Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

1.230 Rumah dan 4.280 Jiwa Terdampak Banjir di Demak

Akhmad Safuan
05/4/2026 12:31
1.230 Rumah dan 4.280 Jiwa Terdampak Banjir di Demak
Kondisi Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak terhitung paling parah akibat terjangan banjir (BPBD)

BANJIR melanda Kabupaten Demak masih tinggi. Sebanyak 1.230 rumah terendam, 1.070 keluarga (4.280 jiwa) terdampak. Tanggul Sungai Tuntang yang jebol segera ditangani dengan penambalan secara darurat untuk mengatasi banjir yang merendam 4 kecamatan itu.

Pemantauan Media Indonesia, Minggu (5/4), banjir terjadi di 8 desa di 4 kecamatan yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam dan Kebonagung, Kabupaten Demak. Warga masih bertahan di pengungsian akibat banjir dengan ketinggian 1-1,5 meter masih merendam tempat tinggalnya setelah tanggul Sungai Tuntang Jebol di 3 titik.

Sampai saat ini tanggul yang jebol sepanjang 10-50 meter di Desa Trimulyo dan Sidorejo , Kecamatan Guntur, Demak masih terbuka. Kondisi itu membuat air dari Sungai Tuntang terus mengalir di pemukiman penduduk dan membanjiri rumah serta ratusan hektare sawah. Akibat banjir ini diperkirakan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.

"Berdasarkan data  1.230 rumah terendam banjir dan 1.070 kepala keluarga atau 4.280 jiwa terdampak," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak Agus Sukiyono Minggu (5/4).

Banjir yang terjadi sejak Jumat (3/4) siang akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang itu, lanjut Agus Sukiyono, merendam 8 desa. Kedelapan desa itu yakni Trimulyo, Sidoharjo, Turirejo, Sumberejo, Ploso, Lempuyang, Solowire dan Sarimulyo. Banjir ini juga merendam 10 fasilitas pendidikan dan 15 fasilitas ibadah.

Mengingat banjir terus meninggi dan meluas, ungkap Agus Sukiyono, tim gabungan dari BPBD, Polri, TNI, PMI, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan hingga relawan langsung bergerak melakukan evakuasi. Saat ini tercatat 2.839 warga masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian dan 2 orang ditemukan meninggal dunia.

Setelah proses evakuasi ini, menurut Agus Sukiyono, penanganan masalah banjir selanjutnya adalah pendistribusian bantuan logistik baik untuk warga di pengungsian maupun yang masih bertahan di rumah masing-masing. "Gubernur Jawa Tengah yang sempat meninjau menjamin kebutuhan dasar korban banjir," imbuhnya.

Penanganan Tanggul 

Dampak jebolnya tanggul Sungai Tuntang meningkatkan volume air. Ditambah lagi intensitas hujan tinggi di daerah hulu (Kabupaten Semarang) terus mengalir ke perkampungan dan pemukiman di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) tersebut.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Andi Sofyan mengatakan sampai saat ini pihaknya melakukan penanganan secara darurat. Mereka memasangkan pagar trucuk dan penimbunan tanah di lokasi jebol menggunakan alat berat yang segera didatangkan ke lokasi. "Kita tangani secara darurat dulu agar air sungai tidak masuk ke pemukiman penduduk, baru nanti kita perbaiki secara permanen," tambahnya.

Pada pembangunan permanen tanggul Sungai Tuntang ini, menurut Andi Sofyan, pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp50 miliar. Namun saat ini masih pada tahap proses lelang sehingga belum dapat langsung dikerjakan.

Tanggul Sungai Tuntang, demikian Andi Sofyan, tergolong cukup rawan. Pasalnya sebagian besar masih berupa tanah. Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, mengatakan penanganan banjir di Demak tidak dapat lagi bersifat darurat, karena tanggul Sungai Tuntang sebagai titik krusial yang harus dibenahi dari hulu hingga hilir. "Kami langsung gelar koordinasi dengan kementerian masalah penanganan banjir Demak secara komprehensif," Imbuhnya. (Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik