malaikat turun dari langit dan menyampaikan kabar sukacita: “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.”

Sementara itu, dalam khotbahnya, Pendeta Oksi Pandie menekankan makna Paskah sebagai momentum pembaruan hidup bagi setiap orang percaya. 

Ia mengutip Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus bahwa pembaruan hidup manusia terjadi karena kasih Allah melalui Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia.

“Kasih Kristus itulah yang seharusnya menguasai hidup kita. Apa yang kita lakukan, baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan sehari-hari, harus didorong oleh kasih Kristus, bukan untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, kebangkitan Kristus membawa perubahan mendasar dalam hati dan karakter manusia. Orang yang telah mengalami pembaruan tidak lagi hidup secara egois, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesama.

Pendeta Oksi menjelaskan banyak persoalan dalam kehidupan, dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat, berakar dari sikap mementingkan diri sendiri. Karena itu, Paskah menjadi panggilan untuk meninggalkan kehidupan lama dan beralih kepada hidup yang dipenuhi kasih.

“Orang yang telah diperbarui oleh Kristus tidak hanya mencari Tuhan pada momen tertentu seperti Natal atau Paskah, tetapi menghadirkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pendeta Oksi menyebutkan di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Artinya, masa lalu tidak lagi menjadi penghalang, karena melalui kematian dan kebangkitan Kristus, manusia dipulihkan dan diperdamaikan dengan Allah.

Tak hanya itu, jemaat juga diingatkan bahwa mereka dipanggil menjadi pembawa damai. Mereka yang telah menerima kasih dan pendamaian dari Kristus harus menghadirkan damai di tengah keluarga, gereja, tempat kerja, hingga masyarakat luas.

“Tidak masuk akal jika kita merayakan Paskah tetapi masih menyimpan kebencian. Kebangkitan Kristus memanggil kita untuk hidup dalam kasih dan menjadi pembawa damai di mana pun kita berada,” katanya.

Pendeta Oksi juga mengajak jemaat untuk merenungkan bagian hidup yang perlu diperbarui oleh Kristus, baik dalam motivasi, pikiran, maupun tindakan.“Paskah adalah bukti bahwa Allah memberikan kebaruan total bagi hidup kita. Karena itu, mari hidup sebagai manusia baru yang digerakkan oleh kasih Kristus,” ujarnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik